Browse By

Short Story #80: Seperti Angin

“Why do you love Randi?” tanya Ariana di satu sore yang dihiasi rintik hujan.

Julia yang tengah memilih-milih baju di sebuah factory outlet, berhenti sejenak dan melihat sahabatnya. “Because, I do.”

Ariana mengubah posisinya yang semula berdiri, hingga kemudian bersandar ke dinding.

“Itu aja?” tanya Ariana.

Julia memutar matanya dan menatap sahabatnya tersebut. “Iya. Emang kenapa?”

“Mm.. aku bingung aja sih.” respon Ariana segera.

Julia menarik Ariana untuk duduk di sofa-sofa kecil di sekitar lemari baju factory outlet.

“Kenapa?” Julia balik bertanya.

Giliran Ariana yang memutar bola matanya. “Ya bingung aja, kok aku ga ngerasa hal yang sama ya sama Dika?”

Julia menggenggam tangan Ariana. “Mungkin belum.”

“Tapi apa ciri-ciri, dan langkahnya supaya bisa begitu?” tanya Ariana lagi.

“Entahlah.. tapi kalaupun kamu ngerasa gitu, yang pasti kamu bakal ngerasa itu sepenuh jiwa dan raga kamu.” jawab Julia.

“Apa mungkin Dika bukan jodoh aku?” Ariana segera merespon.

“Soal itu, mungkin hanya Tuhan yang tahu.” ucap Julia.

Lalu hening. Sehening factory outlet yang tengah sepi di bawah hujan siang-siang saat week days.

“Emang ga bisa diliat, ya? Ciri-ciri jatuh cinta itu?” tanya Ariana lagi.

Julia tersenyum. “Ga bisa. Karena cinta itu seperti angin. Tak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan.”

 

NB: terinspirasi dari film A Walk to Remember, dengan quotes “Our love is like the wind… I can't see it, but I sure can feel it.”

2 thoughts on “Short Story #80: Seperti Angin”

  1. Ceritaeka says:

    Haha the same answer I gave to my hubby when he asked me that question 😀

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @eka wih, ada kisah nyatanya ternyata.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: