Coaching Menulis #014: Konsistensi

Ya, akhirnya saya memperbaharui kembali blog menulis ini. Setelah pembaharuan (update) terakhir sudah berbulan-bulan yang lalu. Tak lain, karena memang saya akui, beberapa kesibukan membuat saya sulit untuk menyentuh blog ini dan memberikan materi yang benar-benar sesuai. Belum lagi, pelaksanaan Coaching 101 yang ternyata tidak selancar seperti rencana. Tapi ya, itulah tantangan yang harus saya hadapi tentunya. Semenjak, saya memutuskan untuk menulis, dan menulis. Lagi, dan lagi.

Oke, jadi dengan memublikasikan materi coaching ke-14 ini, saya resmi membuka kembali Coaching 101. Kali ini, saya tidak melakukan per angkatan, tapi membebaskan setiap orang untuk menghubungi saya via e-mail ke naga.tasik@gmail.com. Via e-mail tersebut, silakan saja Anda bertanya kepada saya, baik itu berkelanjutan melalui e-mail berikutnya, atau bertemu, atau cukup satu-dua kali saja. Bebas. Tak ada ikatan. Dan, jangan lupa tuliskan di subject-nya “Coaching 101” yang kemudian diikuti oleh keperluan Anda.

Dan, untuk materi ke-14 ini, saya mengambil tema: Konsistensi.

Coaching Menulis #014: Konsistensi

Konsistensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan yang beralamat di sini, kata ‘konsistensi’ berarti:

n1 ketetapan dan kemantapan (dl bertindak); ketaatasasan: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu — dl menghadapi pembangunan yg sedang kita laksanakan;2 kekentalan: — agar-agar;3 kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yg menyusun bagian tubuh buah; 4Geoa ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; b derajat kohesi atau adhesi massa tanah;
kontekstualLing kualitas terjemahan yg diperoleh dng menerjemahkan ungkapan yg cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks

Singkat cerita, konsistensi berarti tetap dan mantap. Saya sendiri sering mengartikan konsistensi sebagai “sebuah keadaan untuk tetap melakukan yang sudah ditetapkan di awal kegiatan.” Jadi, kurang lebih konsistensi adalah melakukan sesuatu secara terus-menerus, sesuai target, hingga mencapai tujuan. Meski begitu, tujuan yang ingin dicapai bisa jadi terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan situasi.

Bingung? Oke, mari kita sederhanakan saja dengan mengambil contoh kasus dalam menulis.

Andai Anda sudah merencanakan untuk membuat sebuah tulisan semacam artikel yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 3-4 halaman A4. Jika ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang lengkap, maka harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, When, Why, Where, Who, & How). Dan, dalam perencanaan tersebut juga dilakukan pemilihan jenis tulisan yang akan dibuat, ada persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan masih ada beberapa jenis lainnya.

Lalu, setelah perencanaan tulisan selesai, apa? Tentu, jawabnya adalah pencarian data untuk tulisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari narasumber, baik itu ahli ataupun masyarakat, melakukan penelitian lewat internet, buku-buku, hingga kemudian membuat sebuah catatan lengkap. Nah, khusus untuk catatan ini bisa juga dilakukan dengan membuat sebuah jurnal — mencatat tanggal, waktu, siapa orangnya, dan apa isi percakapan dengan orang tersebut.

Selesai sampai di situ? Jelas tidak! Penelitian dan pengumpulan data, harus segera diikuti dengan penulisan mengenai artikel yang sudah direncanakan sejak awal. Dan, untuk mengawali menulis, terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena ada beberapa energi yang terkuras di saat mencari dan mengumpulkan data lewat penelitian tersebut. Dan, untuk tetap menulis sesuai dengan rencana itulah diperlukan konsistensi.

Iya, konsistensi. Ketetapan hati untuk tetap melakukan rencana sejak awal untuk mencapai tujuan itu begitu penting dalam menulis. Dengan tetap konsisten terhadap rencana, maka kita akan bisa menulis sesuai keinginan awal seperti yang tertulis di rencana kita. Dengan konsistensi, kita dapat menyelesaikan tulisan sesuai jadwal atau target yang kita inginkan.

Memang diakui, konsistensi terkadang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Penyebabnya banyak, tapi lazimnya karena mereka belum terbiasa. Lantas, jika sudah terbiasa apa bisa langsung konsisten juga? Saya ingin sekali menjawab “IYA” dengan lantang, tapi sepertinya sulit. Mengingat-ingat, saya juga tidak konsisten terhadap blog ini. :mrgreen:

Oke, lalu harus bagaimana agar tetap konsisten? Mudah saja, lakukanlah sepenuh hati Anda akan apa yang sedang Anda lakukan. Jika sedang merencanakan untuk menulis mengenai sebuah hal, maka lakukanlah sepenuh hati, dan konsistensi akan mengikuti dengan sendirinya. Jadwal yang super efektif sekalipun takkan bisa mengalahkan kekuatan hati dan juga konsistensi.

Dan, jangan pernah meremehkan kekuatan konsistensi. Kenapa? Karena dengan sebuah konsistensi, target yang direncanakan bisa dapat tercapai, atau bahkan terlampaui! Jadi, mulailah Anda menulis dengan konsisten! *pengingat untuk diri saya sendiri juga tentunya*

Coaching Menulis #013: Kenapa Menulis?

Melalui materi ke-13 ini, saya dengan resmi memulai angkatan kedua dalam Coaching Menulis yang saya sediakan lewat program Coaching 101 di blogs http://billykoesoemadinata.wordpress.com. Angkatan kedua ini akan berjalan selama kurang lebih 1-3 bulan sesuai dengan durasi pilihan materi yang dipilih oleh peserta Coaching 101.

Menulis adalah sebuah kegiatan menciptakan karya. Melalui karya tulisnya, pencipta yang merupakan penulis tersebut akan menyalurkan apa yang ada di dalam pikirannya. Entah itu apa yang ingin ia perdengarkan, atau apa yang ingin orang lain dengar. Tentu, pilihan tersebut akan mempengaruhi tulisan yang akan dibuat nantinya.

Coaching Menulis #013: Kenapa Menulis?

Mengetahui alasan utama untuk melakukan kegiatan menulis, memang tidak terlalu penting. Kenapa? Karena terkadang sebuah kegemaran tidak memerlukan alasan pasti untuk menjadi landasannya. Akan tetapi, jika kita mengetahui apa sebab kita menulis, tentunya akan membuat kegiatan menulis menjadi lebih menyenangkan dan bukan tidak mungkin akan lebih digemari.

Untuk sebagian orang, menulis adalah pilihan hidup yang -meski sulit- tetap akan dijalani dengan sepenuh hati. Untuk sebagian lagi, menulis adalah sumber penghidupan utama. Sementara untuk sebagian lainnya, menulis berarti membuat sebuah warisan yang berguna untuk generasi selanjutnya. Apapun alasan dan juga motivasi utama dalam menulis, pastikan dalam konotasi positif.

Beberapa saat yang lalu, saya sempat meminta beberapa orang yang mengirim e-mail kepada saya – menyatakan keikutsertaan mereka di Coaching Menulis yang saya lakukan melalui blogs ini dan juga e-mail, untuk menuliskan apa alasan mereka menulis. Dan, alasan mereka menulis pun beragam. Tapi ada satu benang merah yang saya tangkap, yakni keinginan untuk memiliki keahlian dalam membuat tulisan, yang isinya bisa berupa isi pikiran mereka, ataupun opini mereka.

Memulai

Sekarang, yang agak sukar dari sebuah menulis akan dimulai. Yakni, permulaan dari sebuah menulis. Iya, memulai menulis adalah sebuah hal yang cukup sukar bagi beberapa orang. Jujur, saya sendiri terkadang sulit dalam memulai sebuah tulisan baru. Tapi kemudian, halangan di awal tersebut janganlah dijadikan hambatan sehingga enggan menulis, dan jadikanlah halangan tersebut sebagai sebuah tantangan.

Memulai sebuah tulisan bagi saya, dapat dilakukan dengan mengerti apa yang akan saya tulis. Apa yang nantinya akan saya masukkan ke dalam tulisan. Membuat ide, topik, merangkai kerangka, dan lain-lain termasuk ke dalamnya. Tapi, untuk mudahnya mari kita menyederhanakan saja. Yakni, dengan memastikan satu ide utama dalam sebuah tulisan yang tentunya didasari oleh alasan utama kita menulis.

Contoh

Mendapatkan ide utama untuk sebuah tulisan yang akan dimulai lagi-lagi akan saya bilang itu sangat mudah. Hal tersebut telah saya terangkan di materi Coaching Menulis #001. Silakan dibaca-baca kembali.

Kesimpulannya adalah ketika kita ingin menulis atau membuat sebuah tulisan, pastikan alasan utama kita untuk menulis telah kita mengerti dan pahami. Karena, alasan utama tersebut dapat menjadi sebuah motivasi terbaik.

Nah sekarang, apa alasan Anda untuk menulis?

Tugas:

Dapatkan sebuah ide tulisan yang ingin Anda kerjakan selama Coaching Menulis ini berlangsung. Untuk yang memilih materi penulisan umum, durasi Coaching Menulis akan berlangsung selama kurang lebih 3 bulan. Dan, untuk materi jurnalistik/investigasi, maka durasinya adalah selama 1 bulan.

NB: Berikut adalah nama-nama peserta Coaching Menulis angkatan 2: Jerry Gogapasha, Rani Amelia, serta Mufti Nur Ichrom.

Bagi yang belum terdaftar, mohon bersabar untuk angkatan berikutnya ya.

Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Tak terasa, ternyata saya sudah melewatkan 1 minggu tanpa materi coaching menulis. Wah, saya sangat menyesal! Entah kenapa, saya menghadapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tanggal yang sama. Tapi, walau demikian mudah-mudahan materi Coaching Menulis ini bisa mengobati rasa kecewa tersebut.

Memulai untuk menulis, bagi kebanyakan orang memang sulit. Tapi kemudian, ketika proses menulis sudah berjalan, bisa jadi orang-orang tersebut tak ingin segera berakhir. Tapi, menulis memang harus berakhir agar didapatkan akhirannya yang tentu akan diteruskan pada proses selanjutnya.

Mencari ide, mengembangkannya, dan kemudian menulis serta mengakhiri dengan membuatnya lebih bermakna dengan bungkus yang sesuai, akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna ketika ia diterbitkan. Apapun bentuknya, melalui media massa, media elektronik, ataupun diterbitkan sebagai buku, tentu akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi sang penulis.

Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Rasa minder seringkali muncul terlebih dahulu ketika kita akan menawarkan tulisan ke penerbit. Takut ditolak, tak percaya diri, ataupun menghindari kata-kata pedas dari penerbit adalah alasan yang seringkali dilontarkan jika tulisan tak kunjung dikirimkan. Padahal, tanpa mengirimkan tulisan ke penerbit, kita takkan pernah tahu seperti apa reaksi penerbit terhadap tulisan kita bukan?

Mengirimkan tulisan ke penerbit, adalah sebuah hal yang wajib dilakukan agar tulisan kita lebih diketahui banyak orang. Apalagi, ketika tulisan tersebut dimuat dalam media massa yang memiliki sebaran luas. Tak ayal jika nantinya tulisan tersebut dibaca oleh banyak orang, tentu akan membuat penulis menjadi selebritis dadakan. Tapi, apa benar seindah itu?

Surat Pengantar

Apa yang perlu dilakukan sebagai awal mengirimkan tulisan ke penerbit? Tentunya mempersiapkan tulisan sebaik-baiknya, seperti yang sudah saya pernah sebutkan di pembungkusan tulisan yang baik. Dengan tampilan yang menarik, tentu staf editor penerbit akan lebih tertarik ketimbang naskah yang tak tampil dengan menarik.

Lalu, apa lagi? Mempersiapkan surat pengantar naskah adalah jawabnya.

Ya, surat pengantar naskah adalah sebuah bantuan kecil sehingga tulisan Anda lebih dilirik. Apa pasal? Ibarat kata pengiriman barang, seorang kurir yang mengirimkan barang tersebut tentu akan lebih menyenangkan pelanggan jika ia santun, menyapa pelanggan dengan baik, serta jasa pengiriman barang yang sempurna tanpa cacat. Nah, surat pengantar naskah adalah ibarat kurir ataupun hal yang akan membuat tulisan kita dianggap lebih sopan.

Seperti apa bentuknya? Yang berikut ini saya harap bisa menjadi contoh surat pengantar yang baik.

Yth. Editor Penerbit ABCD (sebutkan nama penerbitnya)

Perkenalkan, nama saya Billy Koesoemadinata. Bersama dengan surat ini saya kirimkan satu eksemplar naskah tulisan saya yang berjudul “CONTOH” (sebutkan judulnya).

Naskah “CONTOH” ini bergenre fiksi. Sebuah novel yang bercerita mengenai kehidupan seorang pria yang selalu menjadi kelinci percobaan bagi orang lain. Ia menghidupi dirinya dari menjadi objek percobaan dikarenakan ia tak mau ambil pusing terhadap pekerjaan lain. Semuanya berjalan lancar sampai suatu ketika ia dijadikan objek percobaan kedokteran yang mengubah jalan hidupnya.

Mudah-mudahan naskah “CONTOH” ini dapat memenuhi kriteria penerbitan di ABCD. Saya tunggu kabar baiknya.

Terima kasih.

Billy Koesoemadinata

Oke, jadi begitu contoh surat pengantar yang saya berikan. Secara singkat, surat pengantar memuat,

  1. Sapaan terhadap penerbit,
  2. Keterangan singkat mengenai naskah tulisan,
  3. Sinopsis dari naskah tulisan,
  4. Harapan untuk dihubungi kembali.

Surat pengantar yang saya jadikan contoh ini merupakan salah satu contoh. Dan, pada praktiknya lebih banyak lagi surat pengantar yang dapat dibuat atau diberikan kepada penerbit. Umumnya, jika penerbit memang mencari naskah, maka ia pun akan menetapkan kriteria yang diperlukan. Sehingga, hal-hal yang ditulis di surat pengantar pun akan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Bagaimana jika tulisan yang dikirim adalah artikel?

Surat pengantar yang disertakan kepada penerbit ataupun surat kabar dan media massa tetap harus diberikan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa fungsi surat pengantar adalah ibarat seorang kurir yang menyapa pelanggan terlebih dahulu sebelum memberikan barang yang diantarkannya.

Mengirimkan tulisan artikel ke surat kabar ataupun media massa menurut saya justru akan sangat baik jika menyertakan surat pengantar. Kenapa? Karena media massa bersifat mencakup banyak hal yang lebih umum dibanding dengan buku. Segala macam hal dapat tercakup di dalam media massa, dan semua harus bisa dipertanggungjawabkan dengan nama media massa tersebut. Dapat terbayangkan jika media massa menerbitkan sebuah tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka kredibilitasnya akan runtuh dalam seketika.

Komponen surat pengantar ke media massa pun memiliki tambahan dibandingkan surat pengantar untuk naskah buku. Yakni, keterangan mengenai penulis yang lebih lengkap. Contohnya adalah pekerjaan sehari-hari dari penulis yang mengirimkan artikelnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi referensi untuk mencari latar belakang tulisan artikel tersebut.

Setelah dikirim, lalu bagaimana?

Menunggu. Itulah hal yang paling pasti dari mengirimkan tulisan ke penerbit ataupun media massa. Menunggu, adalah hal yang memang harus dilakukan ketika kita mengirimkan tulisan ke penerbit maupun media massa. Menunggu kabar diterima akan diterbitkan, atau tidak.

Durasi waktu pemberian kabar apakah naskah tulisan kita akan diterbitkan atau tidak di sebuah penerbit dan media massa tak ada bilangan pasti. Namun, terdapat anggapan umum yang beredar di kalangan penulis dan penerbit, bahwa jika dalam waktu 3 bulan tidak terdengar kabar dari penerbit buku mengenai naskah yang kita kirimkan, maka anggap saja naskah tersebut ditolak.

Sementara itu, untuk kabar pemuatan artikel di media massa, anggapan durasi waktunya lebih singkat lagi. Yakni, jika dalam waktu maksimal 1 bulan tidak ada kabar, berarti tulisan artikel yang dikirimkan telah ditolak. Kenapa saya bilang 1 bulan? Karena terkadang media massa menyimpan beberapa tulisan artikel yang masuk ke mereka, untuk kemudian dianalisa kembali jika masih menjadi tren dalam 1 bulan tersebut. Dan juga, 1 bulan tersebut adalah jangka waktu terlama periode terbit sebuah media massa. Memang, ada pula sebuah media massa yang periode terbitnya lebih dari 1 bulan, akan tetapi sangat jarang sekali akan ada kabar mengenai dimuat atau tidak lewat dari 1 bulan.

Jadi, sudah siap untuk membuat tulisan Anda untuk dikonsumsi pembaca?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

Sajian Terpilih

Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

Membungkus Tulisan

Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

Lengkapi

Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Sudah berapa banyak tulisan Anda? Sudah seberapa jauhkah pengembangan ide dasar Anda dalam tulisan? Sudah berkembang menjadi berapa bab, sub bab, halaman, atau sudah menjadi berapa ribu karakter dan kata?

Tak ada patokan yang tepat mengenai berapa angka yang harus dicapai untuk sebuah tulisan. Karena, sebuah tulisan adalah sebuah produk yang dibuat oleh penulisnya untuk menjadi sebuah maha karya, yang tentunya bergantung kepada pemahaman masing-masing akan sebuah kesempurnaan. Tapi, sebelum mencapai penyelesaian, terdapat satu hal yang tak boleh terlewatkan. Yakni, proses self editing yang mencakup banyak hal.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Self editing, atau dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata sebagai penyuntingan mandiri, adalah sebuah proses dalam penulisan yang harus dilakukan untuk membuat produk tulisan yang dikerjakan menjadi lebih baik. Mengapa? Karena self editing mencakup banyak sekali hal yang akan membuat tulisan menjadi lebih baik.

Apakah proses ini benar-benar perlu dilakukan? Tentu saja perlu. Tapi apakah harus dilakukan? Tidak harus, namun akan lebih baik jika dilaksanakan. Lalu, bagaimana? Nah, mari simak lebih lanjut.

Menyadari Kekurangan/Kesalahan

Coba hitung, sudah berapa lamakah dari pertama kali mendapatkan ide dan kemudian melanjutkannya menjadi sebuah tulisan, hingga saat ini? Kurang lebih sudah mencapai 2 bulan lebih bukan? Pernahkah disadari, bahwa sepanjang waktu tersebut, kita sebagai penulis sudah menjadi sangat dekat dengan tulisan yang kita buat?

Saya bersimpati terhadap Anda yang tidak menyadarinya. Kenapa? Karena itu artinya Anda sudah dikuasai oleh tulisan tersebut, dan bukannya menguasai tulisan tersebut. Karena itu artinya Anda buta akan beberapa kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam tulisan tersebut. Padahal, sebuah penulis yang baik adalah penulis yang mampu memperbaiki kesalahannya.

Setiap penulis, sebanyak apapun pengalamannya, ketika ia membuat sebuah tulisan, ia akan membuat kesalahan ataupun kekurangan entah itu banyak atau sedikit. Dan, untuk menyadari hal itu, diperlukanlah proses self editing. Karena dengan proses tersebut, kita akan menjadi lebih sigap dan dapat membuat tulisan kita menjadi lebih baik.

Endapkan

Langkah utama yang harus dilakukan ketika menjalankan proses self editing adalah mengendapkan tulisan kita. Selesai ataupun tidak, banyak atau sedikit, endapkanlah tulisan kita. Langkah ini amat sangat dianjurkan untuk dilakukan dalam self editing, karena ketika tulisan diendapkan akan memicu hal-hal lain yang dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam tulisan kita.

Tempo yang tepat untuk mengendapkan tulisan, adalah kurang lebih selama seminggu. Kenapa seminggu? Menurut Nick Daws – seorang penulis potensial Inggris, dalam waktu seminggu itu pikiran kita akan menjadi lebih fresh karena terlepas dari tulisan yang sedang dibuat. Dalam waktu seminggu itu, pandangan kita akan menjadi berbeda dibanding saat masih melekat dengan mengerjakan tulisan tersebut.

Seminggu terdiri dari 7 hari, Senin hingga Minggu yang dapat menjadi siklus istirahat bagi fisik dan juga pikiran kita setelah menulis secara marathon. Dan, selama seminggu itu pastikanlah tulisan yang diendapkan tersebut tak dibuka, diutak-atik, dibaca, ataupun dipikirkan sama sekali dalam kepala. Karena ini dimaksudkan untuk membuat pikiran kita dapat melihat berbagai hal dan juga ide-ide baru yang membuatnya menjadi tetap segar dan dinamis.

Jika waktu seminggu dirasakan terlalu lama untuk mengendapkan tulisan atau sedang dikejar-kejar jadwal tenggat, maka setidaknya sekurangnya satu hari atau 24 jam biarkan tulisan tersebut mengendap. Jangan dibuka, jangan dibaca, jangan diutak-atik, jangan dipikirkan. Pastikan sekurangnya 24 jam tanpa tulisan tersebut jika seminggu tak dapat dilakukan.

Pikiran yang segar dengan pandangan yang baru akan membuat kesalahan dan juga kekurangan dalam tulisan yang sudah dibuat akan mudah ditemukan dan juga diperbaiki. Jikalaupun tidak memperbaiki tulisan, setidaknya akan tercipta paradigma baru akan tulisan yang sudah dibuat tersebut, entah itu mengenai alur, amanat, ataupun latar dari tulisan tersebut.

Tambah Kurang

Salah satu hal yang seringkali terjadi ketika melakukan self editing adalah menambah dan atau mengurangi tulisan. Hal ini dapat terjadi karena ide-ide segar yang masuk setelah mengendapkan tulisan selama beberapa waktu.

Kejadian ini jangan dikhawatirkan akan mengubah tujuan utama penulisan, namun jadikanlah hal ini sebagai masukan agar tulisan menjadi lebih kaya. Akan tetapi, jika terlalu takut akan mengubah tulisan secara keseluruhan, maka sebelum mengerjakan self editing, maka buatlah salinan dari tulisan asli yang belum diproses self editing.

Proses penambahan dan pengurangan yang terjadi karena self editing pada tulisan bukan hanya terletak pada konteks isi dan juga materi tulisan. Hal yang harus dicermati antara lain juga pada tanda baca, jarak antar paragraf, serta jeda antar pokok bahasan. Ini dimaksudkan agar pembaca dapat membaca tulisan kita dengan lebih nyaman dan dapat memuaskan.

Bagi Dan Ulangi

Beberapa orang mungkin menanyakan hal berikut, “Bagaimana jika tulisan yang sudah dibuat memuat ratusan halaman dan puluhan bab? Apakah self editing tetap perlu dilakukan?”

Jawab saya adalah, “Tentu perlu. Justru jika semakin banyak jumlah dalam tulisannya, self editing semakin perlu dilakukan sebelum kemudian dianggap selesai. Karena semakin banyak tulisan yang telah dibuat, kemungkinan menemukan kesalahan dan kekurangan dalam tulisan akan semakin besar. Apalagi jika tulisan telah dibuat sejak beberapa bulan yang lalu, atau bahkan tahunan.”

Untuk mempermudah melakukan self editing terhadap tulisan yang berjumlah besar, dan tak ingin lagi membuang banyak waktu karena sudah banyak waktu yang dikeluarkan untuk menulisnya, maka langkah yang paling efektif adalah dengan membagi bagian-bagian yang akan diedit.

Bab-bab serta sub-sub yang terjadi, merupakan bagian-bagian yang dapat dipecah-pecah untuk memudahkan self editing. Strukturnya yang merupakan satu kesatuan pembahasan akan mempermudah self editing.

Lalu, setelah dibagi apakah selesai? Tentu belum. Karena langkah terakhir di saat melakukan self editing adalah dengan mengulang membaca hasil sunting (editing) yang telah dilakukan. Dengan mengulang, kita akan mengetahui secara lebih tepat apa yang sudah dilakukan, apalagi jika dengan membandingkan dengan tulisan sebelumnya.

Jadi, apa guna self editing sesungguhnya?

Self editing sesungguhnya berguna sebagai mekanisme pengendalian kesalahan yang dapat terjadi dalam tulisan kita sebelum kita memutuskan untuk memberikannya pada penerbit, surat kabar, ataupun memublikasikannya secara mandiri melalui blogs, milis, dan lain-lain. Self editing terutama sangat berguna untuk membuat tulisan kita bukan hasil produk yang serampangan dibuat agar selesai, dan tentunya akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna.

Jadi, sudah siap untuk mengedit secara mandiri tulisan Anda?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Pertama-tama, saya mau mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua dilimpahkan rezeki, kebaikan dan segala perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan selanjutnya, silakan menikmati lanjutan coaching menulis. 😉

Mulutmu, harimaumu. Idiom yang merupakan warisan budaya tersebut, kurang lebih berarti apa yang kita ucapkan adalah hal-hal yang bisa jadi merupakan tanda-tanda karakter kita. Selain itu, idiom tersebut juga dapat diartikan bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam melontarkan perkataan dari mulut kita, karena setiap perkataan tersebut dapat memberikan kesan yang berbeda kepada orang yang mendengarnya, dan dapat pula dibalikkan kepada kita sendiri.

Idiom yang hampir serupa juga bisa diaplikasikan pada penulisan. Namun, bukan lontaran perkataan dari mulut, melainkan lontaran kata-kata dalam tulisan. Dengan kata lain, tulisanmu, harimaumu.

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Apa yang menjadi unsur sebuah tulisan, tak jarang membuat perbedaan persepsi setiap orang yang membacanya. Layaknya perkataan dari mulut, kata-kata yang termuat dalam tulisan tak selalu diartikan sama sehingga setiap orang belum tentu sama-sama mengerti. Perbedaan persepsi tersebut dapat membuat tulisan kita menjadi “harimau” kita di hari ini, ataupun nanti.

Salah satu contoh perbedaan persepsi yang timbul adalah kasus yang sedang hangat belakangan ini. Ya, kasus Prita vs. Omni yang berawal dari surat elektronik yang ditulis oleh Prita, dan kemudian berkembang hingga mencakup banyak hal. Selain kemudian berkembang di pengadilan, kasus ini pun mendapat perhatian dunia maya melalui komunitas blogger yang memiliki kekuatan kata-kata di blog masing-masing. Singkat kata, kasus inilah bukti nyata akan kekuatan kata-kata dan juga persepsi.

Memilih Kata, Mengikuti Gaya Bahasa

Di kesempatan yang terdahulu, saya sempat memberitahukan mengenai gaya bahasa yang dapat digunakan dalam tulisan. Contoh gaya bahasa yang paling kentara adalah harian Kompas, dan majalah Tempo. Kedua media yang menjadi tolak ukur berita nasional tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penulisan. Dan, tak hanya gaya bahasa, tapi juga tercermin pada pemilihan kata yang berada di setiap tulisannya.

Kompas, yang memiliki gaya bahasa cergas, aktual dan meliputi segala aspek, umumnya menggunakan kata-kata yang mudah dicerna sehingga tak menimbulkan makna ganda. Pemilihan kata tersebut dimaksudkan untuk memperkuat karakter harian tersebut yang dapat dijangkau segala lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berguna.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Majalah berita mingguan tersebut juga memiliki pemilihan kata tersendiri sesuai dengan gaya bahasa satir, berironi dan tepat pada sasaran. Beberapa kata yang sering digunakan oleh Tempo adalah kata-kata yang dapat memunculkan pro-kontra dalam masyarakat, namun dilengkapi dengan ulasan yang mendalam.

Pemilihan kata yang disesuaikan dengan karakter atau gaya bahasa yang digunakan tersebut, tak ayal menjadi hal yang penting dalam penulisan. Memilih kata yang tepat, selain dapat menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan cermat, juga membuat karakter penulis pun tertuang dalam tulisan dan terbangun dengan sendirinya.

Diksi dan Persepsi

Proses pemilihan kata yang tepat sesuai dengan keinginan memang tidak mudah, apalagi jika kemudian dimaksudkan untuk membangun persepsi dari para pembacanya. Namun, tak mudah bukan berarti tak bisa dilakukan. Karena membangun persepsi pembaca tulisan kita, adalah semudah kita menulis kata-kata yang kemudian menjadi kalimat, lalu tersusun menjadi paragraf, dan berakhir menjadi sebuah tulisan lengkap.

Tanpa kita ketahui, setiap kata memiliki karakter masing-masing. Setiap kata tersebut secara tak terlihat, dapat menciptakan persepsi yang berbeda pada setiap orang yang membacanya jika pemilihannya tidak tepat. Oleh karena itulah pengetahuan akan diksi menjadi cukup penting agar persepsi pembaca sesuai dengan yang diharapkan oleh penulisnya.

Salah satu cara yang paling ampuh agar tepat menggunakan kata ataupun diksi, adalah dengan sering berlatih membaca dan menulis. Proses tersebut adalah untuk mengetahui persepsi yang ditangkap dari setiap tulisan yang tersedia, serta sekaligus mencoba menuliskannya kembali dengan cara berbeda agar menciptakan persepsi yang berbeda dengan semula.

Latihan: Persepsi

Kali ini, saya akan mencoba memberikan latihan untuk membuat persepsi secara berbeda dengan dua cara. Cara yang pertama, adalah dengan memberi contoh. Cara yang kedua, adalah dengan memberi tugas. Tak perlu susah-susah, cukup dengan satu-dua kalimat saja.

Cara pertama,

Berikut contoh judul sebuah artikel yang saya buat secara fiktif.

“Kebakaran Di Pemukiman Padat, Disinyalir Akibat Kebocoran Gas”

Apa persepsi yang timbul dari kalimat judul tersebut? Saya pribadi, memiliki persepsi sebagai berikut: diduga akibat kebocoran gas yang belum diketahui asalnya, daerah pemukiman padat mengalami kebakaran.

Singkat dan jelas. Judul tersebut umumnya memang ditujukan untuk memberikan persepsi yang secara langsung menjelaskan berita yang terjadi. Tak lain, pemilihan kata-katanya pun menghindari yang dapat memberikan makna ganda.

Nah, sekarang mari kita utak-atik pemilihan kata yang masih berkaitan dengan contoh judul tersebut sehingga memberikan persepsi yang berbeda. Dan, berikut hasilnya.

“Gara-gara Gas Bocor, Pemukiman Kebakaran”

Sekilas, informasi yang disampaikan oleh judul kedua tersebut serupa dengan informasi yang diberikan oleh judul pertama. Tapi, menurut saya persepsi yang timbul berbeda, yakni: sebuah area pemukiman dilanda kebakaran karena kebocoran gas.

Pada judul yang kedua ini kebocoran gas bukan lagi sebuah dugaan, melainkan kepastian yang tak terbantahkan. Meskipun belum diketahui urutan kejadian yang lengkap mengenai kebakaran, namun dengan judul demikian sudah dipastikan bahwa gas adalah biang keladi dari kebakaran. Selain itu, peristiwa kebakaran yang timbul bukan di pemukiman padat penduduk, melainkan hanya di “sebuah pemukiman” yang belum tentu padat penduduknya.

Nah, bagaimana? Sekarang mari kita lakukan cara kedua. Carilah judul atau kalimat yang bisa dijumpai di mana saja, lalu artikan persepsi yang dibangun. Setelah itu, ubah judul atau kalimat tersebut, sehingga persepsinya pun berbeda. Saya tunggu via email ya.. – mau bertanya lebih lanjut mengenai persepsi dan diksi juga bisa, koq!

Updated (4 Januari 2009): Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #008: Pancing!

Struktur penulisan sebuah buku umumnya terdiri dari bab-bab, subbab, dan juga seksi dari setiap buku. Bagi buku fiksi, umumnya pembagian struktur tersebut cukup sampai dengan bab yang direpresentasikan dengan penomoran atau juga disertai dengan judul bab. Tapi, berbeda dengan buku non-fiksi, struktur bisa terdiri menjadi sub-sub yang lebih kecil daripada subbab dan seksi.

Coaching Menulis #008: Pancing!

Tema coaching menulis kali ini cukup persuasif. Bagi beberapa orang yang tak menyimak ataupun tidak teliti dalam membaca isi yang akan diungkapkan berikut ini, mungkin akan menganggap coaching menulis kali ini mengandung makna yang tak berkaitan sama sekali dengan penulisan. Padahal, pada praktiknya tentulah berkaitan. Yuk, disimak.

Sebelum melangkah lebih jauh, coba jawab pertanyaan berikut,

“Apa kunci utama sebuah buku yang bisa membuat pembaca tetap mau membacanya hingga halaman terakhir?”

Jawaban yang muncul tentu bervariatif, dan beberapa di antaranya akan saya tuliskan di bawah ini.

–         Faktor penulis yang sudah terkenal.

–         Topik yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan tipikal, termasuk yang fantastis atau mengungkap hal tabu.

–         Topik yang “gue banget” dan bisa dijumpai sehari-hari.

–         Topik yang sedang hangat dibahas dan sedang hype.

–         Mengenai tokoh terkenal atau persoalan sosial.

Kelima jawaban itu adalah yang seringkali saya temukan untuk alasan seseorang tetap bertahan hingga halaman terakhir ketika membaca sebuah buku, ataupun hingga kata terakhir dalam sebuah tulisan. Dan, kelima jawaban itu merupakan hal yang masuk akal karena penerbit pun tentunya mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.

Seorang penulis yang sudah punya nama, entah itu sering mengirim cerpen hingga dimuat di surat kabar, ataupun surat pembaca maupun artikelnya sempat dimuat tentu akan memiliki sebuah kelebihan. Begitu pula penulis yang memiliki akses terhadap milis-milis penerbit buku.

Topik yang berbeda jauh dengan kehidupan sehari-hari, entah itu kehidupan fantasi maupun juga khayalan dapat membuat pembaca buku menjadi betah untuk mengikuti alur tulisan. Dongeng, fiksi ilmiah, hingga pembahasan ilmiah secara sederhana tentu termasuk dalam kategori ini.

Berlaku juga sebaliknya. Topik yang menyangkut kehidupan sehari-hari, atau dengan kata lain “gue banget” juga ternyata bisa membuat setiap pembacanya betah hingga halaman atau tulisan terakhir. Kenapa? Karena tentunya akan lebih masuk akal, dan biasanya lebih mudah dicerna.

Apalagi jika topik yang diangkat adalah mengenai tokoh-tokoh terkenal ataupun masalah sosial yang sedang dihadapi bersama-sama. Contoh, buku mengenai biografi Michael Jackson, Presiden Soeharto, Presiden John F. Kennedy, dan masih banyak lagi. Setiap buku-buku tersebut selain dapat disajikan secara non-fiksi dengan segala fakta, juga dapat disajikan dalam bentuk novel sejarah yang ditambahi bumbu-bumbu fiksi.

Membuat Pancingan

Kelima alasan di atas adalah sebuah hal yang tak dapat dipungkiri adalah kenyataan yang ditemui pada judul-judul buku di toko buku. Hal serupa juga pernah saya ungkit pada coaching menulis #005, yakni mengenai pasar dan topik yang sedang hangat. Nah, jikalau lima alasan tersebut tidak berlaku pada Anda ataupun tulisan yang sedang dikerjakan saat ini, masih ada cara lain yang efektif supaya pembaca tetap setia hingga halaman terakhir.

Memancing pembaca adalah cara tersebut. Ya, memancing. Kenapa? Karena kita ibarat seorang pemancing, dan pembaca kita adalah ibarat ikan yang harus kita berikan umpan agar dia tetap bertahan dan penasaran. Dan memancing, diperlukan kesabaran dan juga ketekunan.

Setiap tulisan tentu bisa dibuatkan pancingannya agar pembaca tetap memperhatikan isi tulisan penulisnya. Pancingan tersebut tentunya akan lebih efektif jika umpan yang diberikan benar-benar berkualitas, menarik, ataupun memiliki diferensiasi yang tidak umum. Kesemua hal tersebut dimaksudkan agar sekali pancing langsung mengena kepada pembaca. Karena pembaca tentu sudah semakin cerdas.

Variatif

Layaknya pancingan yang benar-benar ada untuk memancing ikan, pancingan pada sebuah tulisan pun bervariasi. Baik itu bentuk, ukuran panjang-pendek, maupun isi yang terkandung di dalamnya. Namun, apapun pancingannya yang paling tepat adalah mengefektifkan dan mengoptimalkan pancingan tersebut.

Pancingan tersebut dapat hadir dalam bentuk kalimat, penggunaan kata-kata, bentuk atau struktur bahasa, hingga pemilihan kata terakhir dalam sebuah bab. Yang terpenting adalah, sasaran pancingan tersebut jangan sampai salah!

Ingin tahu lebih lengkap mengenai pancingan? Silakan kirim email ke saya. (naga_tasik@yahoo.com)

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Jum’at kemarin adalah hari libur. Dan, karena hari libur itulah sebuah kebetulan terjadi. Yakni, saya tak dapat terhubung dengan koneksi internet sehingga tidak bisa memberikan materi coaching. Bagi para pembaca sekalian, saya meminta maaf atas kesalahan tersebut, dan berikut ini adalah materi coaching lanjutan yang saya muat di blogs ini. Selamat membaca!

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Dunia adalah tempat yang sangat besar dan benar-benar besar. Besar di sini, tak hanya persoalan ukuran, tapi juga tentang apa pun yang terkandung di dalamnya. Dunia mencakup milyaran orang dengan berkali-kali lipat permasalahannya, serta berkali-kali pula kemungkinan terjadinya. Jadi, dunia adalah sebuah hal yang sangat kompleks, rumit.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat mengerti dunia. Sebuah lagu bahkan menyebutkan bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara, tempat manusia melakukan sebuah drama atau lakon yang telah ditetapkan Sang Sutradara Kehidupan, Tuhan YME. Dan berangkat dari konsep itulah, sebagian orang pun cerdas menangkap situasi, kejadian, momen dan peristiwa untuk kemudian disarikan ke dalam bentuk bacaan untuk dibagikan kepada khalayak ramai.

Tulisan, yang juga sering hadir dalam bentuk artikel, cerita, novel, hingga roman adalah bentuk bacaan dari rumitnya kehidupan di dunia yang ditangkap secara cerdas oleh penulisnya untuk dibagikan. Dengan kelihaian yang cukup mumpuni, penulis memiliki kemampuan untuk mencermati setiap jengkal kejadian untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan. Tapi, bagaimanakah bentuk yang tepat?

The Right Shape

Beberapa orang menganggap bentuk yang tepat adalah tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagi orang-orang demikian, menulis adalah hak prerogatif yang tak dapat diganggu gugat dan dilindungi oleh lisensia puitika. Sehingga produk akhir dari proses menulis adalah tulisan yang benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh sang penulis. Sebuah mahakarya yang dipenuhi oleh ego sang pencipta.

Biasanya produk tulisan yang dibuat dengan ego penulis, akan mengabaikan hal-hal yang berada di luar lingkungan penulis. Ia akan mengabaikan pendapat, masukan, dan bahkan cek silang. Ia akan memasukkan setiap sumber daya yang dimilikinya ke dalam tulisan tersebut. Mengagumkan memang akan kesungguhan penulis untuk membuat produk yang benar-benar mencerminkan dirinya, tapi pada praktiknya hal demikian belum tentu produk yang tepat.

Lalu seperti apa?

Sebuah produk tulisan yang tepat, adalah sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembacanya. Lagi-lagi saya mengatakan, layaknya sebuah produk usaha, tulisan yang tepat adalah tulisan yang dapat dicerna dan “dikonsumsi” oleh pembacanya. Intinya, sebuah tulisan yang mengerti akan pembacanya.

Simplify

Seperti sudah dimuat di awal tulisan, dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Kompleks dan rumit. Sehingga penduduk dunia pastinya ingin sesuatu yang tak juga ikut-ikutan kompleks atau rumit untuk dikonsumsi. Sebuah pandangan kebalikan yang merupakan solusi dari kehidupan sehari-hari. Dan, sudah tentu jawabnya adalah kebalikan kerumitan, yakni kesederhanaan.

Hal-hal yang sederhana tanpa disadari telah menjadi sebuah primadona yang begitu menggelegar dalam dunia penulisan serta penerbitan. Buku-buku ‘how to’ serta ‘cara praktis’ untuk buku-buku kategori non-fiksi adalah buktinya. Kategori fiksi pun tak mau kalah, buku-buku teenlit maupun chiclit adalah contoh buktinya. Dengan memandang secara menyeluruh, setiap buku tersebut adalah buku-buku yang disajikan secara sederhana untuk para pembacanya.

Kesederhanaan dalam tulisan di buku dapat tercermin dalam beberapa hal. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat, hingga struktur paragraf, bab, dan alur tulisan itu sendiri. Dengan kesederhanaan itu, tak hanya pembaca saja yang diberikan kepuasan karena lebih mudah mengerti akan tulisan, kita sebagai penulis pun juga akan menjalani proses penulisan yang lebih mudah.

Intinya, dengan menyajikan kesederhanaan, tulisan pun akan lebih mudah dikerjakan sesuai dengan outline atau kerangka yang dibangun dari ide dasar. Dan, kesederhanaan umumnya dipilih oleh pembaca yang merupakan konsumen kita.

Jadi, bagaimana tulisan kamu?

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Apa yang membedakan sebuah tulisan dengan tulisan lainnya? Apa yang membedakan sebuah novel dengan novel lainnya? Apa yang menjadi diferensiasi dari seorang penulis dengan penulis lainnya? Apa yang membuat sebuah media tetap bertahan dengan tulisan-tulisan di dalamnya? Jawabnya mudah, yaitu gaya bahasa/tutur.

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Tahu perbedaan Kompas dan Tempo? Kedua media nasional yang masing-masing menjadi pemimpin di jenisnya (surat kabar dan majalah), memiliki ciri khas tersendiri yang terus menjadi pakem yang menjadikannya berbeda dengan media lain yang sejenis dan bergerak di jenis yang serupa.

Kompas memiliki pembeda berupa gaya bahasa/tutur yang cergas, aktual, dan melingkupi hampir segala aspek. Ia memiliki beragam sudut pandang yang dapat digunakan sebagai latar tulisan-tulisannya. Sehingga, Kompas pun didaulat sebagai media yang dapat menjangkau segala pihak dan golongan.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Media majalah mingguan yang merupakan perpanjangan dari Goenawan Mohammad ini, memiliki karakter yang bernada satir, terkadang berironi, namun tepat pada sasaran. Sudut pandang yang menjadi latar belakang tulisannya secara ajaib memiliki keseragaman, meskipun setiap penulisnya berbeda-beda, baik itu pendidikan, suku, hingga jenis kelamin dan agama. Kekuatan itulah yang membuat Tempo tetap bertahan dan melaju meskipun berkali-kali dilanda gugatan hukum.

Gaya bahasa/tutur dalam sebuah tulisan adalah sebuah karakter dari tulisan itu sendiri, dan juga merupakan penjelmaan dari sang penulisnya. Hal ini dimungkinkan karena setiap penulis memiliki karakter yang tidaklah sama, tidak identik, namun terkadang jika bidang yang digeluti sudah sama, maka keseragaman dan kekompakan pun tercipta. Akan tetapi, pada sebuah naskah novel fiksi, hal ini tidaklah berlaku, karena fiksi berangkat dari imajinasi.

Dasar Berbeda

Perbedaan mendasar dari menulis fiksi dan non-fiksi adalah, jika menulis fiksi berarti menciptakan kenyataan, sementara menulis non-fiksi berarti memperindah kenyataan. Dengan konsep dasar itulah mengapa fiksi dan non-fiksi terkadang berbeda pada penerapannya, yang contohnya merupakan gaya bahasa/tutur.

Dengan tujuan menciptakan kenyataan, tulisan fiksi umumnya merupakan aktualisasi dan tumpahan dari sekian juta pemikiran penciptanya/penulisnya. Siapa pun orangnya, sesukses apa pun orangnya, seorang penulis fiksi memiliki tanggung jawab yang cukup besar, yakni membuat karyanya berbeda dengan orang lain. Dan, cara tersebut yang paling mendasar untuk membuatnya berbeda, adalah dengan membuat gaya tutur yang tak ada sebelumnya, atau mengelaborasi gaya bahasa/tutur yang sudah ada yang kemudian dikembangkan menjadi gaya tersendiri.

Pada sebuah tulisan fiksi yang kemudian berkembang menjadi novel, gaya bahasa/tutur inilah yang kemudian menjadi kekuatan terbesar. Dengan gaya bahasa/tutur yang berbeda, secara tidak langsung akan membuat tulisan fiksi yang dibuat akan memiliki diferensiasi dan ciri tersendiri. Jika kemudian sulit untuk mengawalinya, maka membaca banyak tulisan fiksi itu baik, akan tetapi jangan sampai kemudian membuat gaya bahasa/tutur yang dimiliki pun tercampuri oleh gaya bahasa/tutur orang lain tersebut.

Seperti pepatah Jepang, “Mencontoh produk itu tidak apa, tapi tambahkanlah nilai lebih tersendiri agar tidak meniru melainkan membuat sebuah produk menjadi berbeda.”

Kutipan

Kutipan atau kata langsung dari sebuah tokoh/karakter yang berdiri di luar narasi, merupakan salah satu unsur penambah kenikmatan pembaca dalam memahami sebuah tulisan. Hal ini terutama berlaku pada tulisan fiksi. Kenapa? Karena kutipan akan membuat sebuah tulisan fiksi menjadi lebih kaya akan dinamika serta penulis pun tak perlu membuat narasi.

Layaknya sebuah naskah drama, kutipan adalah bentuk percakapan langsung antar tokoh. Kutipan akan menjadi kekuatan cerita itu sendiri, karena ia bisa menerangkan sekaligus menjelaskan jalannya cerita yang disertai dengan emosi dari setiap karakternya. Sebuah kutipan yang sempurna, akan bisa menghanyutkan emosi para pembacanya agar lebih memahami karakter yang mengucapkan kutipan tersebut.

Penggunaan perspektif sudut pandang orang ketiga atau di luar cerita, akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan sebuah kutipan. Karena dengan membuat kutipan yang sempurna itulah, maka tulisan fiksi tersebut akan memiliki alur cerita yang menarik. Aturan ini dimaksudkan agar meskipun penulis dapat berpindah-pindah di setiap adegan, namun setiap tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat serta perbedaan!

Berbeda halnya dengan perspektif sudut pandang orang pertama atau di dalam cerita, karena kutipan yang dihadirkan tak perlu memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena tanpa dikutip pun sang tokoh akan menceritakan (hampir) segalanya. Dan, dalam sudut pandang orang pertama, tanpa perlu dibuatkan kutipan pun, emosi dari tokoh utama akan tercerminkan dengan sendirinya.

Lalu bagaimana jika ada kata hati?

Teknisnya, kata hati bukanlah sebuah kutipan. Ia hanyalah opini yang terlontar dari dalam nurani dan belum tentu ditujukan pada sosok lawan bicara. Oleh karena itulah kata hati tidak memerlukan penulisan yang menyerupai kutipan ~ memakai tanda kutip. Akan tetapi, sebuah kata hati yang baik akan memiliki kekuatan diferensiasi karakter yang merupakan cerminan jiwa dari setiap tokoh di dalam cerita.

Penggunaan kata hati, tidak dibatasi oleh perspektif orang ketiga ataupun orang pertama. Memang diakui, pada perspektif orang pertama kata hati akan lebih mudah ditemui dan dihadirkan, akan tetapi bukan berarti perspektif orang ketiga tidak bisa dilakukan. Teknisnya adalah dengan membuat paragraf baru yang berisikan kata hati tersebut, dan jika memungkinkan dituliskan dengan kata-kata miring.

Coaching Menulis #005: Look Around

Mari kita rehat sejenak dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan tulis-menulis. Saya mengajak untuk rehat tak lain agar pikiran dan juga kepala kita tak terus-menerus dikungkungi oleh “pekerjaan” dan diganti oleh hal-hal yang menghibur. Nah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, tempatnya biar saya yang menentukan karena akan berkaitan dengan coaching kali ini.

Coaching Menulis #005: Look Around

Ke mana Anda melangkahkan kaki untuk menyegarkan pikiran? Mall? Resto? Atau tempat rekreasi alam seperti pantai dan pegunungan? Bagaimana jika kita ke toko buku. Ya, toko buku. Sebuah tempat di mana banyak sekali buku diperjualbelikan dan juga sekaligus gudang ilmu dan informasi yang terintegrasi ~ meski tak bisa dipinjam selayak perpustakaan.

Di toko buku, tersedia beragam jenis, judul, tampilan dan juga penerbit. Setiap buku-buku tersebut memiliki daya tarik dan juga kelebihan tersendiri yang dianggap sangat baik dan dapat mendukung daya jual sehingga dibeli oleh konsumen. Tentunya konsumen akan lebih tertarik oleh buku yang menawan sehingga ia pun rela merogoh koceknya. Setiap transaksi tersebutlah yang menjadikan toko buku sebagai “pasar”.

Pasar
Iya, pasar. Menulis buku itu juga ibarat membuat sebuah produk, yang nantinya akan dilempar kepada pembaca melalui penerbit. Dan, penerbit-penerbit itulah yang lebih tahu pasar seperti apa. Mereka pastinya punya tim analisis dan juga marketing yang lebih mengerti akan persoalan penetrasi, strategi, dan juga banyak lagi hal-hal dan hil-hil yang harus dikerjakan agar produknya laku. Dan, kita sebagai konseptor plus pembuat produk, seharusnya lebih jago dibanding mereka, karena kita lebih tentu lebih tahu produk dan juga sasaran pembaca.

Produk yang baik, yaitu buku/tulisan yang kita buat pastinya diawali dengan sebuah tujuan. Jika hanya untuk menyalurkan hobi nulis, tak perlu bersusahpayah membuat buku. Cukup kirimkan artikel ke koran, cerpen, atau publish di blog. Dan yah, buku memang sebuah produk. Sebuah hal yang harus punya nilai daya jual.

Pergi ke pameran buku, ataupun bertemu penerbit adalah salah satu cara ampuh untuk mengetahui karakteristik penerbit yang ada di jagat raya perbukuan indonesia ini. Ada yang berdasar agama, ada yang ‘ngepop, ada yang eksperimental, dan masih banyak lagi. Dan, dengan lebih tau penerbit tentunya tulisan kita pun bisa jadi lebih kaya. kenapa? Karena kita bisa membidik penerbit mana yang bakal cocok untuk kita serahkan karya kita, dengan potensi terbit pun pastinya lebih besar dibandingkan penerbit yang tidak tepat.

Melihat Sekeliling
Konsep sederhananya adalah dengan cara look around. Melihat sekeliling. Lebih pekalah terhadap apa yang sedang terjadi, apa yang memang terjadi, dan apa yang kira-kira akan terjadi. Dan, penerbit beserta buku-buku yang mereka terbitkan adalah hal yang paling tepat untuk mempelajari hal itu.

Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah, betapa sekarang banyak sekali buku-buku yang bertemakan Facebook, Twitter, hingga Plurk! Kenapa? Karena ketiga hal itulah yang kini sedang menggelora di jagad maya serta banyak sekali orang Indonesia yang menggunakannya. Peluang itulah yang kemudian banyak dibidik serta dilirik oleh kebanyakan penerbit.

Jadi, menulis itu tak hanya membuat tulisan, tapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Sudah tahu nilai jual tulisan Anda?