Short Story #112: Part of..

“Kalo kamu ada yang mau diomongin, ngomong aja. Tapi, aku lagi mumet.” Susan memberitahu sambil kemudian menyandarkan badannya ke kursi dan kemudian tangan kanannya menyentuh ujung keningnya.

Michael menghembuskan nafas.

“Kamu harusnya jangan terlalu workaholic, San..” Michael menyarankan.

“Yayaya.. Mama juga bilang begitu.” Susan mengibaskan tangannya sambil tetap bersandar di kursi. “Dan kamu jangan coba-coba nambahin.. Udah banyak yang harus aku pikirin.”

Michael mengangkat alisnya. Ia kemudian meminum kopinya.

“It’s no more your business anyway.” Susan menggumam.

“Apanya?”

“Aku workaholic apa engga.” Susan menjawab segera sambil membuka matanya.

“Yah.. aku cuma ngingetin aja sih..” kata Michael singkat.

“Ga perlu.” kata Susan. “Lagipula, status kita udah bukan seperti dulu lagi.”

“Iya, soal itu aku tau.” jawab Michael.

Kemudian, Susan kembali memejamkan matanya sambil kedua tangannya memijat keningnya. Michael hanya diam memperhatikan. Menunggu.

“Mumetnya karena mumet mikir, atau mumet ga enak badan, sih?” Michael bertanya.

Susan membuka mata. “Emang kenapa?”

“Penasaran aja..” jawab Michael sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling dalam coffee shop. “Ga dijawab juga gapapa.”

Susan kembali memejamkan mata. Ia menarik napas. Ia tak ingin menjawab.

Michael kembali larut dalam keheningan. Sekilas, ia coba mengingat-ingat kenapa ia mengajak bertemu Susan petang itu.

“Kalo ga jadi ada yang diomongin, aku cabs aja, ya..” suara Susan mengagetkan pikiran Michael.

“Lah, buru-buru amat?!”

“Well.. I have much more things to do. Important things. Special things.” jawab Susan.

Mendadak, Michael teringat alasannya mengajak Susan bertemu.

“Kenapa?”

“Kenapa?” Susan balik bertanya.

“Ya… aku ga ngeliat apa pentingnya kamu sibuk-sibuk di jam after hours gini. Jangan sampe nanti kekurangan waktu buat istirahat, lho..” Michael mengingatkan.

Susan menegakkan badannya. “Well, here we go again. Tukang atur kembali sok-sok ngatur.”

“Ya abis aku-“

“Don’t you ever want to be a part of something special?” potong Susan segera dengan nada meninggi.

Michael tak meneruskan kata-katanya dan kemudian diam.

“Aku tau kamu ga akan pernah ngerti. Sama seperti dulu-dulu…” kata Susan sambil siap-siap berdiri dan pergi. Tapi, tangan Michael menahannya dengan memegang tangannya.

“I was part of it. Us.” ucap Michael.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *