Short Story #113: One Condition

“Emang kita ga bisa cari jalan lain, ya?” tanya Evan perlahan sambil coba menyembunyikan nada bergetar di suaranya.

“I’m afraid, there are no other ways..” jawab Natasya sambil sedikit terisak.

Evan menarik napas. Berat. Sesak.

“Kenapa?” tanya Evan.

Natasya tak menjawab. Ia hanya terisak dan menyeka sudut matanya yang mulai basah.

Evan menatap Natasya di depannya. Walau begitu, tatapan matanya kosong. Yang ia lihat adalah bayangan-bayangan masa indah yang pernah ia jalani bersama Natasya.

“Kalau saja…”

“Aku juga maunya ga begini, Van.. tapi…” Natasya tak melanjutkan kata-katanya.

“Kalau saja.. kalau..” Evan mengulang.

Lalu hening. Ruang tamu apartemen Natasya tak pernah terasa sedingin sore itu.

“Kalau aku masih mau perjuangin kamu, gimana?” tanya Evan sambil tak terlalu berharap.

Natasya menatap Evan sambil masih memegang tangannya dari tadi. Pandangan matanya menyiratkan persetujuan, tapi….

“Kamu tau sendiri kan gimana Papa-Mama aku.. Gimana keluarga besar aku…” jawab Natasya.

“Tapi…”

“Jangan, Van. Aku ga mau ngeliat kamu lebih terluka.” Natasya memberitahu dengan nada bergetar.

Evan terdiam. Ia membuang napas.

Selain detik jam dinding, isakan tangis, dan helaan napas, keheningan kembali menyelimuti ruangan apartemen di lantai 9 itu.

“Okay.. Even it’s hard to do, I’ll let you go then.” ucap Evan.

Natasya memalingkan wajahnya ke arah selain Evan. Hatinya sakit.

“But in one condition… You have to be happy.” Evan menambahkan yang diikuti dengan tatapan Natasya kembali ke arahnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *