Category: Story

Short Story #354: Partner

Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan. “Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi. “Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem. “Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas

Short Story #353: Kekal

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus. Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut. “Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari

Short Story #352: Harm

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan. “Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik. “Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu. Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya. “Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.” “Tapi beda denganku, ‘kan?” Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.” “Kenapa?” Panji diam lagi.

Short Story #351: Kesempatan

Diego melihat selembar kertas di tangannya untuk kesekian kalinya. Informasi yang tertera di sana masih sama. Bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa studi di Eropa. Tapi, ia bimbang. “We’ll be just fine.” Santi memberitahu. Menguatkan. “Yang kamu maksud kita, apakah hubungan di antara kita berdua atau masing-masing kita dengan mereka?” Diego bertanya sambil

Short Story #350: Stronger. Better.

Martha baru saja masuk ke dalam apartemen ketika Guntur keluar dari kamarnya, lalu tas punggung di kursi ruang tamu. Tepat di atas dua buah koper beda ukuran di bawahnya. “Udah bulat?” Martha bertanya sambil mengunci pintu lalu menuju dapur kecil. “Ya.” Guntur menjawab sambil melihat lagi ke barang-barangnya. “Udah semuanya?” “Yang bisa kubawa, iya.” “Jadi

Short Story #349: Alasan

Yoga merapikan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai. Sesekali ia menghela napas, tapi hanya itu. Tak ada perkataan yang ia ucapkan meski ia ingin. Saat ia tengah memasukkan bagian kecil pecahan-pecahan kaca tersebut ke sebuah kantung kertas, Devi terlihat menarik kopernya menuju pintu depan. Beberapa langkah dari posisi Yoga. “I’m leaving.” Devi memberitahu. Yoga tak menjawab meski

Short Story #348: Stick Back

“Kalo aku bisa milih, aku juga ga bakal mau pergi.” Julia memberitahu. “Maksudmu, kamu ga punya pilihan?” Indra menanyakan hal yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu. “Kamu yakin mau ngulangin ini lagi?” Julia balik bertanya. “Ya karena kamu ngomong gitu, aku jadi pengen inget lagi.” Indra memberitahu. “Karena sebenarnya, aku sudah lupa.” “Termasuk melupakanku?” Indra

Short Story #347: Catch Up

“Ga pernah aku ngerasa sesendiri ini…” Renata menggumam. “HeY, what are you talking about? I’m always here.” Kusno langsung merespon dengan memeluk lebih erat. Renata menoleh ke Kusno yang berada di sampingnya. “Maksudku bukan kamu…” “Trus, ada cowok lain dalam hidupmu?” Kusno bertanya. Memastikan. “You know you’re the one only.” Kusno tersenyum. Lalu membelai rambut

Short Story #346: Bikin Happy

“Udahan ya nangisnya.” Harsa membujuk Lindri yang masih sesenggukan. “Nanti berkurang cantiknya.” “Jadi jelek, gitu?” Lindri menjawab sambil masih sesenggukan. “Ya engga. Berkurang aja cantiknya daripada biasanya.” Harsa langsung merespon. “Kalo mau bilang aku jelek, ya jujur aja deh. Ga usah sok-sok ngehibur segala.” Lindri membentak. Harsa sejenak kaget, tapi kemudian justru terkekeh. “Yaudah, terserah kamu

Short Story #345: Sedikit Cerita

“Bener ‘kan yang gue bilang kemaren.” Sarah berkomentar sambil menyimpan tasnya di atas meja kubikelnya. Jane dan Jeremy yang menjadi teman dekat kubikelnya, serempak menoleh. “Yang mana?” Jeremy bertanya. “Itu lho, yang kemaren sore.” Sarah menjawab. “Pagi ini gue liat sendiri tuh ternyata si anak baru itu emang udah tekdung!” “Lo liat di mana, nek?”