Short Story #11: Di Bawah Langit Kembang Api

“Udah mulai?” Ferdi duduk di samping Rena. Ia menyodorkan semangkok berondong jagung hangat yang langsung diambil Rena.

“Belom. Tapi paling bentar lagi. Udah tinggal beberapa menit lagi, ‘kan?” jawab Rena.

“Oh iya.” ujar Ferdi sambil melirik sekilas ke arlojinya. “Betewe, itu jagung jangan diabisin yak. Gue cuman bikin sebiji. Males turun lagi.”

“Iya.” jawab Rena tanpa memalingkan pandangan dari arah lapangan.

Malam semakin larut, lapangan pun semakin ramai. Ferdi mengencangkan jaketnya agar tiada angin malam yang masuk menyapa tubuhnya. Walau begitu, di sebelahnya Rena tak tampak kedinginan meski tak memakai jaket.

“Loe ga kedinginan, Ren?”

“Ga tuh. Gue kan udah biasa kalee..”

Ferdi manggut-manggut saja. Ia berpikir Rena terbiasa karena balkon sekarang ini pasti sering didatangi Rena jika sedang berada di rumahnya.

“Eh, makasih ya udah ngundang gue ke rumah loe. Buat nonton kembang api lagi.”

“Iya, Fer. Sama-sama. Tapi ada yang harus dilurusin, kembang apinya di lapangan sana, bukan di rumah gue. Jadi, liatnya ke lapangan aja. Ga usah ngeliatin gue mulu.” jawab Rena.

Ferdi langsung salah tingkah. Walau ia sudah cukup lama berteman dengan Rena, tapi baru sekarang ia datang ke rumahnya. Menonton kembang api pula di malam tahun baru. Tapi, apa iya karena itu ia salah tingkah?

“Emang segede apa sih kembang apinya nanti?” Ferdi penasaran.

“Loe masih inget foto taun baru yang gue kasih liat dulu itu kan? Nah, katanya sih taun ini bakal lebih gede.”

“Ooo…” Ferdi mencoba mengingat-ingat foto yang pernah Rena berikan tempo hari. Tapi, yang bisa ia ingat justru tentang seseorang yang ingin sekali “ditembak” saat kembang api bertebaran di langit malam. Apa itu Rena? Tanya Ferdi dalam hati.

“Eh.. eh.. bentar lagi mulai! Tuh, mereka lagi hitung mundur taun baru!” Rena berseru dan membuyarkan lamunan Ferdi. Mereka berdua langsung menatap ke arah lapangan.

Dan, benar saja. Sayup-sayup terdengar hitung mundur hingga angka nol sebelum kemudian ratusan rangkaian kembang api dinyalakan di tengah lapangan. Mulai yang berbentuk rudal dan memecah di angkasa, hingga kembang api yang membentuk lingkaran. Pokoknya meriah.

Tanpa Ferdi sadari, Rena menatap ke arahnya. Diam-diam, ia mengagumi sahabatnya ini.

“Loe mungkin ga percaya, tapi… Gue sayang loe, Fer.” ucap Rena pelan, tapi cukup terdengar oleh Ferdi yang langsung menoleh ke arahnya.

Ferdi tak langsung bicara. Ia menampakkan muka heran sekaligus tersenyum. Membuat Rena kehilangan kata-kata dan suara. Membisu, sambil kemudian menundukkan kepalanya sedikit. Menyembunyikan pipinya yang memerah.

“Udah gue duga koq. Dan, gue sayang loe juga.” jawab Ferdi.

“Koq bisa loe duga?” tanya Rena segera.

“Gue masih inget koq kalo loe pengen jadian di bawah langit kembang api. Dan, ini dia saatnya.” Ferdi tersenyum sambil kemudian memeluk Rena.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *