Browse By

#7

“Hei, kalau lagi makan, nggak boleh bengong!’ Teguran Hikaru menyadarkanku. Sepertinya, dari tadi aku termangu dengan memegang sendok serealku tanpa menyuapkannya ke dalam mulut. Hah? “Kau kenapa sih, akhir-akhir ini?” “Apa? Aku? Tidak apa-apa.” “Benarkah? Lalu kenapa kau sepertinya lebih sering dan gampang hilang kesadaran?”

#6

Hikaru membuka pintu rumah, dan masuk. Ia melempar kunci ke mangkuk di dekat pintu, dan melempar mantel ke tiang gantungan. Sambil hendak melepas sepatu, ia menolehku. “Kau tidak masuk?” Aku masih diam berdiri di pekarangan. Memandangi rumah, seakan aku belum pernah memasukinya. Seakan ada kekuatan

#5

Malam sudah menjelang ketika pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Narita. Aku pun turun, dan segera mencari koper. Terminal kedatangan begitu ramai malam itu. Sepertinya sedang ‘musim kedatangan’ di sini. Entah, tapi ternyata anggapan Narita sebagai salah satu bandara terbaik di dunia, ada benarnya juga.

#4

Matahari bersinar hangat karena musim dingin sudah akan berlalu. Taman kampus terasa begitu ramai saat aku keluar dari gedung kuliah. Padahal, sebenarnya Sakura saja belum bermekaran. Apa ini semangat orang Jepang dalam menyambut musim semi seperti Hikaru semalam? Apa ini alasan muda-mudi kampusku berkumpul di

#3

Aku mengendap perlahan. Kuintip dapur. Benar saja! Hikaru memasak! “Kau memasak, Hikaru?” Hikaru menoleh. “Ya, aku memasak. Kenapa? Heran, ya?” “Hihi, aku baru tahu kau bisa masak. Tiga tahun aku di sini, baru sekali ini aku melihatmu memasak. Ada sebab apa?” “Ini sebagian dari semangat