Rekayasa Sosial

Bukan, ini bukan social-engineering itu – meski secara terjemahan langsung bisa dikaitkan. Rekayasa = engineering, dan sosial = social. Maksud dari tulisan yang saya ambil sebagai judul ini adalah (sedikit) perubahan yang saya putuskan.

Di salah satu postingan yang saya buat di blog sebelah (yang sedang diistirahatkan untuk sementara ini, terutama dari peredaran google), saya pernah memuat kalo saya lulus meraih gelar sarjana teknik. Kemudian juga pernah disebut kalo saya hendak melanjutkan sekolah lagi ke tingkat magister. Dari petunjuk judul postingan dan juga dasar sarjana teknik, maka pasti bisa ditebak (dengan mudah?) kalo saya melanjutkan ke bidang sosial.

Lebih lanjut postingan ini akan saya simulasikan dalam bentuk tanya jawab — karena sedikitnya pasti ada yang bertanya-tanya bukan? sok pede

Ga sayang sama ke-insinyur-annya?

Sayang.

Ga pengen jadi Magister Teknik / Master of Engineering? Kan bidang rekayasa lebih mudah memberikan kontribusi ke masyarakat.

Kepengen, sih jadi Magister Teknik atau Master of Engineering itu. Bahkan masih kepengen. Tapi kontribusi ke masyarakat ga selalu harus lewat bidang rekayasa — lagipula, “lebih mudah” di pertanyaan itu kayanya perspektif aja karena hasilnya lebih terlihat ketimbang non-rekayasa. Ciyus.

Bukannya pengen jadi (punya gelar profesi) insinyur?

Iya, betul kok. Masih pengen. Tapi kalo ga salah baca, gelar profesi insinyur bisa diraih di bidang yang masih terkait rekayasa/keteknikan. Optimalisasi – salah satu pembelajaran di Teknik Industri (sesuai gelar ST), bisa diterapkan dan diambil contoh kasusnya dari bidang yang di luar rekayasa/keteknikan, meskipun pemecahannya harus tetap memperhatikan kaidah teknik. Juga perihal manajemen proyek, yang secara istilah dekat dengan Teknik Sipil, tapi pada penerapannya bisa diterapkan juga di bidang komunikasi atau eksperimen sosial.

Bukannya jauh ya kaitan antara rekayasa dan sosial?

Betul. Ga salah. Bahkan di awal-awal kuliah magister ini saya harus melalui fase matrikulasi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tahapan studi. Fase matrikulasi juga berfungsi untuk memberikan landasan yang sama antara lulusan non-sebidang dengan yang sebidang – termasuk yang sama-sama rumpun sosial. Tapi pada prakteknya semuanya saling terkait. Banget.

Pindah jalur ke sosial karena tuntutan pekerjaan?

Ya dan tidak. Singkat cerita, dulu pas penentuan IPA-IPS masuk kelas 3 SMA (betulan, bukan XII ya) juga udah terbersit mau pilih kelas IPS atau bahkan Bahasa. Pun ketika mau pilih program studi pas ujian masuk kuliah. Meski kemudian kuliah di rekayasa dan bekerja di bidang sosial, sebagian ilmunya tetap kepake kok.

Good luck, then.

Terima kasih.

Sumber gambar.

Disclaimer: Saya sedang mencoba untuk mengubah cara saya membuat update postingan (ngeblog) start 2018 ini. Mudah-mudahan konsisten!

GrabHitch: Pilihan Terbaru Untuk Perjalanan

Sebagai masyarakat Jakarta yang aktif untuk bepergian hampir setiap hari dan menggunakan moda transportasi yang berbeda-beda – kendaraan pribadi maupun juga umum, seringkali saya dihadapkan pada sulitnya mengatur waktu perjalanan. Baik itu waktu untuk berangkat/pulang, maupun waktu di perjalanan. Terutama di hari kerja (weekdays) Senin-Jumat karena jam kerja saya yang tidak seperti orang kebanyakan.

Bayangannya mudah saja: ketika orang lain berangkat kerja sekitar jam 6-8 pagi, saya justru jam-jam setelahnya. Selain karena jam masuk kantor yang memang beda, juga karena pagi hari saya masih harus mengurus keperluan anak saya yang mulai sekolah. Pun juga dengan pulangnya, ketika orang lain jam 4-6 sore sudah mulai beranjak pulang, saya justru jam-jam setelahnya. Perbedaan jam berangkat dan pulang kantor ini yang seringkali menyulitkan saya untuk mengatur waktu perjalanan. Imbasnya, sulit untuk mendapatkan moda transportasi umum yang nyaman dan aman karena tidak di saat peak hour (jam sibuk). Belum lagi perihal harga.

Aneh ya? Tenang, saya yang ngalamin sendiri juga udah berasa aneh kenapa di saat bukan peak hour justru susah dapetin transportasi.

Solusinya? Tentu dengan menggunakan kendaraan pribadi. Tapi ada kalanya saya juga capek terus-terusan nyetir atau bawa motor sendiri. Selain faktor lelah bekerja, juga kaya’nya asyik aja kalo berangkat ke kantor di pagi hari ga usah takut muka kusam dan keburu capek di jalan karena bawa motor, atau pulang ke rumah masih ada tenaga sisa bekerja yang kemudian bisa digunakan untuk bercengkrama dengan keluarga di rumah.

Di saat itulah kemudian saya mengetahui tentang GrabHitch dari Grab. Baik itu info dari kenalan, maupun juga dari notifikasi di aplikasinya Grab.

Alhasil, saya pun coba ngecek di app-nya dan udah ada opsinya. Info dari sana-sini, katanya bisa booking sebelum melakukan perjalanan. Sedikit penasaran, maka saya pun coba eksplorasi fitur tersebut. Contohnya hari Jumat ini, saya coba booking dari malam sebelumnya untuk dijemput dari area Kelapa Gading ke arah Perintis Kemerdekaan di jam yang sudah saya pilih. Sekitar Jumat pagi hari, ada notifikasi masuk berupa SMS dan juga melalui app-nya kalo udah ada Teman Tebengan yang ambil orderan saya. Praktis!

Jumat ini, di sekitar waktu dan tempat yang telah ditentukan, mas Jainal yang jadi Teman Tebengan GrabHitch saya kali ini pun jemput saya. Mudah pula ketemu sama dia, karena by default sudah ada foto dan nopol motornya. Jadi ga perlu cari-cari lagi. Juga foto saya ada di profil Teman Tebengan GrabHitch.

Setelah mas Jainal ngasih helm dan pastiin klik, jalanlah.

Di perjalanan, sambil sesekali menaikkan volume suara karena angin yang menderu, saya iseng deh nanya-nanya sama mas Jainal ini. S = saya, J = mas Jainal.

S: “Kenapa jadi Teman Tebengan GrabHitch, mas?”

J: “Ya lumayan ya Pak, buat nambah-nambah penghasilan setiap kali berangkat-pulang kerja.”

S: “Emang kerjanya di mana & jam berapa?”

J: “Di Rawamangun. Shift sore ke malam.”

Dalam hati saya mikir, ternyata ada juga yang mirip sama saya untuk urusan waktu perjalanan kerja. Mas Jainal ini ternyata kerja sebelum peak hours, dan pulang malam setelah peak hours lembur.

S: “Udah berapa lama mas?”

J: “Sebulanan, lah.”

S: “Biasa barengan ke arah mana aja?”

J: “Ya ga jauh-jauh dari jalur saya berangkat-pulang aja. Kelapa Gading, Rawamangun, Pulo Gadung, Sunter. Orangnya juga macem-macem, ada yang mau kerja, ada yang pulang kerja, pernah ada juga yang mau main ke Ancol tapi nyasar gitu.”

Dari situ saya pun narik kesimpulan kalo mas Jainal ini cukup khatam area wilayah Jakarta Timur dekat Jakarta Utara.

Setibanya di tujuan, mas Jainal pun saya ajak foto bareng. Buat dokumentasi, saya bilang. Dan, begini nih posenya dia.

Mas Jainal, teman tebengan saya di hari Jumat ini.
Mas Jainal, teman tebengan saya di hari Jumat ini.

Beberapa alasan kenapa saya senang dengan GrabHitch:

  1. Bisa ketemu orang baru yang ternyata satu arah dengan saya. Siapa tau bisa jadi relasi bisnis. Belum lagi kalo ternyata ketemu orang seperti mas Jainal ini yang ternyata profil kerjanya mirip sama saya. 🙂
  2. Bisa booking! Ini yang paling penting, karena dengan perjalanan saya yang di luar peak hours itu, jadinya suka susah prediksi waktu di perjalanan.
  3. Bantu ngurangin macet dan polusi, sekaligus juga ngehemat tenaga saya. Sampe kantor masih ganteng, pulang makin ganteng. :mrgreen:
  4. Aman. Dengan fitur bawaan dari Grab berupa plat nomer dan juga share ke kontak, saya jadi lebih tenang di perjalanan.
  5. HEMAT! Nah ini harus di-bold. Baik itu hemat di ongkos, maupun juga hemat waktu karena lebih cepat — ga kena macet!

 

Nah, buat yang butuh tambahan penghasilan sambil dapetin kenalan baru pas lagi berangkat-pulang kerja atau aktivitas, cobain aja daftar jadi Teman Tebengan GrabHitch. Siapa tau selain dapat penghasilan, juga dapat relasi baru, atau malah ketemu saya! #penting Belum lagi jadi punya teman ngobrol di perjalanan sebagai obat paling mujarab untuk hilangkan bosan/ngantuk akibat panas atau capek.

Yang udah coba daftar, nanti coba share jalur jalannya ke mana aja sama saya kali-kali ada yang searah. 🙂

Gimana Caranya Dapat Tiket Pesawat Murah?

Jalan-jalan jauh, paling enak memang menggunakan pesawat. Waktu perjalanan yang cepat menjadi faktor utama kenapa pesawat dipilih. Bayangkan jika hendak bepergian ke lain kota yang berada di beda pulau menggunakan transportasi darat disambung laut, lalu darat lagi? Bisa berhari-hari menempuhnya dibandingkan beberapa jam saja dengan pesawat.

Bepergian dengan pesawat pun menjadi primadona belakangan ini, terlebih menjamurnya maskapai yang menyediakan tiket murah seperti AirAsia, Citilink, sampai dengan Lion Air. Belum lagi promo yang disediakan pada waktu-waktu tertentu. Jalan-jalan jauh pun tak lagi mimpi.

Berikut beberapa cara untuk dapatkan tiket pesawat murah untuk bepergian:

  1. Pesanlah jauh-jauh hari dari tanggal keberangkatan.
    Beberapa maskapai atau online travel agent menyediakan tanggal keberangkatan hingga 1 tahun sejak tanggal booking. Tanggal keberangkatan pesawat yang jauh dari tanggal booking biasanya lebih murah karena belum begitu banyak dipesan dan belum dipengaruhi oleh animo pemesan dan hari libur.
  2. Membeli saat ada promo. Bisa dengan promo maskapai atau kartu kredit.
    Promo adalah cara paling efektif untuk mendapatkan tiket murah. Tak tanggung-tanggung, promo dapat membuat tiket pesawat lebih murah 50% dibandingkan publish price atau di luar periode promo. Membeli pada saat promo bisa dilakukan di saat periode yang dilakukan oleh maskapainya ataupun kartu kredit yang dimiliki dan digunakan untuk membayar.
  3. Membeli menggunakan online travel agent.
    Online travel agent seperti tiket.com, traveloka, sampai dengan nusatrip biasanya memiliki promo tersendiri di luar yang disediakan oleh maskapai atau kartu kredit. Promo yang disediakan berupa cash back tunai sampai dengan diskon atau potongan harga.
  4. Tanggal keberangkatan/pulang tidak di hari weekend (akhir pekan).
    Hari-hari akhir pekan menjadi pilihan utama bagi para pekerja kantoran untuk melakukan perjalanan. Hal itu disinyalir terkait dengan cuti bagi para pekerja kantoran tersebut. Sehingga tak jarang tanggal keberangkatan/pulang di akhir pekan harga tiket pesawat jauh lebih mahal ketimbang di hari biasa (weekdays).
  5. Berangkat/pulang tidak berdekatan dengan tanggal libur/hari raya nasional/lokal.
    Tanggal libur atau hari raya nasional/lokal juga biasanya mendukung harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. Hal ini karena orang lain juga hendak bepergian di hari tersebut sehingga animo lebih tinggi ketimbang hari biasa.
  6. Memilih destinasi yang popularitasnya lebih kecil.
    Bepergian ke sebuah destinasi yang popularitasnya lebih tinggi juga menunjang harga tiket pesawat yang lebih tinggi. Tiket pesawat ke Tokyo dan Osaka Jepang misalnya, di hari dan tanggal yang sama akan lebih mahal ke Tokyo daripada ke Osaka meskipun berada di negara yang sama. Memilih destinasi yang tidak popular bukan berarti tidak akan ke destinasi yang popular, melainkan hanya trik agar lebih murah dan cepat sampai, baru kemudian mencari tranportasi lokal.
  7. Memilih destinasi bandara yang berdekatan dengan tujuan utama/bandara sekunder.
    Beberapa kota besar memiliki bandara lebih dari satu. Jakarta saja misalnya, memiliki bandara utama Soekarno-Hatta dan juga Halim Perdanakusuma sebagai sekunder. Pemilihan bandara sekunder dapat membuat tiket pesawat lebih rendah ketimbang bandara utama karena biaya maskapai untuk ke bandara tersebut juga lebih murah, yang tentunya turut dihitung menjadi harga tiket pesawat.
  8. Pilih perjalanan dengan transit daripada langsung.
    Meskipun lebih nyaman, direct flight atau penerbangan langsung memiliki harga yang lebih mahal ketimbang perjalanan dengan transit.

Meski begitu, ada beberapa hal yang jangan sampai dilupakan dalam rangka mencari tiket pesawat murah itu, antara lain sebagai berikut:

  1. Review mengenai maskapai yang akan digunakan.
    Beberapa maskapai terkenal dengan jargon tiket murahnya, beberapa lainnya dengan kualitasnya. Ketika sebuah maskapai dengan kualitas tinggi ternyata menyediakan tiket murah, harus dicari tahu ulasan (review) apakah kemudian dioper ke maskapai segrup atau tidak.
  2. Perhatikan lama perjalanan.
    Jangan hanya karena murah, lalu rela transit yang ternyata dilakukan beberapa kali sehingga tentunya akan melelahkan dan merepotkan.

Jadi, sudah siap untuk berburu tiket murah untuk perjalanan? Salah satu caranya bisa dilakukan dengan cek di sini.

Nulis Traveling: Ikutan Trend Atau …?

Engga ikutan trend meski saya kepengen. 😆

Beberapa orang yang kenal dengan saya, dan atau minimal tahu “karir” menulis saya sejak dulu, mungkin bakal sedikit heran kenapa belakangan kok saya (ikutan) ngeblog soal traveling — walau belum banyak. Well, ga lain ga bukan, emang lagi kepengen dan lagi sempet aja.

Beneran. Ciyus.

Oiya, ada satu alasan lagi: karena emang kebetulan bahannya udah mayan banyak ketimbang beberapa waktu (atau tahun) yang lalu.

Dan menjawab judul postingan ini, sudah saya jawab di kalimat pertama postingan ini juga. Jujur, saya dari dulu emang kepengen banget nulis soal traveling. Tapi saya tahu diri: nulis itu harus konsisten. Begitupun kalo emang mau nulis traveling, ya berarti harus ngapdet soal traveling terus kan? Minimal dibuat berkala – frekuensi yang sama. Sayangnya, dulu saya ga bisa — atau tepatnya belum bisa, dan baru bisa sekarang ini — mudah-mudahan yaaa. Karena alasan yang sepele: lagi kepengen, lagi sempet, dan kebetulan bahannya udah mayan banyak. *mengulang* :evilgrin:

Bahannya udah mayan banyak karena emang sudah beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dan terdokumentasi di beberapa tempat — flickr, instagram, facebook, dan bahkan check in foursquare/swarm dan path. Tapi belum sempet diceritain lebih lanjut aja. Belum lagi jenis travelingnya yang beda-beda, mulai dari business traveling, colongan, sampai dengan young family with kids. Dan tempatnya ga ke yang itu-itu aja — kecuali yang emang jarang/susah didatengin ya. *disclaimer* 😆

Anyway, kalo emang ada yang mau sponsorin/biayain buat travelingnya juga (otomatis bakal dapet juga nulisnya), ya saya juga ga nolak sih. Siapa yang ga kepengen bisa jalan-jalan dibayarin coba? 😛 Tapi eits, ini bukan berarti saya ga mau ngemodal ya. Karena clearly, modal sih ada. Cuman kapannya itu lho..

Short Story #302: Hak Milik

“Kita harus bergerak. Dan saatnya adalah sekarang!” Emma menutup ceramahnya dengan disambut tepuk tangan yang menggemuruh dari hadirin.

Tak lama dari itu, ia kemudian turun mimbar lalu ke belakang panggung dan posisinya untuk memberikan ceramah digantikan oleh pembicara berikutnya.

“Ceramah yang bagus.” Jennifer mengomentari sambil mengikuti Emma ke ruang ganti. “Inspiratif.”

“Sudah saatnya kita, perempuan tahu apa saja hak kita, dan kenapa kita harus membuat klaim atasnya.” Emma menjawab.

“Aku setuju, tapi…”

Emma tiba-tiba berhenti berjalan dan melihat ke arah Jennifer untuk melanjutkan kalimatnya.

“Sepertinya masalah terbesar bukan di diri kita perempuan, melainkan para lelaki.”

“Maksudmu?” Emma bertanya hendak tahu lebih lanjut.

“Yah.. seperti yang kau sebutkan, kita perempuan harus tahu hak dan bagaimana menuntutnya.” Jennifer menjawab. “Sayangnya… itu semua akan percuma jika para lelaki tak tahu apa yang tidak jadi haknya.”

“Itu seharusnya menjadi tanggung jawab para lelaki juga.”

“Menurutku justru itu menjadi tanggung jawab kita juga, memberitahu dan menyebarkan kesadaran yang sama akan hak-hak kita terhadap mereka yang seringkali lupa atau bahkan tidak tahu bahwa itu bukan menjadi hak mereka.”

Emma melanjutkan jalannya sambil diam mendengarkan Jennifer.

“Menurutku, salah satu hal tersulit bukanlah menyadari apa saja hak kita dan memintanya, melainkan menyadarkan orang lain apa yang bukan menjadi hak mereka dan kemudian berhenti menuntutnya.” Jennifer melanjutkan.

Short Story #301: Unsettled

“Jangan gitu, dong. Aku mau berangkat lho, ini.” Gary memohon dari balik pintu yang terkunci.

“Suka-suka aku, dong!” Lily menjawab sambil merajuk di atas ranjangnya di dalam kamarnya.

“Ayo buka dong, pintunya. Kita bicarain sampe tuntas.” Gary memohon lagi.

“Ga mau!”

“Ayo dong…” Gary memohon. “Aku ga bisa nih pergi ninggalin kamu kalo masih ada yang ganjel gini. Bikin perasaan ga tenang.”

“Trus kalo kamu pergi, kamu pikir perasaan aku bakal tenang?”

Gary menarik napas. Ia memikirkan harus memohon seperti apa lagi agar Lily mau membuka pintu dan menyelesaikan perselisihan yang terjadi.

“Come on… I can’t go if there are things between us unsettled.” Gary memberitahu.

“I’m going to keep it unsettled, so you won’t go!” Lily berteriak dengan suara parau karena ia mulai menangis.

Gary terdiam. Perlahan ia meninggalkan pintu kamar Lily.

NB: terinspirasi dari salah satu adegan di film Interstellar

Short Story #297: I LOVE YOU

“Demikian untuk malam ini. Terima kasih. Selamat malam.” Diva mengucapkan salam sambil undur diri ke belakang panggung. Riuh rendah hadirin bertepuk tangan sambil sebagian mengucap dan memanggil namanya.

“Mereka masih menginginkanmu.” Jeremy, manajernya memberitahu ketika Diva masih di anak tangga terakhir belakang panggung.

Sambil tersenyum kecil, Diva kembali menuju panggung dan menampakkan dirinya lagi. Tepuk tangan kembali bergema. Kali ini lebih kencang.

“LAGI! LAGI! LAGI!” seruan memohon terdengar. Tapi Diva hanya melambaikan tangannya, memberikan ciuman ke angkasa, lalu kembali menghilang ke belakang panggung.

“This is it.” Diva memberitahu Jeremy yang tersenyum sambil bertepuk tangan.

“Your call, meski aku masih fifty-fifty.” Jeremy memberitahu.

Setelah memberikan seluruh perangkat elektronik panggung kepada kru yang bertugas, Diva berjalan agak tergesa-gesa menuju kamar gantinya. Diikuti Jeremy di sebelahnya.

“Sesuai kesepakatan terakhir, kerjaan kolaborasi, rekaman, non-panggung, non-broadcast, non-holiday, dan dalam kota aja ya.” Diva mengingatkan.

“Iya.” Jeremy menjawab.

“Bagus.” Diva tiba di kamar gantinya, ia masuk dan diikuti Jeremy. Di sana sudah ada asisten dandan yang menanti untuk mulai membersihkan seluruh riasan di wajahnya dan membantunya mengganti pakaian.

“Aku penasaran aja sih, kamu emang ga bakal rindu suasana seperti ini lagi? Kemegahannya? Perjalanannya? Tempat-tempat yang bisa kita kunjungi?” Jeremy bertanya.

“Terakhir kita bahas, aku udah pernah bilang bakal rindu, tapi aku lebih rindu hal lainnya.”

“Yaitu apa? Aku masih belum dapet jawabannya darimu.” Jeremy mengejar. “Teriakan fans jelas akan menghilang. Hadiah-hadiah yang dikirim ke kamar ganti jelas akan berkurang. Dan tak ada lagi ucapan I LOVE YOU saat kau di panggung dari ribuan orang, setiap kali kau ada di atas sana.”

“Itu dia.”

“Yang mana?”

Diva memberi isyarat pada asistennya agar berhenti sejenak.

“Aku lebih rindu ucapan I LOVE YOU yang diucapkan oleh beberapa orang yang kukenal, kurindukan, kusayangi, dan kukasihi setiap malamnya. Terutama, malam-malam seperti ini, saat aku jauh dari mereka.” Diva memberitahu. “Aku lebih rindu ucapan I LOVE YOU diucapkan dengan suara perlahan, tulus, dalam kondisi privat, dan sebelum atau setelah tidur.”

Short Story #296: Kebahagiaan

“Kebutuhan dan keinginan, pilih mana?” Lyla melempar pertanyaan pada Harun.

“Jelas kebutuhan.” Harun menjawab santai.

“Kepuasan hati atau pikiran?” Lyla melempar pertanyaan lagi.

“Aku cenderung kepuasan pikiran.”

“Ego atau rendah hati?”

“Pertanyaan sulit, aku masih setengah-setengah terhadap keduanya.”

“Okay.” Lyla merespon sambil kembali membaca tabloid yang tengah dibacanya di sela-sela pekerjaan kantor.

“Kenapa kamu nanya gitu?” Harun yang sudah disela pekerjaannya, penasaran.

“Pengen tau aja.”

“Efek baca artikel koran nih, pasti.”

“Bisa dibilang gitu.” Lyla menjawab tanpa menurunkan pandangannya dari tabloid.

“Apa sih judulnya?”

“Prioritas dalam kehidupan.” Lyla menjawab cepat sambil membalikkan artikel yang tengah dibacanya pada Harun, lalu membaliknya lagi.

“Tumben bacaanmu berat.”

“Sesekali, perlu.”

“Kenapa?”

Lyla diam sejenak sebelum menjawab. “Yah, kepikiran aja sama aku, apa ya prioritasku dalam hidup? Apa yang harus aku kerjain? Apa yang harus aku pilih? Dan kenapa aku mau ngelakuin semua itu?”

“Trus, jawabannya?”

“Well, happiness is my priority.  The one and only. Kalo ada prioritas yang lain, itu efek samping untuk mewujudkan prioritasku itu.”

“Hmm…”

“Kenapa?”

“Gapapa. Aku cuma lagi mikir aja.”

“Mikir apa? Prioritas kamu? Emang apa?”

“Sepertinya happiness buatku adalah prioritas nomer dua.”

“Kamu rela ga happy demi prioritas yang pertama?”

“Iya.”

“Emang apa prioritasmu yang pertama?”

“Pastiin kamu ngewujudin prioritas kamu.”

Karunia

Tuhan memberikan setiap hamba-Nya hal-hal yang diperlukan oleh masing-masing. Hal-hal tersebut adalah pelengkap sekaligus juga amanah dan ujian yang wajib diemban oleh hamba-Nya tersebut. Dan yang sudah pasti, ketika Tuhan memberikan hal-hal tersebut kepada hamba-Nya, Ia sudah pasti Maha Tahu bahwa hamba-Nya tersebut mampu untuk menjalaninya dan layak untuk mendapatkannya.

Sama halnya ketika Tuhan memberikanmu, Nak. Anak kedua Papi dan Mami. Adik dari kakakmu.

Ketika pertama kali Papi dan Mami mengetahui bahwa sedang mengandung kamu, rasa bahagia menjalar ke sekujur tubuh. Kabar gembira ini pun disebarkan ke keluarga dan kerabat dekat. Papi dan Mami pun mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiranmu, termasuk merencanakan hal-hal terbaik yang bisa kami lakukan untukmu.

Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Semua dilewati dengan tak sebentar. Ada beberapa momen ketika kamu masih di kandungan, Papi dan Mami begitu penasaran dengan seperti apakah kamu nanti. Apakah lelaki atau perempuan? Apakah lebih mirip Papi? Apakah lebih mirip Mami? Apakah akan mirip dengan kakakmu? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi semua hal yang membuat penasaran tersebut sirna sudah karena Papi dan Mami sadari hal yang menjadi prioritas, yakni kesehatan dan juga keselamatan. Baik kamu dan Mami.

Menjelang minggu-minggu terakhir periode kandunganmu, Papi dan Mami semakin memastikan semua yang dibutuhkan untuk proses kelahiranmu dan juga awal-awal setelah lahir sudah siap. Tentu ini kami pelajari juga dari proses kelahiran kakakmu.  Satu hal yang sudah pasti kami siapkan ketika sudah mengetahui jenis kelaminmu adalah nama. Sebuah nama yang kami harapkan menjadi doa untukmu maupun untuk Papi dan Mami.

Dan kemudian, engkau lahir. 3 Oktober 2015, jam 20:35 WIB.

Padamu, Nak, Papi dan Mami siap memberikan yang terbaik yang bisa kami lakukan sebagai orangtua. Tak lain karena Papi dan Mami inginkan kamu tumbuh kembang menjadi seseorang yang taat pada agama, seseorang yang cerdas, mampu membedakan hal baik dan buruk, seseorang yang bersemangat, yang dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.

Papi dan Mami siap untuk hadir untukmu. Menjadi yang menarik tanganmu ketika kau terjatuh atau tertinggal, menjadi yang mendorongmu untuk maju ketika semangatmu menurun, menjadi pendengar yang baik ketika kau hendak bercerita, menjadi bantalan yang menenangkan sekaligus melentingkan jika kau terpeleset, dan, menjadi supporter nomer 1 untukmu.

Sebuah janji yang paling utama Papi ucapkan adalah, Papi akan berusaha untuk adil padamu. Berusaha untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang adil dengan kakakmu. Berusaha untuk memberikan semangat, dorongan, dan waktu yang adil dengan kakakmu. Berusaha untuk memberikan daya dan upaya yang adil dengan kakakmu.

Semua akan Papi dan Mami lakukan, karena engkau adalah karunia dari Tuhan. Sebuah amanah, sebuah titipan yang Papi dan Mami terima dengan suka hati, dan menyadari bahwa kamu harus mendapatkan yang terbaik yang bisa Papi dan Mami lakukan.