Short Story #12: Ibu

Puteri duduk terdiam di bangku peron. Ia berulangkali melihat arlojinya sambil berganti menatap ke jam stasiun. Menunggu, jelas itu yang ia lakukan.

“Rileks Put, pasti keretanya sampe koq. Ga usah cemas gitu.” Mira mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Aku yakin keretanya sampe Mir, tapi aku cuma taku dia ga bakal ada di kereta itu. Tau sendiri kan, dia orangnya gimana?”

“Ya, iya juga sih. Tapi mungkin setelah beberapa tahun ini, dia berubah. Jadi lebih baik.”

“Semoga sih.” jawab Puteri sambil melihat arlojinya lagi.

Tepat jam lima lewat sepuluh menit, pengeras suara stasiun berbunyi. Menjelaskan bahwa kereta asal Jakarta akan mengalami terlambat datang selama beberapa menit dari jadwal. Keterlambatan terjadi dikarenakan ada permasalahan sinyal.

Tanpa perlu ditanya, Mira tahu jika Puteri semakin cemas. Air mukanya menampilkan kebingungan yang luar biasa.

“Kita cari makan dulu, yuk.” Mira mencoba mengalihkan perhatian Puteri. Menghilangkan kecemasannya.

“Nanti dulu. Aku masih pengen nunggu.” jawab Puteri.

Mira tak berani untuk mengajak kembali. Ia mencoba memahami perasaan Puteri. Perasaan menunggu seseorang yang sangat dikasihi, dan sudah lama tak berjumpa. Walaupun kabar tak terputus melalui surat atau telepon, tapi perjumpaan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Dan, Mira mencoba memahaminya, walau ia belum pernah mengalaminya.

“Ada mungkin tiga tahun sejak terakhir kali aku ngeliat mukanya secara langsung, denger suaranya yang begitu nenangin, dan dapet belaiannya yang penuh kasih sayang.” celetuk Puteri.

Mira manggut-manggut tanpa bicara.

“Salah aku juga sih, ga mau ketemu tiga tahun kemaren..” Puteri melanjutkan dengan nada menyesal.

“Terakhir kali aku ketemu dia lebaran kemaren, dia bilang kok kalo bangga sama kamu Put. Beneran.” Mira segera menjawab meski Puteri tak meminta.

Puteri menunduk. “Yah, mudah-mudahan begitu.”

Lalu hening. Tak ada lagi kata yang terucap antara Puteri dan Mira.

Pengeras suara stasiun kembali berbunyi. Menjelaskan bahwa di peron di depan Mira dan Puteri, kereta asal Jakarta segera tiba. Dan, benar saja, dalam hitungan menit lokomotif yang membawa beberapa gerbong masuk dan berhenti secara perlahan di peron depan mereka.

Mira dan Puteri segera berdiri dan mencari-cari di sekian banyak jendela. Mencoba melihat wajah yang mereka kenal dengan penuh harap.

“Kaya’nya ga ada, deh..” Puteri menggumam pelan.

Mira tak menjawab. Ia tak ingin menanggapi Puteri yang mulai kehilangan semangat. Ia terus mencari melihat-lihat ke arah jendela gerbong kereta meski Puteri mulai mengendur dan duduk kembali.

“Puteri!” panggil sebuah suara secara tiba-tiba.

Sontak, Puteri dan Mira segera menoleh ke arah suara. Tanpa perlu memastikan, Puteri pun segera berdiri dan menghamburkan pelukannya sambil berteriak, “Ibu!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *