Short Story #111: Jalan Buntu

“I think there’s nothing more we can do for us..” Santi memecah kebekuan yang telah berlangsung beberapa menit. Walau begitu, rasanya seperti telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pria di depan Santi tak merespon.

“I think, we have had everything on our relationship.” Santi berkata lagi.

“Dari mana kamu tau kalo kita udah ngalamin semuanya?” Gio akhirnya bertanya.

Santi diam sejenak. “I just knew it.”

“Kok bisa?”

Santi diam lagi. Kali ini cukup lama.

“Terlintas aja di pikiranku.” jawab Santi.

Pasangan yang telah menjalin tali kasih selama 7 tahun ini sama-sama diam kembali. Membiarkan suara ombak di bawah dermaga yang mereka tempati menyelimuti keheningan di antara mereka.

“Selain itu, apa pernah terlintas yang lain-lainnya?” Gio bertanya lagi.

“Maksudmu?”

“Ya.. apapun selain yang udah kamu sebut tadi.” Gio memberitahu sambil mencoba tetap tenang.

Santi melihat ke arah cakrawala di lepas lautan.

“Mungkin.” jawab Santi singkat. “Tapi aku lupa apa saja yang pernah terlintas itu..”

Gio tak menjawab.

“Lagipula, ini jalan buntu. Udah ga ada jalan lain dari sini buat kita.” Santi menambahkan kemudian. “Kamu sendiri juga kan yang belum pengen kita beranjak ke jenjang selanjutnya?”

Gio mengubah posisi berdirinya sehingga menghadap Santi.

“Aku lebih pilih ketemu jalan buntu, jadi aku masih bisa balik lagi cari jalan ke tempat semula. Daripada.. aku keburu-buru buat ambil langkah ke tahap selanjutnya, tapi kemudian jatuh karena lubang, atau terperosok ke dalam jurang.” sahut Gio.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *