Short Story #121: Second Chance

“We need to talk.” Vivi mencegat Galih yang baru saja hendak memasuki mobilnya di parkiran kantor.

Muka Galih sontak sedikit kesal daripada terkejut. “Loe kok tiba-tiba muncul gitu sih? Stalking gue, ya?”

“Loe? Gue? Sejak kapan kita bicara dengan loe dan gue?” ucap Vivi segera.

Dahi Galih berkernyit. “Emang kenapa? Masalah?”

“Iya! Masalah buat gue!” Vivi membentak sambil mendorong sebelah pundak Galih.

Nafas Galih memburu. Emosinya sempat menjalar dan hampir saja membuatnya hendak langsung mendorong balik Vivi. Tapi, ia menarik napas dalam-dalam dan mengurungkannya. Mengendalikan emosinya.

“Trus?” tanya Galih segera dengan nada ketus.

Vivi menarik napas dan siap membuka matanya. “Udah gue bilang kan tadi, we need to talk.”

“Yaudah, ngomong sekarang.” ucap Galih segera agak berteriak. Beruntung, area parkir sudah lewat dari jam kerja, sehingga tak terlalu banyak orang yang lalu lalang di parkiran.

Vivi memegang pinggangnya.

“Kenapa kamu ga angkat telepon? Ga bales SMS? Ga bales email? Ga bisa ditemuin di rumah meski aku dateng?” cerocos Vivi. “Kamu kaya’ ngilang ditelan bumi aja.. Ini aja aku harus maksa buat nguntit kamu ke kantor dan nunggu sampe kamu pulang supaya bisa ketemu.”

“Masih tanya?” Galih menjawab dengan pertanyaan setelah diam mendengarkan pertanyaan Vivi.

“Maksud kamu?” Vivi bertanya lagi.

Galih menarik napas. Sekilas, ia tersenyum kecil.

“Ya.. harusnya loe tau kok jawabannya. It’s all about you.” jawab Galih.

Giliran dahi Vivi yang berkernyit.

“Maksud kamu apa?” Vivi bertanya lagi.

Galih menyandarkan sebagian badannya ke mobilnya. Ia menghadap Vivi dengan agak santai. Melupakan sejenak emosinya. Membiarkan Vivi bertanya-tanya dan berusaha memenangkan pertempuran perasaan.

“Segala yang gue lakukan selama ini dalam hubungan kita, selalu tentang loe. Loe, dan selalu loe. Termasuk, kenapa gue malas buat kontak lagi sama loe.” Galih memberitahu.

“Jadi, alasannya aku?”

“Iya.”

“Tapi, kenapa? Apa?” Vivi bertanya lagi.

Galih menarik napas.

“Karena, gue berusaha buat ga ngehajar cowok brengsek yang semena-mena nyium loe di teras rumah loe dua malam yang lalu. Karena, gue tau diri, loe sepertinya lebih nyaman dan milih dia ketimbang gue.”

Vivi terperanjat. “Tapi, kamu bilang dua malam yang lalu masih di luar kota…”

“Bukan alasan supaya loe bisa tukeran air liur lewat mulut sama cowok laen kan?”

Dahi Vivi tak lagi berkerut. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Maaf…” ucap Vivi lirih.

“Gue maafin.” jawab Galih sekenanya.

“So..  am I going to have my second chance?” tanya Vivi.

“Ga.”

“Kenapa?”

“Because, you’ve wasted your first.” jawab Galih sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *