Short Story #355: Kenangan

“Seru kali ya kalo hidup di masa depan.” Joanna berandai-andai.

“Kamu pikir kita sekarang hidup di masa apa?” Felicia menjawab sambil menutupi matanya yang silau diterpa mentari senja.

“Present. Masa sekarang.” Joanna menjawab sambil menoleh.

“Karena waktu itu relatif, bisa juga yang kamu sebut sekarang itu sebenarnya masa depan dari masa lalu.” Felicia menjawab.

“Ugh.. you and your words.” Joanna menggerutu.

“And you.. with your dreams.”

“Eh, biarin dong.”

“Ya aku juga biarin dong.”

“Whatev..” Joanna malas menjawab lagi, lalu kembali memainkan kakinya ke bawah dermaga yang dijilati ombak.

Felicia diam. Ia kembali coba menikmati keheningan senja. Tapi ia penasaran.

“Kenapa sih kamu suka banget ngayal gitu?”

“Ngayal gimana?” Joanna balik bertanya.

“Ya itu, ngebayangin masa depan seperti apa, dan seterusnya.”

“Ya aku penasaran aja, apa jadinya kalo teknologi makin canggih, trus segala macem jadi satu sama makhluk biologis. Ya jadi satu sama kita, manusia gini.”

Felicia diam mendengarkan.

“I wonder if somehow humans can fly, or live long enough even don’t need to die.” Joanna melanjutkan. “Or.. just the simple things like, I wonder if we can record and then keep our memories, so we can live it up again, one day.”

“Aku sih engga mau.”

“Ga mau hidup di masa depan? Kamu sendiri yang bilang bisa jadi ini masa depan dari masa lalu.”

“Ya.. kalo gitu ga mau hidup di masa depan versi kamu.”

“Yang mana?”

“Kurang lebih yang kamu sebut tadi. Apalagi yang memories itu.” jawab Felicia.

Joanna penasaran. “Ga mau bisa ngerekam atau ga mau nginget kenangan itu suatu saat nanti?”

“Keduanya.”

“Kenapa?”

“Karena beberapa kenangan bukan untuk diingat kembali, tapi untuk dilupakan.” Felicia menjawab.

Short Story #354: Partner

Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan.

“Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi.

“Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem.

“Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas yang udah dateng sejak pertama kali kamu bilang butuh referensi! Aku bahkan dapet referensinya dari temen kuliahku yang udah lama ga ketemu.”

Devi menatap kakaknya yang dinilainya sedikit berlebihan.

“Trus?”

“Mau sampe kapan jadi pemilih begini?”

Devi mengubah posisi duduknya.

“Aku ga pemilih, aku cuma punya daftar ceklis buat masing-masing dari mereka.”

“Tapi bukan berarti ga cocok semua kan?”

“Gimana mau cocok kalo ceklisnya ga penuh?”

“Maksudku, bukan berarti semuanya cuma sampe tahapan perkenalan ini aja kan?”

Devi berpikir sejenak.

“Aku ga tau.” Devi menjawab singkat.

“Kamu tuh kaya’ rekrutmen karyawan aja. Pake seleksi ketat.” Dewi berkomentar.

“Ya harus.” Devi menjawab cepat, tanpa diduga oleh Dewi.

“Kenapa?”

“Rekrutmen karyawan yang maksimal kerjanya buat belasan tahun aja harus pake seleksi ketat, apalagi ini yang buat jadi partner seumur hidup?” jawab Devi.

Short Story #353: Kekal

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus.

Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut.

“Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari garis horizon.

“Laut?”

“Bukan, bunga yang tadi kuhamparkan.”

“Setiap bunga bukannya cantik?” Dara menebak.

Rasyid menoleh, menatap Dara yang sedikit memicingkan matanya karena silau akan langit biru.

“Karena dia tidak kekal.” Rasyid memberitahu.

“I thought eternity makes everything better?” Dara menebak.

“Coba, menurutmu mana hal yang lebih berharga: berada di tempat terbaik saat kau tahu besok segalanya akan berakhir, atau berada di posisi yang sama selamanya?”

Sambil membenarkan rambutnya yang tersibak angin laut, Dara diam sejenak. Berpikir.

“Aku… aku kira yang pertama.” Dara menebak, lagi.

“Tepat.” Rasyid membenarkan.

“Tapi bukankah keabadian memberimu banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan segalanya?” Dara penasaran.

“Yang kamu tidak tahu, keabadian juga memberimu waktu dan kesempatan untuk kehilangan segalanya.”

Short Story #352: Harm

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan.

“Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik.

“Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu.

Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya.

“Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.”

“Tapi beda denganku, ‘kan?”

Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.”

“Kenapa?”

Panji diam lagi. Berpikir.

Ratih lalu menoleh ke jalanan di depan kendaraan mereka. Juga asyik dengan pikirannya sendiri.

“Aku kan udah ga secantik dulu.”

“Buatku kamu selalu cantik.”

“Ah, kamu ngomong gitu paling juga karena aku istri kamu, ‘kan.”

“Lho, justru karena kamu istriku. Jadi buatku kamu pasti cantik.” Panji memberitahu. “Kamu selalu cantik.”

“Ah, gombal.”

Panji tahu jika istrinya gundah sejak beberapa hari yang lalu. Sejak sebuah surat undangan tiba di rumah mereka. Undangan tentang seseorang yang pernah hadir di kehidupan Panji.

“You’d be better to stop any thoughts like this. Thoughts about her.”

“Trus kenapa kita sekarang ke undangan itu?” Ratih bertanya. “Emang ga bisa ngedoain yang terbaik aja dari rumah?”

“It’s about paying my respect. About maintaining relationship.” Panji memberitahu.

Ratih kembali merajuk sementara Panji memarkirkan mobilnya di belakang barisan kendaraan lainnya.

“Sudahlah…” Panji coba menghibur. “What harm can ghosts do to us?”

Short Story #351: Kesempatan

Diego melihat selembar kertas di tangannya untuk kesekian kalinya. Informasi yang tertera di sana masih sama. Bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa studi di Eropa. Tapi, ia bimbang.

“We’ll be just fine.” Santi memberitahu. Menguatkan.

“Yang kamu maksud kita, apakah hubungan di antara kita berdua atau masing-masing kita dengan mereka?” Diego bertanya sambil melihat kedua anak kecil bermain di taman kecil di depan mereka.

“All of us.”

Diego tak menjawab. Ia tahu jika Santi benar. Ia tahu jika Santi kuat. Tapi apakah ia sendiri kuat?

“After all these years, you’re still here.” Diego berkata.

“I’m here not just for you..” Santi memberitahu. “Also for me. For them. For us.”

“Tapi…”

“Kita pernah ngalamin yang lebih buruk.” Santi memberitahu. Kali ini dengan menggenggam tangan Diego. “Kamu tahu persis itu.”

Sejenak ingatan Diego melayang ke beberapa tahun silam. Saat ia sudah hampir menyerah. Saat Santi sudah hampir menyerah.

“Ketahuilah, ketika sebuah kesempatan menghampirimu, mungkin karena orang lain mengabaikannya.” Santi memberitahu.

“…atau menyia-nyiakannya.” Diego menambahkan. “Dan, aku ga akan mau menyia-nyiakan kesempatanku denganmu. Dengan kalian.”

Short Story #350: Stronger. Better.

Martha baru saja masuk ke dalam apartemen ketika Guntur keluar dari kamarnya, lalu tas punggung di kursi ruang tamu. Tepat di atas dua buah koper beda ukuran di bawahnya.

“Udah bulat?” Martha bertanya sambil mengunci pintu lalu menuju dapur kecil.

“Ya.” Guntur menjawab sambil melihat lagi ke barang-barangnya.

“Udah semuanya?”

“Yang bisa kubawa, iya.”

“Jadi ke sana?” Martha bertanya lagi sambil kemudian meneguk segelas air dingin.

“Belum tau. Kemungkinan besar iya, tapi mungkin sebagai tujuan akhir.” Guntur memberitahu. “I’ll keep you posted.”

“No need.” Martha memberitahu. “Semakin sedikit aku tahu, semakin baik.”

“Jadi kamu ga perlu boong kalo ditanya?”

“Iya. Begitu.” Martha memberitahu. “Kamu tau sendiri aku ga suka boong sama keluarga sendiri.”

Guntur melihat sejenak ke kakak tirinya itu, lalu mendekati dan memeluknya.

“Thank you. For everything. For these times.”

“We’re family. That’s what we do.” Martha berkomentar. “Meski sebenarnya aku berharap kamu mau melakukan hal lainnya. Opsi lainnya.”

“We’ve been through this conversation.” Guntur menjawab sambil balik lagi ke arah ruang tamu. “Aku ga mau percakapan yang bisa jadi terakhir di antara kita, justru hal-hal yang ga enak, atau gantung.”

“Very well then.” Martha berkata, lalu berjalan menuju kamarnya.

“Oiya, penasaran aja.” kata Guntur yang membuat Martha berhenti tepat di lorong menuju kamarnya. “Kamu ga pernah komen apapun soal yang terjadi. You never said anything about what they’ve done. You just encourage me to face it. To live with it.”

Martha hanya tersenyum.

“Aku ga tau apakah itu karena kamu ga peduli, atau kamu peduli karena pernah ngalamin sendiri tapi aku ga tau gimana persisnya.”

“Guntur, what others do to you, only makes you stronger.” Martha memberitahu. “But what you’ll do to respond them is what matters the most, ’cause it makes you better. Either positive ways, or negative.”

Short Story #349: Alasan

Yoga merapikan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai. Sesekali ia menghela napas, tapi hanya itu. Tak ada perkataan yang ia ucapkan meski ia ingin.

Saat ia tengah memasukkan bagian kecil pecahan-pecahan kaca tersebut ke sebuah kantung kertas, Devi terlihat menarik kopernya menuju pintu depan. Beberapa langkah dari posisi Yoga.

“I’m leaving.” Devi memberitahu.

Yoga tak menjawab meski ia ingin sekali. Ia memutuskan untuk fokus membereskan pecahan kaca. Beberapa gulungan kertas besar ia masukkan ke dalam kantung kertas tadi agar tidak menyulitkan petugas kebersihan sehingga terkena kaca.

“Kamu denger ga?” nada suara Devi meninggi.

“Aku dengar.” Yoga memberitahu. Ia mencoba tenang sambil mengikat sampah pecahan kaca tadi lalu berdiri. Menatap Devi.

“Aku ga tau bakal balik lagi apa engga.”

“Ya.”

Meski sudah beberapa kali mereka bertengkar, tapi Devi masih saja sulit untuk menerima jika Yoga bisa setenang itu.

“Kalo aku ga balik lagi, kita udahan.”

“Kamu ngasitau atau nanya?” Yoga bertanya.

“Aku ngasitau.”

Yoga diam sejenak. Coba memikirkan perkataan selanjutnya. Coba memikirkan apa reaksi Devi berikutnya.

“Diam artinya setuju.”

“Ga bisa gitu. Aku diam karena mikir.” Yoga memberitahu.

“Kelamaan.” Devi bersiap untuk membuka pintu.

“Tunggu!” Yoga berteriak.

Devi diam. Pintu sudah setengah terbuka. Devi sudah setengah beranjak keluar.

“Tunggu apalagi?” Devi bertanya.

“Aku ga mau jadi alasan kamu untuk marah lagi.”

Devi diam. Mendengarkan. Menunggu.

“Kamu mau marah, ya silakan. Tapi jangan melulu beralasan karena aku yang salah.”

“Jadi menurutmu aku salah?”

“Bukan begitu.” Yoga memberitahu. “Marah, kesal, sebal, itu hak dan boleh. Tapi jangan selalu mencari-cari alasan untuk itu dari aku.”

Devi diam kembali.

“Asal kamu tahu, aku tahu kamu juga ga suka kan kalo aku marah-marah. Tapi aku kalopun begitu, aku kasitau kamu kenapanya, kira-kira berapa lamanya, dan apa yang baiknya kamu lakukan.”

“Tapi aku bukan kamu.” Devi memberitahu.

“Aku tahu itu.” Yoga langsung menjawab. “Makanya, kalo kamu marah-marah, ya aku diam. Karena segala yang aku lakukan, selalu bisa kamu jadiin alasan untuk lebih marah. Untuk lebih ngomel. Untuk teriak-teriak.”

Mendengar kalimat terakhir Yoga, Devi terhenyak.

“Kalo emang aku salah, ya bilang aku salah. Objektif. Jangan hanya karena ga sesuai sama maunya kamu. Karena itu subjektif.”

Devi menutup pintu. Lalu menatap Yoga.

“I’m not going to say sorry, since I’m not feeling sorry.” Devi memberitahu dengan suara parau.

“Ga harus.” Yoga memberitahu. “Dengan kamu sadar bahwa aku ga mau selalu dijadiin alasan kamu untuk marah-marah, itu udah cukup.”

“Ga bisa…” Devi berbisik.

“Kenapa?”

“Karena kamu juga jadi alasan aku supaya bisa jadi lebih baik.”

Short Story #348: Stick Back

“Kalo aku bisa milih, aku juga ga bakal mau pergi.” Julia memberitahu.

“Maksudmu, kamu ga punya pilihan?” Indra menanyakan hal yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.

“Kamu yakin mau ngulangin ini lagi?” Julia balik bertanya.

“Ya karena kamu ngomong gitu, aku jadi pengen inget lagi.” Indra memberitahu. “Karena sebenarnya, aku sudah lupa.”

“Termasuk melupakanku?”

Indra diam sejenak sebelum menjawab. Ia melihat cantiknya paras Julia yang seakan tak lekang oleh waktu.

“Iya.”

Julia langsung menarik napas. Ia tak menduga Indra akan bilang begitu. Setidaknya, tidak ia duga saat ia memutuskan untuk mendatangi kedai kopi yang dimilliki oleh Indra itu.

“Harusnya aku ga usah datang ke sini.” Julia mulai membereskan barang-barangnya. “Aku bodoh sekali karena mikir masih ada yang harus diselesaikan di antara kita.”

“Memang ada kok yang belum selesai.” Indra langsung menjawab.

Julia langsung berhenti. Ia kembali melihat ke arah Indra. “Sungguh?”

“Iya, tapi mungkin ga seperti yang kamu harapkan.”

Julia bimbang. Ia ingin mendengar apa yang Indra maksudkan, tapi ia takut ia tidak siap. Ia takut, apa yang Indra utarakan tak seperti harapannya.

“Kamu mau dengar?”

“Mungkin sebaiknya tidak.” Julia berkata sambil meretsleting tasnya. “Kali ini kuanggap semua di antara kita sudah selesai. We’re done.”

Julia lalu berdiri, dan ketika berjalan melewati kursi Indra, ia tertahan. Pergelangan tangan kanannya ditahan oleh Indra yang sedang menatapnya.

“Aku mohon maaf kalo ternyata kamu justru patah hati.” Indra memberitahu. “But one thing for sure, one day, someone is going to hug you so tight, that all of your broken pieces will stick back together.”

Short Story #347: Catch Up

“Ga pernah aku ngerasa sesendiri ini…” Renata menggumam.

“HeY, what are you talking about? I’m always here.” Kusno langsung merespon dengan memeluk lebih erat.

Renata menoleh ke Kusno yang berada di sampingnya. “Maksudku bukan kamu…”

“Trus, ada cowok lain dalam hidupmu?” Kusno bertanya. Memastikan.

“You know you’re the one only.”

Kusno tersenyum. Lalu membelai rambut Renata.

“Ini soal yang kemarin itu?” Kusno akhirnya bertanya lagi.

“Tepatnya, beberapa bulan yang lalu itu.”

“Still no follow-ups?”

“Gimana bisa ada follow-up kalo obrolan terakhirnya ya begitu itu.”

Kusno menghela napas. “Beberapa orang emang suka gitu sih, milih buat ga lagi  jadi bagian hidup kita.”

“Tapi aku pengen mereka jadi bagian hidupku. Hidup kita.” Renata memberitahu. “Tapi kenapa harus gitu, sih?”

“Well.. dua hal yang pasti tentang orang lain di hidup kita. Kita ga bisa milih, dan kita ga bisa maksa.” Kusno memberitahu.

“Ucapanmu terdengar religius banget.”

“Ya… gitu lah.”

Giliran Renata menghela napas. Lalu menarik tangan Kusno agar memeluknya lebih erat. Kusno pun makin mendekatkan kepalanya ke kepala Renata.

“Life goes on. Dengan atau tanpa beberapa orang, kamu tetap harus ngelanjutin hidup.” Kusno berbisik.

“Tapi gimana kalo aku sayang banget dan berharap mereka terus ada dalam hidupku?” Renata kembali bertanya.

“So don’t worry. Kalo emang udah takdirnya, they’ll catch up.”

Short Story #346: Bikin Happy

“Udahan ya nangisnya.” Harsa membujuk Lindri yang masih sesenggukan. “Nanti berkurang cantiknya.”

“Jadi jelek, gitu?” Lindri menjawab sambil masih sesenggukan.

“Ya engga. Berkurang aja cantiknya daripada biasanya.” Harsa langsung merespon.

“Kalo mau bilang aku jelek, ya jujur aja deh. Ga usah sok-sok ngehibur segala.” Lindri membentak.

Harsa sejenak kaget, tapi kemudian justru terkekeh.

“Yaudah, terserah kamu deh mau nangis sampe kapan. Yang pasti kalo nangis terus, bakal capek lho. Mending tenaganya dipake buat yang lain. Yang lebih berguna. Yang lebih pasti. Yang lebih baik.”

“Seperti?”

“Ya.. hal-hal yang bikin kamu happy, misalnya.”

“Iya, seperti apa?” Lindri mulai tertarik, tapi tissue masih di tangannya untuk sesekali menyeka linangan air matanya.

“Jalan-jalan? Belanja? Makan?”

“Kamu tuh ya, garingnya ga abis-abis.” Lindri menjawab. “Jelas-jelas aku ga suka itu semua, gimana bisa happy?”

“Ehehe.. kamu kaya’ baru kenal aku aja. Emang gini bukan?” Harsa membela diri.

Lindri sebal dan hendak memukul lengan Harsa, tapi belum sempat terjadi Harsa sudah bersiap dan menghindar.

“Katanya pengen aku happy, masa’ aku mau mukul karena sebel kamu justru menghindar?”

Harsa tak menjawab. Kemudian pasrah lengan kirinya ditonjok beberapa kali oleh Lindri.

“Udah?” Harsa bertanya sambil jaga image, meski dalam dada ia menahan sakit.

“Udah.” Lindri memberitahu. “Makasih, ya.”

“Anytime..”

“Mukulnya?”

“Lho, bantu bikin happy-nya!” Harsa langsung mengoreksi.

“Ya kirain…”