Short Story #115: Kejutan

“Menurutmu, aku harus gimana lagi?” tanya Evan memecah kesunyian dini hari yang dingin di teras sebuah resto cepat saji 24 jam.

“Hmm?” Uci menggumam sambil meminum black coffee-nya untuk menghangatkan diri.

“Aku harus gimana lagi? Apa aku harus diam dan terima apa adanya, atau gimana?” Evan menjelaskan.

Uci menyimpan gelas kopinya. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghadirkan kehangatan.

“Mungkin… kamu harus berhenti terlalu berharap.” ucap Uci santai sambil menyandarkan dirinya ke kursi plastik yang keras.

“Maksudmu?”

“Yah.. jangan terlalu berharap sama dia. Jangan terlalu berharap kalo dia bakal berubah. Kalo dia bakal ngikutin apa semua keinginan kamu. Kalo dia bakal ngerti apa mau kamu tanpa harus kamu ingetin atau kasitau berkali-kali..” Uci menjelaskan.

Evan diam menatap rekan sekerjanya itu.

“Dan… jangan terlalu berharap kalo dia bakal balik mencintai kamu..” Uci menambahkan.

Giliran Evan yang menyandarkan dirinya ke kursi plastik. Ia menghembuskan nafas. Kalimat terakhir Uci terngiang-ngiang di benaknya.

“Tapi aku cinta dia, Ci.. Sejak bertahun-tahun yang lalu.” Evan menyanggah.

“Dan sejak bertahun-tahun yang lalu pula, dia ga balik mencintai kamu…” respon Uci segera.

Evan kembali menghembuskan nafas. Matanya menatap langit-langit teras resto cepat saji yang sedikit temaram. Sesekali, ia melirik ke arah langit yang masih gelap.

“Bingung…” Evan menggumam.

Uci menegakkan badannya dan sedikit mengarahkan kepalanya menghadap Evan.

“Berhentilah terlalu berharap, Van.. Berhentilah. Karena, dengan begitu kamu bakal ketemu kejutan-kejutan lain di hidup kamu, yang ga kamu kira-kira sebelumnya.” Uci memberitahu.

Evan menatap wajah Uci dalam-dalam.

“Kejutan? Seperti apa?” tanya Evan.

“Seperti… aku yang mencintaimu sejak bertahun-tahun yang lalu…”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *