Short Story #100: Pilih Yang Mana?

“Udah ada putusannya?” tanya Gwen santai ke Ayumi di depannya.

Ayumi menghela napas. Pandangannya tetap mengarah ke cakrawala yang
membatasi lautan di depannya.

“Aku ga tau ah..”

“Berarti belum..” Gwen menarik kesimpulan sambil kemudian menarik
kakinya naik ke atas dermaga. Bersila.

“Aku ga bisa kalo harus milih di antara mereka..” Ayumi berujar.

“Listen to your heart..” Gwen memberi saran.

Ayumi menghela napas lagi sambil memainkan kakinya di air lautan yang
menggerakkan ombak.

“Hatiku belakangan ini sepi. Bingung juga nampaknya.” ucap Ayumi.

“Kalo gitu, pake koin aja. Sisi angka buat Pram, sisi Garuda buat Candra.”

Ayumi buru-buru menggeleng. “I don’t want to gamble for this..”

“Ya tapi cepat atau lambat, kamu harus kasih jawaban dong sama
mereka.” Gwen memberitahu. “Supaya mereka punya kepastian. Kamu mau
jadi istri salah satu dari mereka, atau gimana.”

“Bingung, Gwen..” jawab Ayumi. “Candra itu cowok idaman gue banget,
tapi Pram itu ngerti apa mau gue..”

“Jadi, pilih yang mana?” tanya Gwen lagi.

“I just don’t know the answer..” jawab Ayumi tak pasti. Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya seakan itu bisa menghilangkan rasa
pusingnya.

Gwen lalu menatap garis horizon lautan. Menatap semburat lembayung senja.

“Aku sayang sama mereka berdua.. Sama besar rasa sayangnya.. Tapi aku
ga bisa kalo disuruh milih siapa yang lebih pengen aku nikahin..” nada
suara Ayumi mulai bergetar.

“Gampang sebenernya..” ucap Gwen santai tanpa menyadari Ayumi langsung
menoleh ke arahnya. “Love in our life is not about choosing someone
you can live with, but it’s about choosing someone you cannot live
without.”

Short Story #99: Merayakan Cinta

“Nanti malem bakal ada acara apa, nih?” tanya Dwi pada Icha, teman sekantornya, saat mereka sedang makan siang bersama.

“Lho, emang ada yang spesial gitu hari ini?” Icha justru balik bertanya sambil bergerak mengecek kalender.

“Kan Valentine’s Day, Cha..” Dwi memberitahu. “Emang tadi pagi suamimu ga ada yang beda, gitu?”

“Hmm….” Icha menggumam sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia sedang mengingat-ingat apa yang terjadi di pagi hari sebelum berangkat kerja. “Nothing differents deh kaya’nya.. Seperti hari-hari lainnya aja.”

“Lho? Koq bisa?” Dwi sedikit terkejut.

“Ya bisa.. lah emang kenapa harus ada yang berbeda?”

“Today is Valentine’s Day, Cha.. Va-len-tine..” Dwi mengulang. “Hari kasih sayang sedunia, lho..”

“Terus hubungannya?” tanya Icha.

Dwi memutar matanya sambil menarik napas.

“Suamiku aja tadi pagi, tumben-tumbennya bangun duluan dan ngebangunin aku pake ciuman. Berasa Putri Tidur gitu deh jadinya.. Berasa spesial!” Dwi memberitahu sambil kemudian pipinya memerah.

“Ooh..” respon Icha datar. “Terus? Terus?”

“Iya, trus sarapan pun udah siap.. Dan sebelum berangkat kerja pun dia tumben-tumbennya nyium kening aku.. Sambil bisik-bisik  kalo dia punya kejutan malam ini.” Dwi melanjutkan. “Duh, jadi ga sabar buat nanti malem. Berasa balik lagi kaya’ pacaran gitu.. Dimanjaaaaaaa banget.”

“Ooh..”

Mendengar respon Icha yang biasa saja, Dwi sedikit sebal. “Kamu dan suamimu ga ngerayain hari ini, ya?”

“Lho, buat apa?” respon Icha segera.

“It’s Valentine.. Hari khusus buat merayakan cinta..” Dwi menjawab dengan penekanan.

Icha tersenyum. “Emangnya harus?”

“Ga harus, tapi kan tanggal 14 Februari cuma sekali dalam setahun..”

“Aku ga ngeliat hubungan antara 14 Februari dan hari khusus buat merayakan cinta.” jawab Icha santai. “Anyway, aku ga butuh tanggalan atau satu hari khusus buat merayakan atau menikmati cinta. Karena suamiku selalu ngebuat aku ngerasa spesial setiap harinya.”

Short Story #98: Benci

“Ga rela rasanya kalo mulai besok harus ngelepas seragam putih abu-abu
ini..” celetuk Indra di suatu siang di lapangan basket belakang
sekolah sambil menyaksikan teman-teman sekelas mereka bermain basket
untuk terakhir kalinya.

“Lah, emang loe mau terus-terusan jadi anak SMA gitu?” tanya Citra,
teman dekatnya sejak kelas satu dulu.

“Ga gitu juga sih.. Abis gue masih ada yang ga kesampean aja gitu..”
jawab Indra.

“Apaan?”

“Pengen ngerjain Pak Arwin, guru BP kita yang super nyebelin itu..”

“Lah.. Sebegitu bencinya loe sama dia?” tanya Citra.

“Ya…gitu deh..” jawab Indra ogah-ogahan.

Lalu diam. Keramaian hanya berasal dari tengah lapangan basket.

“Emangnya, loe ga ada yang dibenci gitu?” tanya Indra.

Citra diam sejenak. Menarik napas.

“Ada sih.. Tapi ya, ga gitu gue pikirin..” jawab Citra.

“Kok bisa, Cit? Bukannya kalo loe udah benci ga bakal bisa ‘ga
dipikirin’ gitu aja?” tanya Indra.

“Bisa aja ah..” jawab Citra.

“Emang siapa, Cit? Gue tau ga siapa orangnya? Trus, kenapa loe ngebenci dia?”

Citra menarik napas lagi.

“Gue benci loe, Ndra. Soalnya selama ini ga pernah ngajakin gue
jadian, padahal gue selalu ada buat loe..” jawab Citra sambil beranjak
pergi.

Short Story #97: Ngapain Percaya Ramalan Zodiak?

“Ternyata Scorpio itu cocoknya sama Pisces..” ucap Kania di dalam
kelas. Kebetulan, guru mata pelajaran kelasnya sedang tak masuk.

“Cocok gimana? Buat pacaran gitu?” tanya David, salah satu teman
sekelas yang bangkunya kebetulan berdekatan.

“Iya kali.” jawab Kania.

“Trus, trus, kalo Leo cocoknya sama apa?” tanya Februa, teman sekelas mereka.

“Loe tuh aneh Feb, nama Februa tapi zodiak koq ya Leo..” celetuk Jonathan.

“Sirik aja ah loe, Jon!” Februa menyeru.

“Udah..udah.. Nih gue kasitau ya, kalo kata ramalam zodiak, Leo tuh
cocoknya sama Sagitarius..” potong Kania.

“Mmm.. Siapa ya cowok sagitarius yang ganteng, tajir, dan straight?”
Februa langsung merespon.

“Langka!” jawab David segera. “Paling banyak pasti cuma 2 poin aja
yang terpenuhi..”

“Ebuset deh, sampe sebegitunya ngejudge orang..” Februa menjawab.
“Emang loe zodiaknya apa sih, Vid?”

“Gue? Kaya’nya sih Aries..” jawab David.

“Aries itu cocoknya sama Capricorn..” ucap Kania.

“Ga cocok kalo kata gue sih..” celetuk Jonathan. “Masa’ iya domba
cocok sama kambing? Nanti malah adu kepala mulu!”

Kania dan Februa langsung tertawa mendengarnya.

“Halah.. Ngapain juga percaya ramalan zodiak..” kata David.

“Kan lumayan Vid, buat referensi..” Kania berujar yang langsung diiyakan Februa.

“Referensi tuh yang bisa keliat mata, kedenger telinga, bukan yang
dimimpiin kaya’ ramalan zodiak gituh..” respon David.

“Emang contohnya apa?” tanya Jonathan.

David tiba-tiba mendekati Kania.

“Gue tau zodiak loe Aquarius, dan kalo kata zodiak ga cocok sama gue
yang Aries. Tapi loe mau ga jadi cewek gue?” tanya David ke Kania
sambil setengah berteriak sehingga sebagian isi kelas mendengar.

Short Story #96: Beda Beberapa Menit Saja

Dering ponsel Dian perlahan membuyarkan mimpi dalam tidurnya. Sambil
malas-malasan, Dian mengangkat ponselnya tanpa membuka mata.

“Halo…” ucap Dian parau.

“Hei, Cantik! Ayo banguuunnn…!” jawab suara di seberang yang sanggup
membuat Dian segera membuka mata.

“Edwiiinn… Aku kangeeennn…” suara Dian segera berubah manja.

“Aku tau Sayaaaanngg.. Aku juga kangen kamuuuuu…” jawab Edwin menimpali.

“Kamu kapan pulang, Win?” tanya Dian.

“Aku baru pulang nih…” jawab Edwin.

“SERIUSAN?!” seru Dian sambil terduduk.

“Iya.. Baru pulang dari kampus ke flat..” jawab Edwin sambil kemudian terkekeh.

“Iiihhh… Aku serius, malah dibecandain..” Dian berubah ngambek.

“Lah ya abis udah tau cowoknya ini lagi kuliah dapet beasiswa, koq ya
ditanyain mulu kapan pulang?” Edwin berkelit.

“Hih! Leluconmu ga mutu!” nada suara Dian marah sambil menjauhkan ponselnya.

“Eh! Jangan dimatiin teleponnya! Kan mahal nih internasional!” Edwin
segera meminta.

Dian pun mendekatkan kembali ponselnya ke telinga.

“Jangan ngambek dong Sayang.. Masa’ mau ultah koq ambegan.. Nanti ga
dewasa-dewasa dong..” Edwin meminta.

“Yee.. Masih aja ya ngeledek.. Gini-gini juga ada yang mau!”

“Iya, aku yang mau.. Cowok laen sih, mana mau sama cewek childish kaya’ kamu..”

“Aku tutup teleponnya, nih!” Dian mengancam.

“Eh, jangan-jangan! Duh… Jangan ambegan gitu dong, Manis.. Nanti aku
kasih banyak oleh-oleh deh.” Edwin merayu.

“Aku ga butuh oleh-oleh. Aku butuh kamu!” jawab Dian segera.

Edwin tak segera menjawab. Hening tercipta di antara mereka.

“Udah hampir jam 12 malam ya di sana.. Tinggal beberapa menit lagi nih
kamu jadi birthday girl..” Edwin mengalihkan.

“Yeah.. Lonely birthday girl..”

“Ah engga.. Kan ada aku..” ucap Edwin.

“Beda 7 zona waktu koq ya dibilang ada…” Dian merespon.

“Bikin permintaan hadiah ultah dong, supaya aku ga sampe beda 7 zona
waktu sama kamu..” ucap Edwin.

“Emang ampuh?”

“Udah.. Bikin permintaan hadiah ultah aja dulu.. Tapi diucapin lewat
telepon, ya..” Edwin meminta.

“Kenapa harus diucapin lewat telepon?” tanya Dian.

“Kadang, keinginan terdalam kita harus diucapkan agar dihayati
sungguh-sungguh sama alam semesta..” jawab Edwin. “Udah, sekarang
ucapin keinginan kamu!”

Dian diam sejenak sambil menarik napas. “Aku minta hadiah ulang
tahunnya kamu cuma beda beberapa menit aja dari aku..”

“Your wish, is about to be fulfiled..” jawab Edwin sambil memutus
sambungan telepon tiba-tiba.

Belum hilang keheranan Dian dengan putusnya sambungan telepon dari
Edwin, ketika tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

Tanpa ganti baju, Dian bergegas menuju pintu depan untuk mengetahui
siapa yang berada di sana. Tanpa perlu melihat melalui lubang intip,
ia membuka pintunya.

“Edwiiiiinnn…!!!”

Short Story #95: Suatu Pagi di Taman Kota

Pagi itu taman kota tak terlalu ramai walau hari Minggu. Mungkin,
sebagian warga kota sedang berlibur keluar kota. Mungkin, warga kota
sudah lupa akan taman kota. Tapi, tidak dengan Benny.

Sambil sesekali melihat ke arah danau di depannya, Benny membaca buku
yang ia pegang dengan tekun. Membiarkan desir angin menyibakkan poni
di dahinya sekali waktu.

“Apa yang lagi kamu baca?” tanya seorang gadis yang sudah berdiri di sampingnya.

Benny berhenti membaca bukunya, lalu menatap gadis itu. “Aku lagi baca
buku cerita fantasi.”

“Oh, tentang dongeng gitu?” tanya gadis itu terlihat tertarik.

“Iya..” jawab Benny pelan. “Tepatnya tentang ular naga, hutan mistis,
dan para ksatria gagah berani..”

“Wah! Aku juga suka!” seru gadis itu. “Aku boleh duduk di samping kamu?”

“Buat apa?”

“Aku pengen denger ceritanya..” ucap gadis itu tanpa kehilangan
gairahnya. “Tentu, itupun kalau kamu mau nyerita buat aku..”

“Oh.. Boleh aja..” jawab Benny sambil bergeser mempersilakan gadis itu
untuk duduk.

“Jadi, gimana ceritanya?” tanya gadis itu setelah duduk.

“Kamu ga mau dengar dari awal?” tanya Benny.

“Ga usaaaaahh.. Langsung aja dari yang kamu baca..” jawab gadis itu antusias.

“Oke..” respon Benny. “Jadi, ceritanya si Leonard sang ksatria, lagi
tersesat di hutan mistis dalam perjalanannya buat nyari pedang
bertuah..”

Gadis itu tiba-tiba mengernyitkan dahinya. “Aku sepertinya pernah
denger cerita itu deh..”

Benny tak menjawab. Tapi dalam hatinya timbul rasa harap.

“Leonard ini yang bakal ketemu Demon si penjaga jalan itu bukan?”
tanya gadis itu.

“Iya..” jawab Benny singkat.

“Oohh.. Kalo gitu aku udah tau.. Pasti nanti pedang bertuahnya buat
naklukin raja bengis di negeri seberang kan? Dan, sebelumnya dia bakal
temenan sama naga itu kan?” tanya gadis itu lagi.

Kali ini, Benny tersenyum kecil. “Iya, bener sekali..”

“Kalo gitu aku udah tau ceritanya..” gumam gadis itu. “Tapi aku tau
dari mana, ya?”

“Mungkin dulu ada yang pernah ceritain sama kamu juga..”

“Kaya’nya iya.. Tapi siapa, ya?” gadis itu bertanya-tanya sendiri.

Benny ingin sekali memberitahu jawabannya, tapi ia memilih diam. Menunggu.

“Ah.. Aku ga tau..” ucap gadis itu. “Kalo gitu aku ga jadi denger
ceritanya ya.. Aku mau keliling taman lagi ah..”

Gadis itu segera beranjak dari samping Benny tanpa sempat Benny
mencegah. Tak lama, gadis itu sudah berlari-lari riang di sekitar
padang rumput dekat bangku di mana Benny duduk menatapnya.

“Kemajuan?” tanya seorang pria berumur yang berdiri di belakang kursi Benny.

“Dia udah mulai inget cerita ini, Pah.. Mudah-mudahan selanjutnya dia
bisa inget aku, Papah, dan keluarga kita semua..” jawab Benny.

“Kabar yang bagus, Ben.. Bener kata kamu kalo kita harus perlahan buat
bikin dia inget..” jawab pria itu. “Tapi aku semakin tua, Ben..”

“Aku akan jaga anakmu sebisa aku, Pah.. Biarpun ingatannya ilang, tapi
dia tetap istriku..”

Short Story #94: Berseberangan

Tedi larut dalam diam. Tubuhnya terasa lelah. Tenggorokannya masih
terasa tegang. Kepalanya panas. Tapi semua tak ia tunjukkan, melainkan
hanya termenung sambil menatap pecahan gelas di depannya.

“Aku capek begini terus..” ucap Sifa di salah satu kursi tak jauh dari
Tedi. “Kita harus berhenti ngelakuin ini semua, Ted.”

Tedi tak menjawab, melainkan hanya menggeser badannya sedikit di atas
kursinya. Ingin sekali dalam hatinya ia menatap Sifa, tapi benaknya
menolak.

“Mungkin lain kali ga bakal ada gelas lagi yang bisa aku lempar.
Mungkin barang-barang lain.” kata Sifa. “Mungkin takkan ada barang,
tapi lebih buruk dari itu..”

“Don’t say like that.” jawab Tedi. “Kita cuma perlu berubah jadi lebih
baik aja..”

Sifa mendengus. “Kita?”

“Iya, kita.” jawab Tedi datar.

“Mungkin bukan kita yang perlu berubah, tapi salah satu dari kita.”
respon Sifa. “Kita terlalu berbeda, Ted. Mungkin kalo salah satu
berubah jadi seperti yang satu lagi, kita jadi sama. Dan… Ga ada
lagi perbedaan..”

Tedi tersenyum kecil. Sifa melihatnya dari sudut matanya, meski ia
menatap ke arah lain.

“Perbedaan itulah yang justru membuat kita bersama, Fa..” Tedi memberitahu.

“Tapi kalo perbedaan itu sampai membuat kita berseberangan, gimana? Ga
akan ketemu apa yang sama, dong!” elak Sifa tak setuju sambil melihat
Tedi.

Tedi menoleh ke arah Sifa seakan tahu jika Sifa sudah melihat ke arahnya.

“Kita memang berseberangan. Di sisi yang berseberangan tepatnya.” kata
Tedi datar. “Kamu di sisi sana melihatku, dan aku di sisi ini
melihatmu. Kalau kita di sisi yang sama, takkan mungkin kita saling
melihat, bertemu, atau mungkin mencintai, ‘kan?”

Bahasa Indonesia itu Kaya

Sebelum membaca lebih jauh blogpost saya, coba jawab pertanyaan berikut,

Sebelum di blog saya, kapan terakhir kali baca/ucapkan/dengar kata-kata seperti nan, alangkah, amboi, niscaya, elok, atau nian?

Bagi yang menjawab terakhir kali mendapati kata-kata tersebut dalam periode kurang dari sebulan terakhir, patutlah bersyukur. Bisa jadi, lingkungan sekelilingnya meliputi orang-orang yang bercakap-cakap dengan kekayaan bahasa Indonesia. Bagi yang lebih dari sebulan, tak perlu berkecil hati. Karena memang kata-kata tersebut kini sudah semakin jarang digunakan oleh generasi terkini.

Balik lagi ke judul dan juga topik postingan blog saya ini, sebenarnya dan selayaknya bahasa Indonesia itu kaya. Banyak sekali unsur bahasa dan kata-kata yang diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi sekarang dalam bentuk yang unik sekaligus mencerminkan ke-Indonesia-an. Kenapa? Karena hampir takkan ditemukan di bahasa lainnya. Contohnya? Ya.. seperti yang saya tulis di pertanyaan di awal-awal tadi.

Penjelasan singkatnya mudah saja seperti berikut,

Amboi dan nian, adalah sebagian kata yang bisa digunakan untuk dalam ungkapan pujian, terlepas dari maksud buruk atau baik. Coba bandingkan dengan kata-kata generasi sekarang yang mungkin lebih mengenal “Wow!” dan atau “banget, atau the most”.

Lalu, kalau bahasa Indonesia itu kaya, kenapa? Apa kita perlu menggunakan kata-kata tersebut di keseharian kita? Jawabnya ya, dan tidak. Ya, sesekali perlu kita gunakan. Agar kita tidak lupa terhadap akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Tidak, karena tak semua orang mengetahui arti dari kata-kata tersebut – meski mungkin dulu saat sekolah dasar, pernah belajar mengenai kata-kata tersebut, tapi kemudian lupa karena tergerus kata-kata yang lebih modern dalam pergaulan.

Adakah pihak yang pantas atau patut disalahkan? Buat saya pribadi, tidak ada. Karena saya juga sulit untuk tetap menggunakan bahasa tersebut. Lebih mudah rasanya menggunakan kata-kata yang lebih updated, sleng, dan mungkin aktual dibandingkan kata-kata terkini atau terbaru. à Mengerti maksud saya?

Oiya, seiring penghabisan postingan ini, ada sesuatu hal yang pantas diketahui oleh orang banyak. Yakni kekayaan bahasa Indonesia itu bisa dinikmati dengan membaca cerpen-cerpen angkatan 66, 45, atau bahkan angkatan yang lebih awal seperti balai pustaka atau pujangga baru. Penggunaan diksi di tulisan mereka begitu benar-benar membuat kita perlu membacanya berulang-ulang, sekaligus juga terngiang-ngiang akan isi ceritanya. Yah, setidaknya saya begitu. ^^v

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #93: Bukan Yang Pertama

“Ada apa, De? Aku tadi langsung ke sini begitu baca sms kamu yang
bilang pengen ngobrolin soal minggu depan..” tanya Arya sambil menarik
kursi di depan kekasihnya, “Tetep jalan sesuai rencana, kan?”

Dena tak langsung menjawab. Ia hanya menatap sekilas ke Arya, lalu
menarik napas sambil kemudian melihat ke arah meja.

Selintas, Arya berpikir ada yang tak beres. Pasti ada yang tak beres.

“Ada apa?” Arya mencoba memegang tangan Dena di atas meja, tapi tak
berhasil. Dena menarik tangannya.

Sekejap, ruangan cafe favorit untuk pertemuan mereka terasa hening,
dingin, dan sepi.

“Kenapa sih kamu milih aku, Mas?” tanya Dena.

“Maksud kamu apa, De?” Arya balik bertanya.

Dena menarik napas. Lagi.

“Ya..itu, kenapa kamu milih aku? Kenapa ga cewek lain? Masih banyak
kan cewek yang lebih cantik, pinter, atau bahkan ngejar-ngejar Mas..”
ucap Dena. “Aku ‘kan bukan siapa-siapa dibanding Mas yang dikenal di
mana-mana..”

Giliran Arya yang menarik napas. “Justru karena itu aku suka dan milih kamu..”

“Tapi kan aku cuma cewek biasa, Mas. Ga kaya’ cewek-cewek yang
sebelumnya udah pernah jadian sama Mas..” Dena langsung menanggapi.

“Ya justru itu, De. Karena kamu beda.” ucap Arya.

Dena menarik napas lagi.

“Ada apa, sih De? Kamu takut Mas tinggalin, ya?” ucap Arya sambil coba
menggenggam tangan Dena. Kali ini berhasil.

“Ak…aku takut ga bisa bikin nyenengin Mas kaya’ cewek-cewek sebelum
aku.” Dena berujar. “Buat aku, Mas adalah segalanya yang pertama.
Cowok pertama yang ngapelin aku ke rumah, cowok pertama yang bisa
ngambil hati Bapak, juga cowok pertama yang Ibu setuju buat jadi pacar
aku. Bahkan, ciuman pertama aku pun sama Mas..”

Arya diam tersenyum. “Dan karena itu kamu takut, aku bakal ninggalin kamu?”

“Aku takut rasa seneng yang selama ini aku jalani selama sama Mas,
bakal ilang tiba-tiba..” jawab Dena setelah diam agak lama.

Arya melepas satu tangannya dari tangan Dena. Ia lalu memegang dagu
Dena hingga wajahnya saling bertatapan dengannya.

“Kamu mungkin bukan yang pertama, De. Tapi.. aku pengen kamu jadi yang
terakhir buat aku..” jawab Arya.

Short Story #92: Kriteria

“Jadi kapan toh, Na?” tanya Laksmi pada putra bungsunya.

“Apanya yang kapan, Bu?” Krisna balik bertanya.

Laksmi menyimpan sendok dan garpu ke piringnya. “Kapan Ibu bisa punya menantu lagi?”

“Menantu Ibu kan udah banyak.” ucap Krisna berkelit.

“Tapi itu kan menantu dari mas dan mbak-mu. Bukan darimu.” respon Laksmi.

Krisna tak menjawab lagi. Kalau sudah begini, ia tahu betul apa yang harus dilakukan. Yakni, mendengarkan dan menyimak setiap ucapan Ibunya.

“Fitri itu ayu, lho Na. Anaknya Bu Rahma itu ga pernah macem-macem. Rajin bersih-bersih rumah juga.” Laksmi mulai memberikan pilihan. “Atau kamu maunya sama Juwita? Anak dari Bu Sinta itu? Ibu dengar dia pintar masak.”

Krisna tak menjawab. Ia hanya duduk di kursinya sambil memandangi piring makannya yang sudah kosong.

“Ningsih anaknya Pak Dewanto itu kabarnya ulet dan cerdas, meski dia lulusan SMA.” Laksmi meneruskan. “Atau kalo kamu maunya yang sama-sama sarjana bisa nanti sama Dwi, anaknya Pak Joko, RT kita itu. Tapi mungkin nanti beda usianya lebih dari lima tahun sama kamu..”

Krisna tetap tak menjawab. Ingin rasanya ia memilih salah satu di antara nama-nama yang sudah disebutkan ibunya, tapi tak ada kata apapun yang terucap dari bibirnya.

“Kamu koq diem aja, toh Na? Ga mau pilih karena belum kenal? Ga usah dipikirken.. Toh Ibu udah kenal sama mereka dan juga orangtuanya kalo Ibu dateng ke rumah mereka.”

“Aku ya bingung, Bu.”

“Bingung kenapa? Tinggal pilih aja salah satu dari nama yang udah Ibu kasih tau tadi. Gampang, toh?”

“Pilih istri itu kan ga gampang, Bu. Aku juga punya kriteria sendiri.” Krisna memberitahu.

“Kriteria opo? Kamu kalo kebanyakan kriteria, nanti Ibu keburu nyusul Bapak ke surga sebelum dapet mantu dari kamu.”

“Ibu jangan ngomong gitu ah. Pamali lho, Bu.” Krisna mengingatkan.

“Lah ya abis kamu milih perempuan buat istri aja mikirnya setengah mati. Bisa keburu mati duluan, Na.” Laksmi memprotes.

Krisna menarik napas.

“Emang apa sih kriteria dari kamu? Perlu keuangan yang stabil? Perlu pesta nikah yang megah? Prospek warisan?” tanya Laksmi. “Kalo iya begitu, Ibu tau siapa yang bisa dipilih..”

“Kriteria dari aku gampang aja, Bu. Cuma satu aja.” ucap Krisna. “Istriku nanti cinta sama aku, di saat susah dan senang. Sama seperti Ibu dan Bapak, dari pertama kali nikah dulu, sampai sekarang anak-anaknya besar.”