Browse By

Short Story #48: Halaman Terakhir

“Jadi berangkat?” tanya Dani sambil menghampiri Lia yang tengah
membaca buku di meja kantin.

“Jadi.” jawab Lia singkat sambil kembali membaca bukunya.

“Kapan?” tanya Dani lagi. Kali ini ia sudah duduk di depan Lia, sambil
menyimpan tasnya di meja.

“Di tiketnya sih, tanggalnya lusa.” jawab Lia lagi. Nada suaranya
terdengar enggan menjawab, tapi biar bagaimanapun ia tetap menjawab
juga akhirnya.

“Oh, aku kira keberangkatan kamu masih lama..” Dani berpendapat.

“Enggak. Lusa itu paling lambat lah.”

“Lho, koq bisa paling lambat?” tanya Dani lagi.

Lia menutup bukunya. Kali ini ia menatap Dani yang memancarkan rasa penasaran.

“Aku masih ada keperluan sebenernya. Tapi, ya.. kelar ataupun engga,
lusa aku tetep berangkat.” jawab Lia.

“Oohh…” ucap Dani.

Lia baru hendak membuka buku bacaannya kembali, ketika tiba-tiba Dani
mengajaknya berbicara lagi.

“Lucu ya, aku kira kita akan selamanya di sini. Kota ini. Kota dari
kita kecil dulu. Ternyata enggak. At least, kamu ga akan gitu..” kata
Dani sambil meluruskan kakinya di bawah meja kantin.

Lia mengangkat sebelah alisnya.

“Kita cuma bisa ngira-ngira, tapi soal pastinya ya.. itu cuma Tuhan
yang tahu..” jawab Lia. “…atau, cuma dia yang tahu..” tambah Lia
dengan nada lirih.

Dani sepertinya tak mendengar ucapan terakhir Lia. Ia sibuk melihat ke
arah langit-langit kantin. Lia pun membuka bukunya. Membacanya.
Hening.

“Kamu bakal balik lagi ga?” tanya Dani.

Lia diam sejenak.

“Ga tau. Kaya’nya aku belom nemu hal yang bisa bikin aku balik lagi..”
ucap Lia. “Tapi…ga tau kalo nanti-nanti..”

“Maksud kamu?” tanya Dani.

Lia menarik napas. Ia menutup buku novel yang tengah dibacanya, lalu
mendorongnya di atas meja ke Dani.

Dani diam dan bertanya-tanya apa maksud buku yang disodorkan Lia itu.
Sementara itu, Lia membereskan tasnya. Bersiap pergi dari kantin.

“Baca aja halaman terakhir deh, Dan..” ucap Lia dengan nada agak ketus
sambil kemudian pergi membelakangi Dani.

Dani yang bingung kemudian mengambil buku yang tadi disodorkan Lia. Ia
lalu membuka halaman terakhirnya. Ada beberapa kalimat di sana.

“Di kota ini, belasan tahun lamanya aku memendam rasa. Di kota ini,
belasan tahun lamanya aku tertawa, menangis, dan diam bersama. Di kota
ini, aku tinggalkan harapan akan cinta.

Dani, if only….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: