Browse By

Short Story #92: Kriteria

“Jadi kapan toh, Na?” tanya Laksmi pada putra bungsunya.

“Apanya yang kapan, Bu?” Krisna balik bertanya.

Laksmi menyimpan sendok dan garpu ke piringnya. “Kapan Ibu bisa punya menantu lagi?”

“Menantu Ibu kan udah banyak.” ucap Krisna berkelit.

“Tapi itu kan menantu dari mas dan mbak-mu. Bukan darimu.” respon Laksmi.

Krisna tak menjawab lagi. Kalau sudah begini, ia tahu betul apa yang harus dilakukan. Yakni, mendengarkan dan menyimak setiap ucapan Ibunya.

“Fitri itu ayu, lho Na. Anaknya Bu Rahma itu ga pernah macem-macem. Rajin bersih-bersih rumah juga.” Laksmi mulai memberikan pilihan. “Atau kamu maunya sama Juwita? Anak dari Bu Sinta itu? Ibu dengar dia pintar masak.”

Krisna tak menjawab. Ia hanya duduk di kursinya sambil memandangi piring makannya yang sudah kosong.

“Ningsih anaknya Pak Dewanto itu kabarnya ulet dan cerdas, meski dia lulusan SMA.” Laksmi meneruskan. “Atau kalo kamu maunya yang sama-sama sarjana bisa nanti sama Dwi, anaknya Pak Joko, RT kita itu. Tapi mungkin nanti beda usianya lebih dari lima tahun sama kamu..”

Krisna tetap tak menjawab. Ingin rasanya ia memilih salah satu di antara nama-nama yang sudah disebutkan ibunya, tapi tak ada kata apapun yang terucap dari bibirnya.

“Kamu koq diem aja, toh Na? Ga mau pilih karena belum kenal? Ga usah dipikirken.. Toh Ibu udah kenal sama mereka dan juga orangtuanya kalo Ibu dateng ke rumah mereka.”

“Aku ya bingung, Bu.”

“Bingung kenapa? Tinggal pilih aja salah satu dari nama yang udah Ibu kasih tau tadi. Gampang, toh?”

“Pilih istri itu kan ga gampang, Bu. Aku juga punya kriteria sendiri.” Krisna memberitahu.

“Kriteria opo? Kamu kalo kebanyakan kriteria, nanti Ibu keburu nyusul Bapak ke surga sebelum dapet mantu dari kamu.”

“Ibu jangan ngomong gitu ah. Pamali lho, Bu.” Krisna mengingatkan.

“Lah ya abis kamu milih perempuan buat istri aja mikirnya setengah mati. Bisa keburu mati duluan, Na.” Laksmi memprotes.

Krisna menarik napas.

“Emang apa sih kriteria dari kamu? Perlu keuangan yang stabil? Perlu pesta nikah yang megah? Prospek warisan?” tanya Laksmi. “Kalo iya begitu, Ibu tau siapa yang bisa dipilih..”

“Kriteria dari aku gampang aja, Bu. Cuma satu aja.” ucap Krisna. “Istriku nanti cinta sama aku, di saat susah dan senang. Sama seperti Ibu dan Bapak, dari pertama kali nikah dulu, sampai sekarang anak-anaknya besar.”

One thought on “Short Story #92: Kriteria”

  1. Ceritaeka says:

    So sweeet ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: