Gangster Squad: Classy Modern “Cowboys”

poster film Gangster Squad dari wikipedia (click to know more)

Cerita-cerita dan juga film-film bertemakan mafia, jaman 1920-1930an dan juga 1940-1950an di Amerika Serikat, ataupun film koboi, selalu menarik perhatian saya. Sebut saja: seri The Godfather, Magnificent Seven, Wild Wild West (the original), sampai dengan yang paling baru itu The Great Gatsby. Film-film seperti itu semacam punya daya tarik tersendiri, apalagi kalo semuanya jadi satu.. mungkin jadinya ya seperti film Gangster Squad.

Yep, film yang disutradarai Ruben Fleischer ini, menurut saya memadukan berbagai elemen yang menarik bagi saya. Yakni mafia, jaman 1940-1950an, dan juga koboi. Tembak-menembak, jaringan kejahatan, dengan gaya berkelas (classy) jadi ciri khas film ini, yang didukung juga oleh cerita yang – menurut saya – BAGUS. Ya.. mungkin bisa ditebak di beberapa titik cerita, tapi ya.. tetap saja bagus.

Bukan, ini bukan ala The Untouchables yang perpanjangan dari agen federal, Gangster Squad ini lebih ke sebuah unit khusus kepolisian kota beranggotakan beberapa orang Polisi yang melakukan “kejahatan” terhadap kejahatan. Fight fire with “fire”. Tepatnya, melawan bisnis yang jadi backup sebuah jaringan kejahatan, dengan cara dirampok, dibakar, dan “dihabisi” oleh para Polisi. Tapi semua uang ataupun penghasilan dari bisnis dari kejahatan itu ga diambil, melainkan tetap dihanguskan – semuanya.

Tembak-menembak, raut muka yang khas, hingga pakaian yang begitu menawan sesuai era 1940-1950an benar-benar membuat saya tak bisa melepaskan mata dari film berdurasi sekitar 113 menit ini. Film ini jadi berasa film koboi di era modern dengan gaya pakaian dan cara bertarung yang amat-sangat berkelas. Apalagi didukung akting dari Josh Brolin (Sgt. John O’Mara), Ryan Gosling (Sgt. Jerry Wooters), dan yang-cocok-banget-jadi-penjahat Sean Penn (Mickey Cohen), plus Emma Stone (Grace Faraday – yang muncul dikit banget, tapi tetep jadi pemanis film ini).

Jalan cerita dari film ini juga menurut saya cukup oke – walau muncul beberapa pertanyaan di beberapa tempat, sbb:

  1. Waktu rumahnya John O’Mara diserang kelompok suruhannya Mickey, sebuah mukjizat besar istrinya yang lagi mengandung dan siap-siap melahirkan ga (diceritakan) kena cedera sedikitpun dan melahirkan dengan selamat di bak mandi. IYA, DI BAK MANDI! – jadi penasaran, bak mandi buatan amrik bisa tahan peluru kali ya? *eh*
  2. Pas Conwell diserang penjahat, kok bisa dia ga sadar sama sekali ada orang dateng? Apa sebegitu kedap suaranya “markas” Gangster Squad atau headhphone, jadinya ga nyadar ada yang dateng? Atau, dia terlalu asyik nguping rumahnya Mickey?
  3. Trus, pas night club ditembakin dari luar buat nyerang salah satu “utusan” keluarga dari Chicago atau New York itu, kenapa pengunjung dari dalem night club ga ada yang nyadar sama sekali?

Tapi ya, itulah film. Kalo katanya @warm, nonton film itu harus optimize otak kanan – dengan kata lain, jangan kebanyakan mikir. Just enjoy the show.

Eiya, kalo katanya Wikipedia sih, selain Gangster Squad yang diceritakan di film ini, aslinya pada era 1940-1950an di Los Angeles emang ada Gangster Squad yang asli sih. Jadi penasaran ya, apa aksi-aksi mereka sama atau mendekati dengan yang ada di film ini.

Kamu udah nonton film Gangster Squad belom?

A Good Day to Die Hard: Running Out of Story?

poster taken from wikipedia  *click for page source*

Susah mati: ditembak, terluka, berdarah-darah tapi ga mati-mati. Bruce Willis, a.k.a. John McClane, si Polisi dari NYPD yang sempat pindah ke LAPD dan kemudian pindah lagi ke NYPD. Ya.. secara logis, kalo gampang mati ga bakal dong dia jadi tokoh utama di filmnya.. *eh*

Sejak Die Hard, Die Hard 2 (Die Harder), Die Hard 3 (Die Hard with Vengeance), dan Die Hard 4.0 (Live Free or Die Hard) total ada 4 film di seri Die Hard & John McClane ini – sebelum ada yang kelima ini. Sempet ngira bakal “abis” di film keempat, eh ga taunya dibuat film kelima dengan judul A Good Day to Die Hard.

Iya, saya kira bakal “abis” di film keempat karena menurut saya film keempat itu puncak dari “susah mati”-nya si John McClane dan juga penghabisan dari tokoh antagonis yang dimunculkan di setiap film. Well, film pertama berkisar pada penyanderaan sebuah gedung & perusahaan, film kedua pembajakan bandara & penyalahgunaan kemampuan militer, di film ketiga berkisar pada pembalasan dendam dari film pertama sekaligus pencurian emas, hingga film keempat berupa penyerangan menyeluruh terhadap sistem dan struktur kemapanan negara. Sudah seperti itu? Iya, ultimate story dari seluruh seri Die Hard menurut saya berpuncak di film keempat. Tapi nyatanya, itu cuman anggapan saya aja karena produser-produser Hollywood melanjutkan seri tersebut.

Siap-siap ada spoiler…

A Good Day to Die Hard adalah sekuel keempat sekaligus film kelima dari seri Die Hard. Bagus? Menurut saya cukup, tapi tidak cukup bagus. Iya, so-so lah.. kalo di skala 10, saya menilai film ini sekitar nilai 6 dan 7. Mungkin 6,5 tapi ya.. pokoknya antara nilai 6 dan 7. Kenapa? Karena menurut saya ceritanya “sedikit” dipaksakan.

Well, saya akui saya bukan Die Hard fans ataupun John McClane fans, tapi saya mengikuti perkembangan ceritanya dari film ke film. Dan, menurut saya film kelima ini dipaksakan karena sbb:

  1. John McClane dibuat melakukan aksinya di luar negerinya sendiri – terlepas dari keberadaan Jack McClane (anaknya) yang sedang melakukan operasi CIA. Iya, “dipaksa” melakukan aksi di luar negeri, karena di dalam negeri sudah ga ada “tantangannya” lagi.
  2. Chernobyl seperti dipaksakan masuk ke dalam film agar terlihat lebih masuk akal tentang bahan-bahan radioaktif yang tertinggal. Di dalam film, bahan-bahan radioaktif tersebut yang rencananya akan digunakan untuk teror yang lebih besar.
  3. Kehadiran anak gadis dari tokoh antagonis, yang dibuat seolah-olah sebuah twist di dalam cerita – namun tetap saja penonton akan melihatnya sebagai pemanis.
  4. Aparat keamanan Rusia terlihat kurang preparatif dan kurang responsif terhadap pengamanan sidang, dan pengeboman yang terjadi. Kalo emang bener tokoh Yuri itu jadi lawan dari salah satu pejabat negara, ya harusnya pengamanannya lebih oke dong. Apalagi pejabat negaranya bilang di awal film, “…semua orang di sidang itu orangku.” – atau mungkin justru karena itu, jadinya kurang ya pengamanannya?
  5. Petugas kepolisian jalan raya kurang terlihat sepanjang film – terutama di adegan pengejaran antara John McClane, antagonis, dan Jack McClane.
  6. Umm.. apalagi ya? *mikir*

Selain karena hal-hal yang seperti “dipaksakan” agar sesuai dengan plot cerita, film kelima Die Hard ini masih tetap mempertunjukkan beberapa poin positif mengenai cerita dan juga nilai (values) yang erat kaitannya dengan kehidupan nyata. Eng.. jangan langsung mengarah ke soal perjuangan mengejar penjahatnya ya, tapi coba ke hal-hal kecil yang (mungkin) diabaikan sehari-harinya. Mau tahu?

  1. Family does matters. Itu hal yang saya dapatkan dari A Good Day to Die Hard (dan juga dari film-film sebelumnya). Sebuah keluarga itu penting, tak peduli apa pun pekerjaanmu, seberat dan setangguh apapun hal yang harus dihadapi setiap harinya, keluarga tetap haruslah menjadi prioritas. Kenapa? Agar sebuah keluarga tetap harmonis, serta perkembangannya tetap baik.
  2. Komunikasi itu penting, terutama bagi orang-orang terdekat. Ya, ga musti setiap menit, setiap jam, ataupun setiap hari. Tapi masa’ iya seminggu sekali ga ada kabar sama sekali? Come on! Di jaman teknologi makin canggih setiap harinya, dan makin banyak pilihan komunikasi? Saya nulis ini, karena komunikasi dengan orang-orang terdekat seenggaknya bakal ngebuat mereka – yang kita anggap dekat, tetaplah merasa diperhatikan. Yes, I do believe in that.
  3. Let the officials do their work, don’t interrupt only if you’re requested to do that. Petugas pemerintah, aparat keamanan, dan masih banyak lagi elemen lembaga resmi tentunya lebih tahu apa yang harus dilakukan terhadap beragam situasi. Well, itu kan sudah jadi kewajiban dan bagian dari tugas/pekerjaan mereka. Kalo ada kemudian warga sipil, atau mungkin bagian dari mereka yang kebetulan mengetahui namun sedang tidak aktif bertugas, maka bukanlah kewajiban. Apalagi kalo udah soal yurisdiksi – coba kalo ga ngerti apa artinya, gugling deh.. 😛
  4. *mikir apaan lagi*

Itu sih menurut saya. Menurut kamu gimana? Atau jangan-jangan belom nonton?

(Fast &) Furios 6: Villains, Tank, and (of course) Cars

Fast & Furious 6

All roads lead to this. Begitu bunyi tagline sekuel ke-5 dari film The Fast & The Furious ini. Pertama baca tagline itu, ga sempet mikir macem-macem, kecuali kalo sekuel ini bakal jadi lanjutan yang terjadi di film sebelumnya – Fast Five, dan juga kemunculan lagi tokoh yang sempet (dikira) mati di Fast & Furious (film keempat/sekuel ketiga) – Letty. Sesuai dengan premis yang dibentuk oleh trailernya.

Udah, gitu doang. Sesederhana itu. Dan soal Owen Shaw (dan Joe Taslim yang jadi komplotannya)? Itu sih mikirnya sebagai “just another villain that will perfectly fit the movie.”

Udah, segitu aja? Iya. Kalopun ada yang kepikiran lagi ya paling penasaran sama perannya Joe Taslim di film itu. Bakal seperti apa sih, kalo aktor beladiri Indonesia main di sebuah film yang termasuk salah satu seri sukses buatan Hollywood?

Ada lagi? Ya.. ada sih, tapi ga seperti pemikiran-pemikiran di dua paragraf sebelumnya. *halah*

Anyway, ternyata pendapat yang bilang “make low expectations, and you’ll be surprise” itu benar adanya. Iya, seperti harapan saya terhadap film (Fast &) Furious 6 ini. Dari pemikiran-pemikiran saya yang ga gitu ngarep macem-macem, akhirnya saya emang beneran kagum dan cukup terkesan dengan filmnya.

Betul, film Furious 6 ini emang layak buat ditonton (siap-siap bisa jadi ada spoiler). Ada jagoan, ada penjahat, aksi kejar-kejaran mobil, aksi ledakan, aksi tembak-tembakan, dan juga twist. JUGA ADA TANK! Semua yang dibutuhkan sebuah film laga.

Dan juga, ada satu hal yang selalu ada (CMIIW) di setiap film Fast & Furious, yakni balapan mobil dengan taruhan. *tapi belom nemu link youtube-nya nih*

Plus ada scene Joe Taslim yang menghajar Tyrese & Sung Kang di Waterloo. (awas SPOILER!)

Tapi, ada beberapa hal yang masih ngegantung dan kurang, terutama dalam soal cerita. Iya, ceritanya kurang menggigit ketimbang film keempat (Fast & Furious) atau kelima (Fast Five). Ya, sah-sah aja kan saya bilang begitu? Kan saya juga nonton. :mrgreen:

Anyway, ada beberapa hal yang agak “rancu” atau menggantung dari film ini, antara lain: (awas ada spoiler ya!)

  1. Kalo emang Hobbs itu dari badan keamanan internasional, kenapa kaya’nya dia ga punya tim seperti di Fast Five?
  2. Kalo Owen Shaw itu jago dan lebih bos daripada Braga (penjahat di Fast & Furious – film keempat), kenapa dia malah ngelakuin sendiri semua aksi kejahatannya, dan bukannya kaya’ Braga yang lebih nyuruh kaki tangannya?
  3. Kalo emang ada penyusup di timnya Hobbs berupa Riley, kenapa timnya Owen Shaw harus susah-susah nyuri data soal timnya Dom Toretto ke Interpol? Bukannya lebih gampang lagi kalo lewat Riley itu?
  4. Trus di penghujung film, KENAPA kok tiba-tiba semua mobil yang dipake bisa ada harpoon (atau apalah itu namanya) yang bisa dipake buat nembak pesawat?

Jadi, itu pendapat saya. Kalo sampe kelak jadinya ga nonton filmnya karena kebanyakan spoiler, ya it’s your choice. Karena kalo saya sih, ada spoiler atau engga, ya.. saya tetep nonton filmnya. KARENA SAYA EMANG MAU NONTON.

Eiya, kalo komentar istri saya soal film Fast & Furious 6 ini begini: “Ya wajar aja jagoannya kalah berantemnya, ya cuma jago balapan doang tapi ga jago berantem kaya’ penjahatnya.”

NB: poster filmnya dari sini.

Kamu udah nonton Fast & Furious 6 belum?