Category: Burung Kertas

#21

Beberapa hari kemudian, Festival Hanami yang terkenal itu dimulai. Sakura pun sudah bermekaran di sekitar Jepang. Indah sekali. Belum pernah aku merasa sebahagia ini dengan ditemani kehadiran bunga Sakura. Bagaimana tidak? Pernikahanku akan segera berlangsung! Jadi, ceritanya berlanjut dari hari itu. Hari saat Pram melamarku. Ternyata, kejutan lain yang ia maksud adalah kedatangan keluargaku. Terutama,

#20

Deburan ombak menyapa pantai. Sepi. Damai. Aku duduk sendiri. Angin laut menyibakkan rambutku. Aku menunggu. Menunggu siapa? Kurasakan, seseorang mendekat. Aku ingin menoleh, tapi aku tak bisa. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Siapa dia? Rambutku seakan-akan dibelai. Lembut sekali. Hanya satu orang yang bisa membelaiku lembut seperti itu. “Pram?” Orang itu duduk di sebelahku. Aku menoleh.

#19

Malam itu, lagi-lagi aku menunggui Pram. Kusandarkan kursiku di dekat jendela. Diam. Menatap Pram. Bulan bersinar hangat. Bintang menemani malamku. “Pram, aku harap kau bisa mendengarku, karena aku tahu sebenarnya kau bisa, bukan?” Hening. “Dua hari yang lalu, seseorang menjengukmu. Namanya Samiaji. Kau kenal?” Hanya denyut penanda kehidupan yang menjawab. “Dia bilang, dia leader tim

#18

Malam sudah menjelang. Di ruang 36, hanya ada aku dan Pram. Ia terlelap dalam damai. Tubuhnya dililiti selang-selang yang menunjang kehidupannya. Tenang. Sunyi. Sepi. “Pram…sebenernya, apa sih yang terjadi di peragaan tadi? Kenapa kamu nggak hati-hati? Denger-denger, kamu nolong orang jadi begini. Kenapa? Sampe kapan kamu bakalan terus begini? Kenapa kamu terlalu egois untuk nyelametin

#17

Esoknya, aku ke kampus seperti biasa. Selain kuliah dan konsultasi dengan dosen tentang skripsiku, aku kembali menenggelamkan diri di perpustakaan. Mengembalikan beberapa buku yang sudah kubaca, sekaligus mencari lagi beberapa buku yang baru. Perpustakaan cukup penuh siang itu. Aku tak kebagian tempat duduk. Terpaksa, aku berdiri. Dan agar tak jauh, aku berdiri sambil membaca di

#16

Kubuka pintu dan masuk. Kupakai sandal, dan beranjak menuju kamarku. “Ghita-chan, kau sudah pulang?” Kutatap Hikaru di ruang TV. Ia sedang menonton sebuah acara. “Ya. Ada apa?” Hikaru langsung mematikan TV dan berbalik menghadapku. Sorot matanya menyala-nyala. Jelas, ia menginginkan sesuatu. “Bagaimana ceritanya?” Aku tersenyum lemah. Malas. “Ah, kau ini. Mau tahu saja!” “Yah, ayo

#15

Teko teh sudah hampir kosong. Cangkirku dan Pram sudah kosong. Ia diam di hadapanku. Lama. “Udah lama kita nggak ngobrol sebanyak dan selama ini.” “Ya. Kalo lagi minum teh, enaknya emang ngobrol, sih. Apalagi kalo sama Hikaru. Wah, bisa lupa waktu!” Pram tersenyum. Ia menatap arlojinya. Kulihat dirinya. “Jam setengah delapan. Aku harus balik ke

#14

Di stasiun Yamaguchi, aku turun. Pram di belakangku. Hari sudah mulai gelap. “Lalu?” “Kita jalan kaki.” “Hah? Emangnya deket?” Aku hanya tersenyum, dan melangkah lebih dulu. Pada hal-hal tertentu, Pram tetaplah sama. Ia masih Pram yang dulu. Seperti ini, dan tadi saat di kereta. Benarkah? Atau itu hanya akting? Lalu, bagaimana dengan pertanyaannya yang tak

#13

“Jadi, kau kuliah di sini?” tanya Pram memecah kebekuan di kafetaria. Cangkir kopinya sudah setengah kosong. “Ya.” “Kuliah bidang apa?” Diam. Aku agak heran mendengar Pram menanyakan hal ini. Tidakkah dulu pernah kukatakan padanya? “Kau sudah lupa?” “Yah, hanya ingin memastikan saja.” “Sastra Jepang.” “Oh, baguslah! Kau belajar langsung ke sumbernya!” Aku tersenyum. Pram menghirup

#12

Aku berdiam di balkon malam itu. Jalanan sepi. Tak ada orang yang lewat. Udara malam hari ini begitu dingin. Pasti karena hujan dari siang sampai sore tadi. Langit begitu cerah. Awan mendung sudah hilang. Bulan bersinar terang. “Jangan melamun terus! Sudah malam!” “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.” Hikaru muncul dari belakangku. Ia duduk