Short Story #114: Gak Biasa

“Dari mana aja, sih? Aku kan udah nunggu lama dari tadi!” kata Rina ketus sambil memegang pinggangnya begitu Seno membuka pintu.

Seno tak langsung menjawab. Ia justru menggantungkan jaketnya di balik pintu sambil kemudian berjalan perlahan mendekati Rina.

“Kamu kalo marah, cantik deh..” goda Seno sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rina, namun Rina menolak.

“Alah.. ga usah ngerayu-rayu gitu deh.. Aku tuh lagi sebel, tau!” ucap Rina sambil menjauh namun parasnya tetap ketus.

“Dan itu yang bikin aku suka kamu sejak pertama kita ketemu..” jawab Seno sambil kembali mendekati Rina yang lagi-lagi menjauh.

“Jadi kamu suka aku buat marah-marah mulu, gitu?!” tanya Rina saat berhasil mengambil jarak yang cukup jauh dari Seno.

“Ya enggak.. tapi wajah kamu yang ketus dan judes itu bikin aku kepincut.” jawab Seno sambil kembali mencoba mendekati Rina.

Rina menarik napas.

“Stop, No!” hardik Rina pada akhirnya. “Kamu belum jawab pertanyaan aku!”

“Pertanyaan yang mana, hmm?” tanya Seno sambil diam berdiri.

“Kamu dari mana aja? Kok lama bener? Ga tau kalo aku udah nungguin dari tadi? Tau ga sih jam berapa ini?” Rina memberondong pertanyaan.

Seno menarik napas. “Jam 11 malem. Ya aku mana tau kamu nungguin, kan kamu ga ngasitau.. lagipula tumben-tumbenan kamu masih bangun. Biasanya pas aku dateng, kamu udah tidur.. Nyenyak..”

“Ya tapi kan malem ini enggak biasa!” Rina memberitahu.

“Oh ya? Emang ga biasa karena apa?” tanya Seno sambil kemudian duduk di sofa ruang tamu sementara Rina tetap berdiri di ambang menuju ruang tengah dengan menatapnya tajam.

Rina menarik napas.

“Ya aku lagi pengen nunggu kamu aja.. Bikin surprise..” jawab Rina. “But you’ve ruined it.”

Giliran Seno menarik napas.

“Ya abis.. tadi tiba-tiba istriku minta dianter ke bandara buat pergi ke Semarang…” jawab Seno.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *