Short Story #360: Stand Up

“Besok kamu ga perlu dateng lagi.” Pipit berdiri memberitahu Magda yang baru saja duduk di meja kerjanya. Muka Magda terkejut. Ia tak menyangka jika niatan masuk kerja di pagi hari itu akan menemui kondisi seperti itu. “Clean up your desk.” “Aku dipecat?” “If you say so.” Pipit beranjak dan menuju mejanya lagi. Magda masih diam sejenak

Short Story #359: Bukan Sensitif

“Eh, kamu ada di rumah.” Fika menyapa Reni, teman seapartemennya saat ia membuka pintu dan keluar kamar. “Well, I lived here.” Reni menjawab sambil terus menyantap semangkuk es krim di atas sofa ruang tengah. “Kamu yang ke mana aja, kok baru keliatan?” “Di kamar.” Fika menjawab singkat dari atas meja dapur kecil. Menyiapkan makanan. “Hampir kukira kamu minggat.”

Short Story #358: Terbiasa

TOK! TOK! TOK! Pintu apartemen Agnes setengah digedor. Dengan mata yang masih perih karena kantuk serta kepala yang pening karena belum sadar sepenuhnya, Agnes berjalan enggan dari kamarnya ke depan. Agnes melihat sejenak melalui lubang intip di pintunya untuk melihat siapa yang membangunkannya sepagi itu. Lalu, ketika ia sudah tahu, langsung ia buka pintunya cepat-cepat. “Sepagi

Short Story #357: Di Sana Selama Ini

“Di mana lagi yang harus aku tanda tangani? Sudah semua, ‘kan?” Indra bertanya sambil melihat ke arah arlojinya. Ia terlihat antara sebal karena lelah atau ada acara lain. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin agar semua ini lekas tuntas. “Sebentar.” Pramita membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai Indra tandatangani ke dalam sebuah map, lalu menyiapkan map lain dan mengeluarkan isinya ke

Short Story #356: Ruang

Mira baru akan mengetuk pintu apartemen Sakti ketika Sakti membuka pintu dan hendak keluar dari dalamnya. Selanjutnya mereka justru saling diam menatap canggung. “Eh, kamu..” Sakti akhirnya angkat bicara. “Hai..” Mira menyapa. “Mau masuk?” “Ya mau ngapain lagi?” Mira menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Meski bukan itu sebenarnya pertanyaan yang sudah lama ia pendam dan hendak tanyakan ketika

Short Story #355: Kenangan

“Seru kali ya kalo hidup di masa depan.” Joanna berandai-andai. “Kamu pikir kita sekarang hidup di masa apa?” Felicia menjawab sambil menutupi matanya yang silau diterpa mentari senja. “Present. Masa sekarang.” Joanna menjawab sambil menoleh. “Karena waktu itu relatif, bisa juga yang kamu sebut sekarang itu sebenarnya masa depan dari masa lalu.” Felicia menjawab. “Ugh.. you and your

Short Story #354: Partner

Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan. “Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi. “Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem. “Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas

Short Story #353: Kekal

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus. Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut. “Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari

Short Story #352: Harm

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan. “Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik. “Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu. Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya. “Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.” “Tapi beda denganku, ‘kan?” Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.” “Kenapa?” Panji diam lagi.

Short Story #351: Kesempatan

Diego melihat selembar kertas di tangannya untuk kesekian kalinya. Informasi yang tertera di sana masih sama. Bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa studi di Eropa. Tapi, ia bimbang. “We’ll be just fine.” Santi memberitahu. Menguatkan. “Yang kamu maksud kita, apakah hubungan di antara kita berdua atau masing-masing kita dengan mereka?” Diego bertanya sambil