Short Story #106: Do You Remember?

“Kalo ada yang mau diomongin, langsung aja. Waktuku ga lama.” Rani memberitahu sambil duduk di kursi. Lelaki di depannya tetap tersenyum meski dalam hatinya ia sedih.

“Apa kabarmu?” tanya lelaki di depannya, yang bernama Samuel.

Rani mendelik. “Kamu minta ketemu cuman mau nanya kabar aku?”

Samuel menarik napas. “Could you just answer the question? I’m just trying to be polite..”

Rani mendengus.

“Aku sibuk.” jawab Rani sambil melihat ke arlojinya. Sudah berjalan 10 menit sejak ia melangkahkan kakinya dengan enggan ke dalam kedai kopi, dan 2 menit sejak ia duduk di depan Samuel.

“O.. Tapi sehat, kan?” tanya Samuel lagi.

Rani mendelik lagi.

“Kalo maksud kamu ngedoain aku supaya terus sehat, makasih.” jawab Rani. “Dan iya, aku emang sehat.”

Samuel sedikit tersenyum. Sebenarnya ia ingin sekali ditanya balik oleh Rani, tapi keinginan itu ia abaikan.

“Jadi, ada apa? I got a meeting to catch.” Rani memberitahu.

Samuel tak langsung menjawab. Namun ia justru mencondongkan badannya ke tas selempang yang ia sampirkan ke kursinya. Lalu, ia merogoh sesuatu sambil kemudian mengeluarkan dan menyimpannya di meja.

“Our daughter made this. Katanya, ini dibuat spesial buat ibunya.” Samuel meletakkan sebuah hasil karya kolase seukuran dengan buku gambar di atas meja.

Rani melihat karya kolase itu dalam diam. Matanya melihat ke setiap sudut dari kolase itu. Mempelajari. Menikmati. Meresapi. Mengenali.

“Itu buat kamu bawa pulang.” Samuel memberitahu.

Rani menjawab dengan dengusan sambil tersenyum kecil. Walau sebentar, tapi senyuman kecil itu terlihat oleh Samuel.

“Kalo aku bawa pulang, mau aku simpen di mana coba?” Rani bertanya. Kembali dengan nada ketus.

“Terserah.” jawab Samuel singkat.

“Ada lagi?” tanya Rani segera sambil masih memegang kolase itu.

Samuel menarik napas. “Ga ada.”

“Bagus.” jawab Rani sambil siap-siap berdiri dan mencari tasnya. “By the way, lain kali ga usah ajak aku ketemu kalo ada beginian lagi. Kirim aja lewat paket.”

Rani hendak beranjak dari kursinya ketika kemudian tangannya dipegang oleh Samuel yang menatap ke arahnya.

“Emang, aku sebegitunya kamu benci sampe ga mau ketemu?” tanya Samuel.

Rani tak menjawab. Bahkan, ia tak menoleh.

“You may hate me, but do you remember those days when we’re having fun together? Like the way we used to be?” tanya Samuel.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *