Browse By

Short Story #93: Bukan Yang Pertama

“Ada apa, De? Aku tadi langsung ke sini begitu baca sms kamu yang
bilang pengen ngobrolin soal minggu depan..” tanya Arya sambil menarik
kursi di depan kekasihnya, “Tetep jalan sesuai rencana, kan?”

Dena tak langsung menjawab. Ia hanya menatap sekilas ke Arya, lalu
menarik napas sambil kemudian melihat ke arah meja.

Selintas, Arya berpikir ada yang tak beres. Pasti ada yang tak beres.

“Ada apa?” Arya mencoba memegang tangan Dena di atas meja, tapi tak
berhasil. Dena menarik tangannya.

Sekejap, ruangan cafe favorit untuk pertemuan mereka terasa hening,
dingin, dan sepi.

“Kenapa sih kamu milih aku, Mas?” tanya Dena.

“Maksud kamu apa, De?” Arya balik bertanya.

Dena menarik napas. Lagi.

“Ya..itu, kenapa kamu milih aku? Kenapa ga cewek lain? Masih banyak
kan cewek yang lebih cantik, pinter, atau bahkan ngejar-ngejar Mas..”
ucap Dena. “Aku ‘kan bukan siapa-siapa dibanding Mas yang dikenal di
mana-mana..”

Giliran Arya yang menarik napas. “Justru karena itu aku suka dan milih kamu..”

“Tapi kan aku cuma cewek biasa, Mas. Ga kaya’ cewek-cewek yang
sebelumnya udah pernah jadian sama Mas..” Dena langsung menanggapi.

“Ya justru itu, De. Karena kamu beda.” ucap Arya.

Dena menarik napas lagi.

“Ada apa, sih De? Kamu takut Mas tinggalin, ya?” ucap Arya sambil coba
menggenggam tangan Dena. Kali ini berhasil.

“Ak…aku takut ga bisa bikin nyenengin Mas kaya’ cewek-cewek sebelum
aku.” Dena berujar. “Buat aku, Mas adalah segalanya yang pertama.
Cowok pertama yang ngapelin aku ke rumah, cowok pertama yang bisa
ngambil hati Bapak, juga cowok pertama yang Ibu setuju buat jadi pacar
aku. Bahkan, ciuman pertama aku pun sama Mas..”

Arya diam tersenyum. “Dan karena itu kamu takut, aku bakal ninggalin kamu?”

“Aku takut rasa seneng yang selama ini aku jalani selama sama Mas,
bakal ilang tiba-tiba..” jawab Dena setelah diam agak lama.

Arya melepas satu tangannya dari tangan Dena. Ia lalu memegang dagu
Dena hingga wajahnya saling bertatapan dengannya.

“Kamu mungkin bukan yang pertama, De. Tapi.. aku pengen kamu jadi yang
terakhir buat aku..” jawab Arya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: