β€œAktif” di New Media

New media, atau juga dikenali sebagai ranah internet dan digital, tentu memiliki potensi dan cara yang berbeda untuk dijelajahi ketimbang media lama seperti media cetak dan elektronik. Termasuk juga untuk urusan aktivitas, baik untuk urusan personal (pribadi) maupun brand atau perusahaan.

Dengan berbagai kemudahan dan juga berbagai layanan yang tersedia, aktif di new media menjadi lebih mudah. Tujuannya pun beragam, mulai dari untuk menyalurkan hal-hal yang tak tersalurkan di dunia nyata, hingga memang ingin membuat diri sendiri atau brand lebih dikenal. Tentu tujuan tersebut akan dibarengi dengan cara tertentu yang membuatnya terlihat lebih khas agar mudah dikenali publik – dalam hal ini, publik pengguna new media.

Salah satu cara antara lain dengan menyediakan konten yang menarik bagi para pengguna new media. Sebutlah konten untuk website (situs web), blog, hingga akun facebook, facebook page, dan akun twitter. Apapun jenis layanan yang dipilih, content tersebut haruslah menarik dan sesuai dengan karakter brand atau orang tersebut, sehingga terlihat khas.

Tapi ada kalanya membuat konten yang menarik belum tentu dapat menarik perhatian pengguna new media dengan besar. Disebabkan oleh mudahnya dan beragamnya fasilitas yang bisa digunakan, konten brand ataupun individu menjadi tak lagi berarti karena sudah ada yang lain yang melakukannya. Singkat kata, sudah kurang update (pembaruan). Padahal, belum tentu yang kurang update tersebut sama dengan yang sebelumnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pengguna new media, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yakni, dengan melakukan promosi. Sama halnya dengan media bentukan lama, promosi ini menjadi bagian yang cukup penting agar banyak pengguna mengenal individu ataupun brand yang aktif di new media.

Beberapa langkah promosi tersebut antara lain,

  1. Mengadakan kuis. Bisa dibilang, mengadakan kuis melalui new media adalah cara paling efektif untuk menjaring perhatian paling besar. Apalagi, jika kuis yang dilakukan menggunakan jejaring sosial seperti facebook ataupun twitter. Informasi dapat sangat mudah tersebar, karena berada di situs yang memang berbasis pengguna yang banyak. Namun perhatikan aturan yang ada di situs tersebut, maupun juga buatlah peraturan yang jelas untuk diikuti.
  2. Membuat apdetan berkala dalam benang merah. Apdetan berkala ini dapat berupa kalimat bijak, kutipan menarik, hingga informasi yang diketahui secara spesifik mengenai hal tertentu. Dan, karena sifatnya yang berkala, maka ia perlu memiliki jadwal yang tetap. Tapi perhatikan panjang atau lama apdetan ini. Pada beberapa kasus seperti di twitter yang memiliki batasan karakter, jika terlalu panjang atau lama, justru membuat kondisi kurang nyaman.
  3. Bermain tebak-tebakan. Kini bermain tebak-tebakan dengan cara melontarkan pertanyaan yang aneh, nyeleneh, ataupun justru cenderung sporadis cukup banyak dilakukan. Banyak akun twitter yang melakukan cara-cara tersebut, dan berhasil meraih perhatian dari sekian banyak publik pengguna new media.
  4. Kolaborasi berbagai layanan new media. Makin beragamnya layanan yang bisa digunakan di new media membuat aktivitas brand atau individu di new media menjadi lebih mudah, dengan cara membuat kolaborasi di antara mereka. Contoh paling mudah, memadukan akun dari foursquare (layanan berbasis lokasi) dengan twitter, sehingga publik pengguna new media pun dapat mengikuti di mana saja akun tersebut berada, dan bisa jadi kemudian menghampiri atau mengetahui apa yang sedang dilakukan di sana.

Selain 4 poin yang saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak lagi cara-cara dan strategi yang bisa dilakukan. Bagaimana dengan Anda? Boleh lho berdiskusi di komentar. πŸ™‚

NB: foto asalnya dari sini.

Black Marketing, Strategi Miring Nan Jitu

Anda terlibat dalam pemasaran di kantor Anda? Mau itu produk, ataupun jasa, diperlukan strategi pemasaran atau marketing yang tepat. Baik itu tepat sesuai sifat dari produk atau jasa yang Anda tawarkan, maupun juga tepat sasaran, yakni para konsumen yang Anda tuju. Salah membuat strategi, justru akan muncul cap buruk akan penawaran Anda. Tapi, bagi sebagian orang, cap buruk tersebut adalah salah satu jenis marketing yang baik. Atau bisa dikatakan, lebih baik!

Mengherankan memang, bagaimana bisa sebuah cap buruk justru menjadi salah satu strategi marketing yang oke. Tapi, justru itulah sebenarnya memang. Alasan sebenarnya adalah karena salah satu sifat manusia yang mudah terintimidasi. Sehingga, jika ada cap buruk yang melekat pada sebuah produk atau jasa, maka mereka pun akan dengan mudah terintimidasi untuk sama-sama mengecap buruk, meski sebenarnya mereka belum pernah atau takkan pernah mengonsumsinya.

Strategi cap buruk pada produk atau jasa yang ditawarkan, bisa disebut juga sebagai Black Marketing.

Black Marketing adalah konsep pemasaran produk atau jasa, dengan tidak mengedepankan kelebihannya, melainkan menampilkan kekurangannya secara total. Black Marketing memiliki tujuan utama membangun awareness, atau mempublikasikan nama brand dari produk atau jasa agar dikenal orang banyak, melalui sentimen negatif. Baru kemudian, di suatu titik, dilakukan kampanye “pemutihan” untuk memulihkan brand tersebut.

Harus diakui, dengan menerapkan Black Marketing dapat menambah brand awareness dari produk atau jasa yang kita kelola. Bisa dibilang, cukup boosted. Namun ada hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. Yakni, perhatikan setiap masukan atau saran yang masuk. Jika ada pertanyaan, segeralah jawab. Selain itu, risiko terbesar adalah image negatif yang bisa timbul dari Black Marketing terhadap produk atau jasa.

Yang paling penting adalah, setiap strategi tersebut, harus mampu mendongkrak kepekaan dari orang-orang yang tidak tahu persis mengenai brand yang dikelola. Dan yang paling penting adalah, langkah pemulihan dari Black Marketing tersebut. Caranya bisa dilakukan dengan membuat konferensi pers, menyewa jasa buzzer (pegiat daring dengan massa tertentu), ataupun membuat kampanye yang mengedepankan perubahan menjadi lebih baik. Manapun langkah pemulihan yang dipilih, tentunya harus sesuai dengan cap buruk yang sudah melekat melalui Black Marketing.

Well, semoga berhasil bagi Anda yang akan mencobanya!

NB: foto dari sini.

Cara Mudah Bikin (Rame) Acara di Luar Jakarta

Jakarta identik dengan pusat segala macam yang ada di Indonesia. Ingin mendapatkan sesuatu yang adanya nun jauh di seberang pulau, datang saja ke Jakarta. Pasti tersedia, walaupun tak 100% sama seperti yang diinginkan. Meski begitu, sudah cukup untuk menghilangkan rasa penasaran atau sekadar melepas “dahaga” akan keinginan.

Oleh karena itu pula, Jakarta dikenal sebagai magnet bagi segala penduduk Indonesia. Magnet yang terus menarik kuat setiap jenis masyarakat, untuk terus mendatangi Jakarta. Baik itu menjadi penduduk tetap dengan KTP tembak, ataupun penduduk numpang lewat, alias komuter – tinggal di luar Jakarta, namun bekerja dan beraktivitas di Jakarta.

Sifatnya yang seperti magnet itulah, membuat banyak merek terkenal maupun juga pihak yang sangat berduit, siap mengadakan event di Jakarta. Semacam sayur tanpa garam jika mengadakan sebuah event berskala nasional, namun melewatkan Jakarta sebagai salah satu tujuan penyelenggaraan.

Tapi, itu semua bukan berarti penyelenggaraan event di luar Jakarta justru sepi! Sebaliknya, mengadakan event di luar Jakarta lebih memiliki kemungkinan besar untuk dihadiri oleh para peserta yang benar-benar target oriented, ketimbang di Jakarta, yang sangat beragam.

Lalu, bagaimana caranya? Mudah, bekerjasamalah dengan pihak “lokal”.

Pihak “lokal” di sini, bukan sembarang pihak lokal. Melainkan, sebagian kelompok atau masyarakat yang cukup dikenal atau memiliki perhatian cukup tinggi bagi daerahnya. Sebutlah di antaranya mahasiswa, tokoh masyarakat, ataupun petinggi daerah seperti mantan pejabat, dll.

Mendapatkan kerjasama dengan pihak “lokal” tersebut memang susah-susah-gampang. Kenapa? Karena awalnya seperti sulit untuk mendapatkan kontak dengan mereka, tapi ujung-ujungnya, begitu sudah dikontak, lazimnya mereka akan membantu dengan bersemangat untuk menyukseskan event tersebut. Apalagi, jika event tersebut merupakan bagian dari event nasional.

Saya sendiri, sebagai pekerja media sekaligus pegiat daring, menyarankan untuk mengontak pihak “lokal” yang biasa berhubungan dengan dunia digital. Sebutlah blogger, twitter user, hingga komunitas forum-forum lokal. Banyak contoh yang bisa diambil, seperti Palanta di Sumatera Barat, Cah Andong di Yogya, hingga Anging Mammiri di Makassar. Sekali mengontak dan mengundang mereka pada event yang dibuat, biasanya akan langsung tersebar ke para anggota yang jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Tentu, termasuk cara yang cukup efektif untuk menjadi bahan percakapan, setidaknya di antara para anggotanya, yang kebanyakan sudah melek teknologi.

Dari situ kemudian akan berkembang, info dari mulut ke telinga. Sambung, menyambung. Sebuah strategi yang cukup efektif, untuk menjadikan event di luar Jakarta lebih rame, atau bahkan sangat sukses. Oiya, tawarkan pula gimmick berupa lomba atau kompetisi kecil-kecilan yang hadiahnya bisa diraih oleh para peserta. Hal ini akan menambah ketertarikan mereka akan event tersebut.

Jadi, sudah tahu mau mengadakan event di mana? πŸ™‚