Short Story #10: Aku Mungkin Bukan Pangeran, Raja, atau Ksatria

“Aku kurang ngelakuin apa sih buat kamu? Segala macam yang kamu mau, udah aku kasih, aku lakuin. Semua demi kamu.” Raga berucap sambil menggenggam tangan Lintang.

Mata Lintang berkaca-kaca. “Ga ada yang kurang dari kamu, Ga. Kamu sempurna, dan aku berterima kasih atas semua yang kamu lakukan buat aku.”

“Trus? Apalagi yang bikin kamu masih ragu?” Raga bertanya.

Lintang tak menjawab. Ia bimbang untuk mengutarakan hal yang terus-menerus mengganggu pikirannya. Ia tak ingin kehilangan Raga, tapi ia juga tak ingin mengkhianati prinsipnya selama ini.

“Apa ada orang lain di hatimu saat ini?” tanya Raga.

“Tidak!” jawab Lintang segera. “Hanya ada kamu, dari dulu, hingga saat ini. Dan, kuharap sampai nanti…” Lintang melanjutkan dengan nada lirih.

Angin berdesir menemani sore hari yang indah di taman kota. Raga yang sedari tadi duduk di sebelah Lintang pun berdiri sambil kemudian menekuk lututnya di hadapan Lintang.

“Aku mungkin bukan pangeran, raja, atau ksatria heroik seperti dalam dongeng. Aku hanyalah Raga yang mencintaimu, Lintang. Aku berharap, aku bisa mendapatkan hal yang setimpal dari kamu.” ucap Raga.

Lintang terdiam. Ia menarik napas sementara Raga menunggu.

“Tapi, kamu suami sahabatku, Ga…”

9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *