Gimana Caranya Dapat Tiket Pesawat Murah?

Jalan-jalan jauh, paling enak memang menggunakan pesawat. Waktu perjalanan yang cepat menjadi faktor utama kenapa pesawat dipilih. Bayangkan jika hendak bepergian ke lain kota yang berada di beda pulau menggunakan transportasi darat disambung laut, lalu darat lagi? Bisa berhari-hari menempuhnya dibandingkan beberapa jam saja dengan pesawat.

Bepergian dengan pesawat pun menjadi primadona belakangan ini, terlebih menjamurnya maskapai yang menyediakan tiket murah seperti AirAsia, Citilink, sampai dengan Lion Air. Belum lagi promo yang disediakan pada waktu-waktu tertentu. Jalan-jalan jauh pun tak lagi mimpi.

Berikut beberapa cara untuk dapatkan tiket pesawat murah untuk bepergian:

  1. Pesanlah jauh-jauh hari dari tanggal keberangkatan.
    Beberapa maskapai atau online travel agent menyediakan tanggal keberangkatan hingga 1 tahun sejak tanggal booking. Tanggal keberangkatan pesawat yang jauh dari tanggal booking biasanya lebih murah karena belum begitu banyak dipesan dan belum dipengaruhi oleh animo pemesan dan hari libur.
  2. Membeli saat ada promo. Bisa dengan promo maskapai atau kartu kredit.
    Promo adalah cara paling efektif untuk mendapatkan tiket murah. Tak tanggung-tanggung, promo dapat membuat tiket pesawat lebih murah 50% dibandingkan publish price atau di luar periode promo. Membeli pada saat promo bisa dilakukan di saat periode yang dilakukan oleh maskapainya ataupun kartu kredit yang dimiliki dan digunakan untuk membayar.
  3. Membeli menggunakan online travel agent.
    Online travel agent seperti tiket.com, traveloka, sampai dengan nusatrip biasanya memiliki promo tersendiri di luar yang disediakan oleh maskapai atau kartu kredit. Promo yang disediakan berupa cash back tunai sampai dengan diskon atau potongan harga.
  4. Tanggal keberangkatan/pulang tidak di hari weekend (akhir pekan).
    Hari-hari akhir pekan menjadi pilihan utama bagi para pekerja kantoran untuk melakukan perjalanan. Hal itu disinyalir terkait dengan cuti bagi para pekerja kantoran tersebut. Sehingga tak jarang tanggal keberangkatan/pulang di akhir pekan harga tiket pesawat jauh lebih mahal ketimbang di hari biasa (weekdays).
  5. Berangkat/pulang tidak berdekatan dengan tanggal libur/hari raya nasional/lokal.
    Tanggal libur atau hari raya nasional/lokal juga biasanya mendukung harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Hal ini karena orang lain juga hendak bepergian di hari tersebut sehingga animo lebih tinggi ketimbang hari biasa.
  6. Memilih destinasi yang popularitasnya lebih kecil.
    Bepergian ke sebuah destinasi yang popularitasnya lebih tinggi juga menunjang harga tiket pesawat yang lebih tinggi. Tiket pesawat ke Tokyo dan Osaka Jepang misalnya, di hari dan tanggal yang sama akan lebih mahal ke Tokyo daripada ke Osaka meskipun berada di negara yang sama. Memilih destinasi yang tidak popular bukan berarti tidak akan ke destinasi yang popular, melainkan hanya trik agar lebih murah dan cepat sampai, baru kemudian mencari tranportasi lokal.
  7. Memilih destinasi bandara yang berdekatan dengan tujuan utama/bandara sekunder.
    Beberapa kota besar memiliki bandara lebih dari satu. Jakarta saja misalnya, memiliki bandara utama Soekarno-Hatta dan juga Halim Perdanakusuma sebagai sekunder. Pemilihan bandara sekunder dapat membuat tiket pesawat lebih rendah ketimbang bandara utama karena biaya maskapai untuk ke bandara tersebut juga lebih murah, yang tentunya turut dihitung menjadi harga tiket pesawat.
  8. Pilih perjalanan dengan transit daripada langsung.
    Meskipun lebih nyaman, direct flight atau penerbangan langsung memiliki harga yang lebih mahal ketimbang perjalanan dengan transit.

Meski begitu, ada beberapa hal yang jangan sampai dilupakan dalam rangka mencari tiket pesawat murah itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Review mengenai maskapai yang akan digunakan.
    Beberapa maskapai terkenal dengan jargon tiket murahnya, beberapa lainnya dengan kualitasnya. Ketika sebuah maskapai dengan kualitas tinggi ternyata menyediakan tiket murah, harus dicari tahu ulasan (review) apakah kemudian dioper ke maskapai segrup atau tidak.
  2. Perhatikan lama perjalanan.
    Jangan hanya karena murah, lalu rela transit yang ternyata dilakukan beberapa kali sehingga tentunya akan melelahkan dan merepotkan.

Jadi, sudah siap untuk berburu tiket murah untuk perjalanan? Salah satu caranya bisa dilakukan dengan cek di sini.

Hal-hal yang Baiknya Dilakukan Sebelum Melakukan Road Trip

Road trip atau perjalanan darat, adalah salah satu pilihan travelling yang memiliki penggemar dengan jumlah tidak sedikit. Melakukan road trip bisa umumnya dengan menggunakan kendaraan roda empat seperti bis dan mobil pribadi. Tapi tak jarang juga yang melakukan road trip dengan menggunakan sepeda motor, atau sambung-menyambung dengan menggunakan kereta atau alat transportasi darat lainnya.

A road trip is a long distance journey on the road. Typically, road trips are long distances traveled by automobile. – Wikipedia

Buat saya pribadi, road trip yang paling lama pernah saya lakukan dengan mengendarai kendaraan pribadi adalah ketika melakukan perjalanan pulang dari Yogyakarta-Jakarta melalui jalur Selatan Jawa. Kala itu, perjalanan yang dilakukan total kurang lebih 18 jam. Waktu selama itu terjadi bukan karena macet periode liburan, tapi lebih karena banyak melakukan berhenti untuk istirahat sesuai dengan medan jalan yang cukup menantang. Perihal kenapa banyak berhenti ketika melakukan road trip dengan kendaraan pribadi, akan saya bahas lebih lengkap di postingan lainnya, ya. 🙂

Untuk postingan kali ini, adalah hal-hal yang baiknya dilakukan sebelum melakukan road trip. Khususnya ketika menggunakan kendaraan pribadi. Tentu, ini berdasar pengalaman saya pribadi, sbb:

  1. Pastikan kendaraan pribadi dalam kondisi fit.
    Bawa ke bengkel jika perlu, atau usahakan pengecekan terakhir ke bengkel tidak lebih dari 30 hari yang lalu. Hal ini bagi saya wajib dilakukan supaya kendaraan pribadi dalam kondisi yang mendukung untuk melakukan road trip. Yang harus dicek antara lain kondisi oli, rem, ban, sampai dengan radiator, tegangan aki (biasanya sekaligus cek umur aki), dan juga kemudi. Jika melakukan servis rutin — per 6 bulan atau 10.000 km (untuk mobil), pengecekan ini sudah pasti akan membuat kendaraan pribadi dalam kondisi fit. Di beberapa bengkel pun cukup dengan menyatakan akan melakukan road trip, maka teknisi/mekanik sudah punya bayangan apa saja yang akan dicek.
  2. Pastikan kondisi badan dalam kondisi fit.
    Kenapa badan harus dalam kondisi fit? Karena road trip biasanya akan memakan waktu berjam-jam lamanya, dan terkadang lalu lintas tidak bisa ditebak — kecuali kalo musim liburan atau lebaran yang udah hampir pasti macet sepanjang jalan. 😛 Memastikan badan dalam kondisi fit ga melulu harus ke dokter dengan cara medical check up kok, cukup kenali saja tanda-tandanya mulai dari yang ringan seperti apakah hidung mampet, mata perih, tenggorokan sakit, dan lain-lain. Jikalau masih bisa dihalau/dikurangi efek sakitnya, pastikan membawa obat-obatan pribadi karena belum tentu bertemu toko kelontong di perjalanan.
  3. Pastikan sudah cuti/libur.
    Iya, ini paling vital. Ga lucu banget kalo mau road trip yang lama, trus tau-tau harus masuk ke kantor untuk bekerja karena dianggap ga cuti. :mrgreen:
  4. Bikin rute perjalanan dan atau siapkan peta.
    Road trip yang menyenangkan adalah yang sesuai dengan rencana. Karena waktu di perjalanan cukup lama, maka nyasar ga boleh jadi pilihan. Untuk menghindari nyasar, maka baiknya siapkan rute perjalanan. Hal ini penting terutama jika mengendarai kendaraan pribadi, dan atau kalau tidak sering melakukan road trip.
  5. Siapkan makanan.
    Makanan ringan ataupun berat, penting adanya untuk disediakan di kendaraan sebagai konsumsi di jalan. Makanan ini bisa berfungsi untuk penghalau kantuk atau penahan lapar sampai bertemu dengan rumah makan/restoran. Untuk jenis makanan yang dibawa, amat sangat disarankan untuk makanan yang tidak berkuah dan sedikit sampahnya — atau habis sekali dimakan. Apabila perjalanan disertai anak kecil, upayakan membawa makanan yang menjadi kesukaannya.
  6. Punya kontak darurat.
    Kontak darurat ini bisa mencakup orang di tempat tujuan, orang di tempat asal, sampai dengan nomer telepon Polisi, bengkel, dan lain-lain. Kalo misal ternyata sinyal internet cukup kuat, bisa juga dengan memastikan paket internetnya nyala dan bisa akses internet untuk cari informasi terdekat.

Kurang lebih itu sih persiapan sebelum melakukan perjalanan darat dengan kendaraan sendiri. Nanti kalau ada update lagi, akan saya share di sini. Sementara itu, have a nice trip!

 

photo credit: HO|PE via photopin (license)

Persiapan Tas Untuk Travelling

Travelling, atau jalan-jalan yang rada jauh, pasti perlu persiapan yang ga sebentar dan ga sedikit. Minimal bawa satu tas atau koper untuk dibawa berisikan perlengkapan sepanjang perjalanan. Utamanya tentu berisikan pakaian dan perlengkapan mandi, tapi ga jarang juga alat tulis seperti buku dan pulpen, kamera, sampai dengan perlengkapan elektronik seperti charger dan powerbank.

Tanpa perencanaan yang baik, tas atau koper yang dipake untuk travelling bisa jadi semacam kapal pecah yang segala macam ada dan bakal sulit untuk dicari saat perlu. Saya ga langsung menuduh bahwa orangnya berantakan ya, bisa jadi rapi tapi malas atau teledor. Nah, berdasarkan pengalaman sendiri, berikut kiat-kiat saya untuk mempersiapkan tas saat akan travelling. Please note, kiat berikut ini dalam konteks pria yang akan solo-travelling, ya.

  1. Walaupun travelling akan berjalan sebentar — maksimal seminggu, saya minimal akan membawa 2 tas. Bisa dibedakan dari ukurannya, kecil dan besar. Kecil ukurannya maksimal sebesar backpack, dan besar minimal seukuran koper yang bisa masuk kabin pesawat.
  2. Kedua tas yang akan saya gunakan tadi saya fungsikan dengan beda kegunaan. Yang tas besar akan digunakan sebagai penyimpanan seluruh pakaian dan perlengkapan mandi yang akan saya gunakan sepanjang perjalanan. Sementara tas yang kecil akan diisi dengan minimal satu pakaian (dan pakaian dalam) ganti, buku tulis dan pulpen, parfum, serta alat-alat elektronik. Ditambah plaster luka, minyak kayu putih, dan panadol jika perlu.
  3. Tas kecil akan berfungsi sebagai semacam jaring pengaman saya, sebagai tas yang dapat memberikan “pertolongan” pertama dan mudah diraih. Sementara tas besar akan berfungsi sebagai tas terlengkap.
  4. Tas kecil juga akan berfungsi sebagai teman travelling setiap harinya. Tempat untuk menyimpan paspor, dompet, dan ponsel jika diperlukan. Dan juga peta perjalanan, serta kamera. Sementara tas utama akan disimpan di penginapan.

Jikalau saya bepergian dengan keluarga kecil saya, tentunya keperluan tas tersebut akan berbeda dan cenderung bertambah. Tetapi, minimal saya sendiri akan membawa 2 tas dengan susunan seperti di atas.

photo credit: Go-tea 郭天 Complicity via photopin (license)

Kapan Libur(an)?

Baru masuk tahun yang baru trus udah nanya liburan? Ga salah?

Ga. Ga salah.

Buat yang mengenal dekat saya — minimal pernah bekerja/kuliah setim, pasti tahu pasti saya tipe orang yang rewel banget soal jadwal. Buat saya, jadwal itu penting karena menentukan sesuatu bisa berjalan sesuai rencana atau engga.

Yes, you read that right. Jadwal menentukan sesuai rencana atau engga. Termasuk jadwal untuk libur(an).

Buat yang tinggal dan bekerja di Indonesia, jadwal untuk libur(an) paling lazim adalah hari libur nasional dan lebaran. Hari libur nasional biasanya 1 tanggal setiap peringatannya. Sementara libur lebaran biasanya lebih dari seminggu, karena ditotal antara 2 hari Idul Fitri, dan 3-4 hari cuti bersama. Belum lagi kalo ternyata ada hari Minggu, ditotal bisa dapet minimal 10 hari kalender atau sekitar 7 hari kerja.

Tapi kalo liburan di tanggal-tanggal tersebut, biasanya (lagi) tempat wisata udah hampir pasti penuh, pun dengan jalanannya. Trus musti gimana? Beginilah alasannya perlu perencanaan/penjadwalan.

Buat yang suka travelling, pasti udah kenal istilah peak season, dan low season. Biasanya muncul di periode penginapan dan penerbangan. Peak season di Indonesia selain libur lebaran dan hari libur nasional yang berdekatan dengan akhir pekan (jadi long week end), antara lain juga pada saat pergantian tahun (Desember akhir) dan hari libur anak sekolah (Desember-Januari, & Juni-Juli). Sementara, low season adalah di luar periode tersebut.

Nah, berdasarkan pengalaman saya, liburan paling menyenangkan adalah di saat low season tersebut. Kenapa? Karena tempat wisata tidak terlalu ramai, penginapan bisa dapat harga terbaik, dan transportasi juga tidak berebut. Kalo lewat darat dengan kendaraan roda empat ga bakal kena macet sepanjang jalan, kalo kereta/pesawat/kapal laut ga perlu berebut tiket.

Low season di Indonesia sendiri berdasarkan pengalaman saya adalah di bulan April dan Oktober. Yes, kedua bulan tersebut hampir jarang banget ada hari libur nasional dan belakangan ini belum/bukan bulan Ramadan/Lebaran.

Trus gimana kalo mau liburan ke luar negeri? Kapan low season/peak season-nya? Jawabannya, tergantung negara yang bersangkutan.

Jepang contohnya, peak season untuk liburan biasanya di bulan Maret-Mei. Karena di periode tersebut adalah musimnya bunga Sakura mekar. Sementara untuk Tiongkok (China), peak season-nya antara lain Januari-Februari, karena di periode tersebut biasanya adalah peringatan Tahun Baru Imlek – Lunar New Year.

Kalo belum tau persis peak season di sebuah negara, ga ada salahnya kok konsultasi via agen perjalanan/tur.

Tapi ya kalo mau liburan, pastiin saldo cuti masih cukup dan juga keuangan mendukung. Jangan sampe keabisan ongkos di jalan atau lagi santai-santai liburan tau-tau diteleponin kantor karena ternyata cuti sudah habis. 😆

Jadi, kapan libur(an)?

photo credit: yourbestdigs Three 2017 planners on a desk with a red pen via photopin (license)

Long John, Penyelamat agar Tetap Hangat Kala Traveling ke Negeri Musim Dingin

Pernah jalan-jalan ke negeri 4 musim saat winter (musim dingin)? Pernah ngalamin kedinginan karena badai salju? Atau lagi siap-siap buat bepergian ke negeri 4 musim saat winter? Lebih baik baca dulu postingan ini.

Sebagai makhluk tropis — manusia yang terbiasa dan lama tinggal di iklim tropis, tentunya terbiasa juga untuk selalu hangat hampir setiap saat. Kalaupun kedinginan, biasanya ga lebih saat naik gunung, tinggal di sekitar gunung, dan atau lagi hujan lebat. By default, makhluk tropis hampir ga pernah ngalamin yang namanya salju dan atau suhu di bawah 10 derajat Celcius, atau bahkan di bawah 0 derajat. Tapi karena satu dan lain hal — salah satunya karena kesempatan, harus gimana kalo pergi ke negeri 4 musim saat musim dingin yang suhunya bisa mendekati nol dan atau terkena salju?

Long John
Long John. sumber: https://fitinline.com/article/read/long-john/

Jaket tebal, baju dan pakaian tangan panjang, sampai dengan berlapis-lapis pakaian hangat dan kaos kaki pasti jadi pilihan utama untuk melengkapi perjalanan tersebut. Meski begitu, cara tersebut kurang praktis dan kalo diterapin bisa jadi bikin susah bergerak — karena berlapis-lapis pakaian tersebut. Ada cara yang lebih praktis, yakni dengan menggunakan long john — juga dikenal sebagai long underwear.

Wikipedia: Long underwear, also called long johns or thermal underwear, is a style of two-piece underwear with long legs and long sleeves that is normally worn during cold weather. It is commonly worn by people under their clothes in cold countries. sumber: di sini

Saya pertama kali mengenal long john di tahun 2007 lalu. Singkat cerita lagi penugasan di Tiongkok (China) di saat winter. Penugasan tersebut butuh banget interaksi di luar ruang (outdoor) dan atau ruangan yang tanpa pemanas — karena kebutuhan teknis. Sebagai makhluk tropis, saya awalnya sedikit kewalahan. Kurang lebih seminggu pertama, saya pake pakaian berlapis-lapis, termasuk kaos kaki. Alhasil, susah gerak dan masih kedinginan pula meski udah pake jaket tebal! Kemudian ada salah satu kolega kerjaan bilang “Harusnya pake long john dulu jadi daleman.”

Pergilah saya ke salah satu hipermarket besar, dan beli 2 setel long john. Pertamanya agak sangsi dengan penampakannya yang lebih seperti pakaian dalam ketat, tapi ya karena udah ga tahan dingin akhirnya dicobalah. Jadi, long john digunakan di atas pakaian dalam, lalu dilapis pakaian kasual (kaos, celana panjang, kaos kaki), baru kemudian sweater (kalo suka pake), jaket dan sepatu. Masih berasa dingin sih, tapi seenggaknya udah ga susah gerak dibanding pake pakaian berlapis-lapis.

Pengalaman lain dengan long john sang penyelamat agar tetap hangat terjadi medio 2013-2014 lalu. Seperti pernah dibaca di sini juga (mungkin), saya ke Korea dan Jepang pas lagi musim dingin. Berhubung long john yang saya beli taun 2007 lalu sudah wassalam entah ke mana, akhirnya beli baru di ITC Kuningan. Lagi-lagi, sangsi karena produknya (dijual) dalam negeri. Tapi karena udah butuh, akhirnya beli dan dibawa-lah ke Korea dan Jepang. Hasilnya? Mayan anget, sama seperti waktu di Tiongkok (China) dulu. Malah pernah saya iseng ngetes pada saat pulang long john ga saya lepas sampe turun di bandara Jakarta. Hasilnya? Keringetan segede biji jagung. 😆

Long john ini punya beragam warna (harusnya), juga ukuran. Jadi kalo mau beli, carilah yang sesuai dengan ukuran badan. Soalnya kalo kekecilan atau kegedean, ya jelas ga bakal maksimal jaga hangatnya. Selain itu, sebagian besar long john punya lengan yang panjang, kalo pake kaos (T-shirt) tangan pendek jadi kaya’ kepanjangan gitu. Ga perlu risau atau misleuk (mislook), karena di luar negeri sana juga banyak kok yang begitu. Lagipula, pilih kedinginan (karena ga pake atau lengannya long john dipendekin), atau berasa aneh? Saya sih, pilih ga berasa aneh juga ga kedinginan (soalnya dilapis sweater lagi 😆 ).

Nah, berhubung sekarang udah November dan di negeri 4 musim lagi autumn (musim gugur) dan akan masuk ke winter (musim dingin), yang lagi berniat buat jalan-jalan ke sana karena penasaran dengan salju, mending nyiapin long john dari sekarang. Udah banyak yang jual sih harusnya, apalagi e-commerce udah menjamur. Jadi ga perlu takut susah nyarinya. 🙂 Dan kalo misal takut gerah pas berangkat, ya simpenlah di tas yang dibawa ke kabin. Jadi begitu turun dari pesawat, bisa langsung ganti — atau ganti di toilet pesawat sebelum landing.

Liburan Nekat ke Singapura

Musim liburan biasanya adalah musim yang selalu dinanti setelah selesai berpenat ria dengan tugas-tugas yang menumpuk. Masa-masa liburan sering digunakan sebagian orang berjalan-jalan jauh untuk me-refresh otak. Sama halnya dengan salah satu kenalan saya yang baru lulus UN tahun ini. Sebelum berjibaku dengan dunia kuliah nanti, di liburan panjang kali ini dia berencana pergi ke Bali. Uang sudah disiapkan dan sudah check beberapa harga tiket sebagai referensi sebelumnya.

Menurut ceritanya, ketika ia beritahukan akan rencananya kepada orang tua dan kakaknya, mereka awalnya kaget, apakah berani pergi sendiri ? Karena tekadnya sudah kuat untuk berlibur, kali ini dia yakin dapat mandiri dan bisa mengatasinya sendiri. Dia pun coba search kembali harga beberapa tiket serta akomodasi ke beberapa tempat liburan dan hasilnya kebingungan karena harga-harga sudah berubah dan tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Akhirnya dia bertanya dan konsultasi pada kakaknya yang notabanenya sudah mahasiswa. Mereka coba kembali mencari beberapa tiket dan penginapan di Bali yang murah. Ketika sedang mencari beberapa harga tiket, kakaknya kemudian punya ide cemerlang. “Ini harga ke Bali ga beda jauh dengan harga ke Singapura, kita ke Singapura aja yuk. Kebetulan kakak juga ada beberapa tabungan” Jawab kakaknya dengan mantap.

“Beneran kak ? kita kan sama-sama belum pernah ke luar negeri ?” dia bertanya seperti tidak yakin apa yang dikatakan kakaknya. “Udah tenang aja, besok kita buat passport bareng ya.” Jawabnya dengan mantap.

Dia bilang pada saya, walau ingin sekali pergi ke Bali tapi ke Singapura adalah liburan yang lebih mengasyikkan, ditambah dia tidak akan sendiri — ada kakak yang menemani.

Pembuatan passport mereka pun berjalan lancar, pembelian tiket pesawat dan booking hotel sudah diurus oleh kakaknya dengan pemesanan lewat salah satu OTA (Online Travel Agent) yang ada. Liburan mereka ke luar negeri yang kelihatannya sangat mahal, jadi terasa sangat hemat karena sudah dipersiapkan segalanya.

Kemajuan teknologi memang sangat menguntungkan, liburan mereka yang nekat jadi penuh dengan persiapan. Mereka yang belum pernah sama sekali ke sana, dapat menyusun agenda liburan dengan matang. Sebelum berangkat mereka sudah booking hotel sehingga tidak perlu takut tidak dapat penginapan. Mereka pun merasakan sekali kemudahan dalam mencari tiket serta penginapan dengan OTA.

Berdasar ceritanya, berikut beberapa keuntungan memesan menggunakan OTA.

  1. Pilihan banyak dan variatif
    Mereka memilih beberapa hotel yang mudah transportasi dan dekat dengan beberapa tempat yang ingin didatangi saat di Singapura. Pastinya mereka mencari juga hotel yang pas dengan kantong mereka berdua.
  1. Hemat waktu dan tenaga
    Mereka tidak perlu mengantri lama dan menelepon satu-persatu hotel untuk booking, hanya dengan mengunjungi website sebuah OTA, mereka sudah dapat memesan dengan mudah.
  1. Informasi lengkap mengenai hotel termasuk pendapat pengunjung sebelumnya
    Ini juga merupakan hal yang penting, dengan melihat ulasan pengunjung lain saat menginap di hotel tersebut dapat menjadi referensi mereka untuk memilih hotel yang baik.
  1. Metode pembayaran yang komplit dan aman
    Pemesanan hotel sebelumnya bisa ke kantor cabang travel, langsung bayar di hotel dan via transfer, jadi tidak harus punya kartu kredit. Saat ini ada beberapa metode pembayaran seperti transfer via mobile, ATM atau bayar di indomaret, dan lain-lain. Sehingga jika tidak punya kartu kredit juga tetap dapat memesan.
  1. Penawaran spesial
    OTA sering memberikan diskon terkait pemesanan kamar dan diskonnya bisa sampai 70%

Sekarang dia jadi tidak perlu khawatir jika ingin berlibur jauh, yang utama punya schedule yang baik. Liburannya kali ini bersama kakaknya adalah hal yang tidak bisa dilupakan, katanya sih mereka jadi seperti bocah petualang yang tentunya sangat mengasyikkan. Ternyata ke luar negeri tidak sesulit yang dibayangkan, kan? Berkat OTA dia berterimakasih banget dan untuk liburan depan bakal giat menabung karena tujuan selanjutnya adalah Eropa. Semoga mimpinya dapat tercapai, ya.

Tokyo Tower yang Legendaris

Pengetahuan saya tentang Tokyo Tower berawal dari Doraemon. Iya, betul Doraemon yang tokoh kartun kucing robot itu. Yang temennya Nobita, Shizuka, Giant, & Suneo. Tahunya dari mana? Dari opening serial kartun itu. Kalo ga salah, opening versi tahun 1990an awal (yang tayang di RCTI), ada salah satu scene-nya yang memperlihatkan Tokyo Tower. Kalo ga salah, pas lirik “Aku ingin terbang di angkasa.. Hai, baling-baling bambu!”

Berpendaran @ #Tokyo Tower. #nofilter

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Apr 12, 2014 at 7:15pm PDT

Sejak saat itu, semacam terpatri di benak saya suatu saat harus tahu lebih lanjut mengenai bangunan tersebut. Untungnya, setelah lebih dewasa dan dengan bantuan internet, tahu bahwa bangunan itu bernama Tokyo Tower. Bangunan yang mirip Eiffel Tower di Paris (lebih tinggi Tokyo Tower lho), dan juga salah satu landmark dari kota Tokyo, Jepang.

Singkat cerita, sekitar akhir tahun 2013 sampai dengan awal tahun 2014 lalu, saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan terkait pekerjaan (di saat itu) ke sekitar Korea dan Jepang. Dan pada akhirnya, medio Januari-Februari 2014 saya pun berkesempatan untuk menuju kota Tokyo, Jepang. Otomatis, salah satu yang hendak saya kunjungi di kala senggang adalah Tokyo Tower. Selain karena menjadi bagian masa kecil (karena Doraemon), juga menjadi salah satu checklist saya untuk mengunjungi landmark berupa bangunan tinggi atau fasilitas yang bisa membuat saya melihat kota dari ketinggian.

Tokyo Tower yang terletak di distrik Minato, bisa dicapai dengan subway. Saya lupa persisnya subway jalur yang mana, tapi ada 2 stasiun dari 2 jalur yang berbeda yang bisa sampai ke sana. Selain itu, Tokyo Tower juga bisa dicapai dengan menggunakan Hop On-Hop Off Bus — yang tiketnya berlaku 1×24 jam.

Kesan pertama ketika sampai, jelas adalah takjub. Betapa manusia dengan akalnya bisa membuat sebuah bangunan yang menjulang tinggi ke angkasa dan bisa tahan lama. Belum lagi ternyata bangunan tersebut bisa dinaiki — baik dengan lift maupun tangga biasa. Sekilas saya teringat Monas di Jakarta. Sebagai landmark, bangunan yang memiliki tinggi total 333 meter ini terbagi menjadi 3 bagian: 

  • Area komersil Ini mencakup pintu gerbang, loket tiket, tempat makan/resto, sampai dengan souvenir shop. Tidak perlu tiket masuk khusus ke area komersil ini.
  • Area Pengamatan Bawah Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 150 meter. Ini memerlukan tiket pertama.
  • Area Pengamatan Atas Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 250 meter. Ini memerlukan tiket pertama dan kedua. Total harus membeli 2 tiket.

Selain membeli tiket, juga bisa dengan menaiki tangga untuk ke puncaknya. Tapi sejauh yang saya tahu, menaiki tangga itu hanya untuk acara-acara khusus saja. Seperti misalnya olahraga yang diselenggarakan secara resmi dan bukannya pilihan berhemat.

Ketika saya mengunjungi Tokyo Tower, waktu yang saya pilih adalah mendekati sunset atau matahari terbenam. Sengaja, untuk memotret dan melihat keindahan kota Tokyo diterpa sinar senja. Seperti yang pernah saya lakukan di Sydney Eye Tower lalu. Meski memang, tantangannya besar karena sedang musim dingin. Sehingga waktu sunset lebih cepat daripada biasanya. Selain itu juga jalan kaki dari stasiun subway ke Tokyo Tower cukup jauh, jadi harus melawan rasa dingin meski sudah mengenakan jaket tebal & juga pakaian hangat.

waiting for sunset, #tokyo tower. #silhouette #fromthedistance

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 12:32am PST

Lalu apakah hanya pemandangan sekitar saja yang bisa dilihat? Tentu tidak. Di observatorium (area pengamatan) itu ada menara pandang ke arah bawah, panggung kecil untuk atraksi musisi lokal, sampai dengan resto kecil dan juga toko souvenir. Iya, yang bukan di area komersil.

Enjoyable band performance at club 333, observatory deck of #tokyo tower.

A video posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 3:01am PST

Sehubungan kunjungan saya sudah lewat 2 tahun lebih, maka untuk informasi lebih lanjut bisa dicari di link yang sudah saya cantumkan di beberapa backlink di atas, atau sbb:

Nah, kelak tahun 2020 kalau ada rejeki untuk nonton atau jadi kontingen Olimpiade, boleh lah berkunjung ke salah satu landmark legendaris ini. Dan berdasar pengalaman saya, kalau mau cari oleh-oleh ada baiknya ke area komersil di Tokyo Tower ini. Pilihannya banyak, harganya terjangkau, belum lagi kualitasnya oke-oke. Juga kalau capek, bisa langsung makan/minum dulu di resto sekitarnya. 

*mendadak pengen ke Tokyo lagi*

Keuntungan Berangkat Malam untuk Travelling Jarak Jauh

This morning: sunrise at 41,000 feet. Somewhere above #Japan. #fromabove

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Feb 18, 2014 at 6:45pm PST

Sejak kecil saya dibiasakan untuk melakukan perjalanan jauh. Kapanpun itu — pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari — dini hari. Saat kecil seringkali perjalanan jauh yang dilakukan adalah perjalanan darat, baik itu menggunakan kendaraan mobil ataupun kereta. Perjalanan yang sering dilakukan tak lebih dari Jakarta-Tasikmalaya (kota asal ibu saya).

Kalo ditanya apakah suka? Saya akan bilang, iya dan tidak. Suka karena perjalanan jauh bisa berarti saya punya waktu untuk melihat dan menikmati hal-hal yang tidak ada di keseharian saya. Tidak suka karena jika sudah terkena macet atau terlambat, rasanya sebal sekali. Belum lagi perjalanan jauh amat sangat menguras tenaga — terutama jika mengendarai sendiri dan atau banyak barang bawaannya.

Walau begitu, saya tetap coba menikmati perjalanan.

Dari waktu-waktu perjalanan yang pernah saya lakukan, saya paling suka ketika malam hari. Baik itu berangkatnya, dan atau saat di perjalanannya. Alasannya sederhana: tidak perlu gerah/silau karena terkena matahari. Selain itu ada beberapa keuntungan melakukan perjalanan malam hari, antara lain,

  1. Menghemat waktu di perjalanan.
    Dari sekian banyak orang yang melakukan perjalanan, yang memilih untuk melakukannya di malam hari lebih sedikit. Risiko dan alasannya akan saya utarakan kemudian di postingan ini, tapi satu hal yang pasti adalah menghindari kelelahan dan kurangnya konsentrasi. Sehingga jalanan bisa jadi tidak lebih macet ketimbang siang hari, lebih lancar gitu.
  2. Menghemat budget perjalanan
    Salah satu faktor yang dipertimbangkan ketika melakukan perjalanan adalah budget. Melakukan perjalanan malam hari bisa sedikit menghemat budget karena kita saat tiba di tujuan bisa sudah pagi/siang dan langsung beraktivitas karena tidur sepanjang perjalanan. Jika melakukan perjalanan pagi/siang hari, ketika sampai bisa jadi sudah sore/malam dan keburu lelah sehingga tidak efektif untuk beraktivitas dan perlu budget untuk menginap semalam.
    Menghemat budget juga bisa dilakukan dengan cara tidak perlu membeli makanan/cemilan untuk di perjalanan karena tidur di sepanjang perjalanan.
  3. Bisa langsung beraktivitas ketika sampai di tujuan
    Seperti sudah disebutkan di nomer 2, perjalanan malam hari bisa menguntungkan karena ketika tiba bisa langsung beraktivitas. Hal ini dimungkinkan karena sepanjang perjalanan dilakukan untuk beristirahat, terutama jika perjalanan jauh memakan waktu cukup lama — lebih dari 5 jam. Bisa terjadi untuk bis AKAP dan juga dengan pesawat. Kecuali jika harus menyetir/jadi supir.
  4. Berangkat tidak terburu-buru sehingga tak ada barang tertinggal
    Berangkat malam hari tidak perlu terburu-buru karena waktu malam terasa lebih panjang ketimbang siang hari. Selain itu, persiapan yang dilakukan juga bisa dilakukan di siang hari dan lebih update — terutama jika hendak membawa makanan tak perlu takut basi. Selain itu, jika perlu menyetir/jadi supir di perjalanan malam hari, maka bisa beristirahat terlebih dulu dengan lebih tenang di pagi/siang harinya.
  5. Rest area/tempat peristirahatan/transit lebih lengang ketimbang siang hari
    Penjelasannya seperti nomer 1 di atas, karena lebih banyak orang yang melakukan perjalanan siang hari.

Itu beberapa keuntungan yang pernah saya rasakan ketika melakukan perjalanan malam hari. Meski begitu, melakukan perjalanan di malam hari bukan berarti tanpa risiko. Bahkan bisa jadi risikonya lebih besar ketimbang perjalanan bukan di malam hari. Beberapa yang saya sadari antara lain,

  1. Kemungkinannya besar untuk tidak berhenti/turun di stasiun tujuan dan terbawa ke tujuan berikutnya,
  2. Rawan kehilangan barang karena tertidur lelap, sampai dengan,
  3. Kelelahan apabila mengendarai sendiri karena kondisi fisik harus lebih prima.

Intinya, asalkan kita bisa menjaga diri untuk tetap aman & sehat, maka perjalanan malam hari banyak keuntungannya.

A to Z Backpackeran di Legian Bali

Kalo ngaku berjiwa backpacker, tentunya harus merencanakan segala sesuatunya sebelum berangkat. Salah satu tujuan yang cocok buat jalan-jalan backpacker adalah ke Bali, dengan spot seperti Legian. Nah, buat yang pengen jalan-jalan di seputar Legian, beberapa hal berikut bisa menjadi rekomendasi:

  1. Wisata di Legian

Di kawasan Legian, dapat menikmati keindahan pasir putih di Pantai Legian. Pantai ini sama terkenalnya dengan Pantai Kuta dan Sanur. Pantai Legian terkenal dengan pasir putihnya dan keindahan sunset-nya. Tapi, pantai ini ga serame Pantai Kuta. Jadi kalo mau menikmati waktu bersantai lebih cocok di pantai ini.

Sepanjang pantai yang membentang bisa ngeliat wisatawan berjemur, berenang bahkan berselancar meski ombak di pantai ini tidak terlalu besar. Mayoritas wisatawan asing yang bersantai di pantai ini adalah wisatawan dari Australia.

Selain wisatawan Australia, wisatawan lain yang mendominasi pantai ini adalah wisatawan dari Indonesia. Mungkin karena pantai ini sangat mirip dengan Pantai Kuta karena memang letaknya yang berdekatan dan kawasan Pantai Legian sangat mudah dijangkau dari bandara yaitu hanya 20 menit atau sekitar 6 km.

wisata legian-01

Photoright: plesiryuk.com

  1. Tempat Makan di Legian

Setelah puas bermain air di pantai, pasti laper kan, dan bakal nyari tempat makan di sekitar kawasan pantai. Jangan kuatir! Kawasan Legian udah jadi sebuah kawasan serba ada yang sangat disukai oleh wisatawan, sehingga mencari tempat makan bukanlah hal yang sulit.

Mau makan di tempat yang berkelas dengan standar hotel bintang lima? Tersedia resto-resto yang berjajar di sepanjang Jalan Legian. Atau bisa juga ke resto hotel bintang lima yang ada di sepanjang Pantai Legian.

Atau mau makan di tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan backpacker karena harganya yang terjangkau dengan menu yang lezat? Bisa nih, coba Warung Murah yang berada di Jalan Double Six Legian.

tempat makan legian-02

Photoright: blog.samatkong.com

Warung ini menjadi rekomendasi karena sudah dikenal tidak saja oleh wisatawan domestik namun juga oleh wisatawan mancanegara yang mengunjungi Legian. Di warung dengan menu utama masakan Bali juga menu Thailand, Chinese serta western ini tidak jauh dari Pantai Double Six Legian atau tepatnya di Jl. Arjuna.

Uniknya, karena warung ini sifatnya prasmanan, setiap kali pesan makanan atau minuman, staf warung akan ngasih semacam tag “Just For Food” atau “Just For Drink” yang nantinya bisa diberikan ke kasir. Kasirpun akan segera menghitung jumlah biaya makan tanpa harus bertanya lagi. Praktis juga!

tempat makan legian-03

Photoright: cremaandcrumbs.com

Dengan porsi makanan yang cukup mengenyangkan dan harga yang terjangkau, sayang sekali kalo ga mengunjungi warung yang letaknya persis di seberang Cafe Marzano di area Legian yang padat dan sibuk.

  1. Hotel Backpacker

Jalan-jalan itu ga bisa cuma sebentar, apalagi kalo tempatnya susah/jarang kita datengin. Nah, tentunya sayang kalo berkunjung ke Legian cuma sebentar. Supaya nyaman, enaknya nginep di sekitar Legian juga kan. Untuk itu bakal butuh tempat penginapan yang nyaman namun ramah di kantong. Amaris Hotel adalah salah satu hotel bintang dua dengan fasilitas dan pelayanan juara. Semua info tentang hotel ini bisa dicek di situs booking online Traveloka.

Hotel ini berjarak hanya 4 km dari Bandara I Ngurah Rai dan 5 menit saja berjalan kaki ke Pantai Legian yang akan membuat liburan backpacker di Legian menjadi komplit. Kalau mau belanja, wisata kuliner dan berwisata malam di kawasan Legian yang terkenal dengan cafe dan pubnya, cukup berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit.

hotel backpacker-04

Photoright: hotels.com

Konsep hotel budget yang menjadi ciri khas Amaris Hotel membuat kamar-kamarnya cukup sempit kalo bawa koper besar. Tapi kalau cuma koper kecil atau ransel layaknya backpacking, ga bakal bikin penuh kamarnya yang hanya memiliki satu tempat tidur ukuran queen dengan kabinet dan lampu tidur di sisi kanan dan kirinya. Untuk sekedar tempat beristirahat dan titip barang dengan aman, hotel ini recommended banget.

Walaupun hanya berbintang dua, tapi bakal tetep dapet handuk bersih, toiletries, air mineral dan shower air hangat. Berguna banget kalo perlu mandi di malam hari abis jalan-jalan seharian.

Kalo nginep di Amaris Hotel, juga dapet paket sarapan yang sifatnya prasmanan. Jadi, bisa ambil sendiri sesuai porsi, tapi jangan mubazir ya! Fasilitas lain di hotel ini antara lain kolam renang yang berada di samping restoran dan hanya bisa digunakan dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Oiya, di hotel ini juga mempunyai rutinitas daily housekeeping lho! Jadi, setelah seharian jalan-jalan, kamar yang berantakan bakal disulap jadi bersih dan wangi lagi. Bikin istirahat malam jadi makin nyaman.

Yuk, backpacker ke Legian Bali, yuk!

5 Wisata Populer di Bali

liburanSeumur-umur ke Bali baru sekali, itupun cuma sebentar. Meski begitu, saya punya tekad untuk bisa ke Bali minimal sekali seumur hidup, untuk waktu yang lebih lama & tentunya lebih menikmati.

Bali sebagai primadona wisata Indonesia sangat terkenal di mata dunia. Kekayaan seni budaya, keindahan alam, dan keunikan tradisi ritualnya seolah-olah mampu menyihir para wisatawan yang datang berkunjung. Kekayaan objek wisata Bali yang menarik seolah-olah tak pernah lekang oleh waktu, para wisatawan kerap datang berkali-kali dan masih akan selalu menemukan sesuatu yang istimewa di pulau ini.

Waktu yang paling tepat untuk ke Bali bukan pada saat musim libur, sebab di musim libur Bali amat ramai pengunjung dan segalanya menjadi lebih mahal. Kalau di luar musim liburan keuntungannya bisa mendapatkan tiket pesawat promo ke Bali melalui promo-promo yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan dan travel online. Selain itu, bisa mendapati promo harga di mana-mana baik akomodasi, restoran, tempat hiburan, tempat wisata, dan barang-barang murah saat berbelanja.

Nah, untuk persiapan ke Bali kelak, tempat-tempat wisata populer apa saja ya, yang kira-kira wajib dikunjungi di Bali? Cek dulu yang berikut ini.

1. Pantai Kuta

Pantai favorit wisatawan di Bali yang terkenal akan keindahan matahari tenggelamnya. Lokasinya mudah dijangkau, dekat dengan area pertokoan dan hiburan yang keren di Bali. Pantai Kuta juga suka dijadikan arena selancar bagi peselancar pemula. Tidak dipungut biaya masuk kawasan untuk menikmati pantai ini, jadi bisa menyisihkan uang untuk membeli beragam souvenir unik yang berjejer di toko-toko sepanjang jalan Pantai Kuta.

2. Pura Tanah Lot

Pura Tanah Lot adalah dua buah pura yang berdiri di atas sebuah batu karang besar di tepi laut. Pura ini diyakini sebagai tempat pemujaan Dewa Laut. Kita hanya bisa mendekat ke Pura Tanah Lot pada saat air laut surut, di samping itu juga bisa melihat beberapa ular keramat yang dipercaya menjaga Pura, yang boleh disentuh karena tidak berbahaya. Cukup membayar tiket masuk kawasan pantai sebesar Rp. 10.000, maka langsung bisa menyaksikan keunikan yang ada di tempat ini. Satu lagi, di sini pemandangan matahari terbenamnya juga spektakuler.

3. Garuda Wisnu Kencana (GWK)

GWK adalah sebuah taman wisata budaya di mana berdiri sebuah patung Dewa Wisnu raksasa yang megah karya I Nyoman Nuarta. Patung Dewa Wisnu yang nampak dipahat sedang menunggang Burung Garuda ini terletak di Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung. Di sini juga bisa mengagumi kemegahan blok bukit-bukit pasir raksasa berbentuk balok-balok yang menjulang di sisi kanan kiri taman, dan nantinya akan dihiasi pahatan-pahatan. GWK juga mewadahi berbagai pagelaran seni dan Tari Bali yang bisa ditonton di Amphitheatre.

4. Pura Uluwatu

Sebuah Pura suci yang berdiri anggun di atas ujung bukit karang yang menjorok ke laut. Pemandangan Pura ini sangat memukau dengan dilatari laut biru kehijauan dan sunset yang cantik. Pura ini ikut dihuni oleh sekawanan monyet yang dipercaya sebagai penjaga kesucian Pura, tingkahnya usil jadi hati-hati pada barang-barang yang dikenakan. Ketika berkunjung masuk ke Pura ini, perlu mengenakan pakaian khusus sarung, selendang, atau sabuk khas Bali sebagai simbol penghormatan akan kesucian Pura Uluwatu. Kalau beruntung, juga bisa menyaksikan suguhan Tari Kecak dan upacara ritual Bali di Pura ini.

5. Ubud

Ubud adalah daerah pusat wisata budaya dan kesenian di Bali yang letaknya di dataran tinggi, agak menjauhi kawasan pantai-pantai Bali. Desa-desa perajin ukiran patung, seni tari, seni tabuh, seni lukis, dan toko-toko kerajinan lokal bisa dijumpai di sepanjang jalan Gianyar menuju kawasan Ubud. Beragam aktivitas bisa dilakukan di tengah-tengah kesejukan Ubud, seperti bersepeda di sawah terasering, melihat proses pembuatan kerajinan lokal, menonton Tari Kecak Api, Berbelanja di Pasar Ubud, mengarungi jeram di Sungai Ayung, wisata museum, dan berkuliner ria.

Yuk, kita ke Bali! *langsung ngecek tanggal libur & harga tiket*