Browse By

Short Story #46: Reserved

“Masih ada meja yang kosong?” tanya Erik sambil menghampiri meja
penerima tamu di restoran.

Anna, yang malam itu bertugas menjadi penerima tamu langsung mengenali
Erik sebagai salah satu pelanggan setia restorannya. Hampir 3 malam
dalam seminggu, Erik selalu makan malam di sana.

“Maaf Pak Erik, tapi malam ini sudah full. Kalaupun ada meja yang
keliatan belum keisi, sebenernya sudah reserved lewat telepon.” jawab
Anna ramah.

Air muka Erik sedikit kecewa, tapi ada hal lain yang ada di kepalanya.

“Koq kamu tau nama saya?” Erik kembali bertanya.

Anna tersenyum kecil dari balik meja.

“Sudah tugas saya untuk tahu beberapa pelanggan setia restoran kami
seperti Pak Erik.” ucap Anna ramah.

“Ooo..” respon Erik. “Kalo pelanggan setia, harusnya juga bisa dapet
meja dong, meski udah ada yang reserved..”

“Maaf, tapi aturannya ga gitu.” jawab Anna segera. “Pelanggan yang
sudah mereservasi tempat, maka takkan dapat digeser oleh siapapun.
Kecuali… Ada special order.”

“Kalo gitu, jadiin saya special order. Bisa, ‘kan?”

Anna kembali tersenyum. “Maaf, tapi special order datengnya dari
managerial. Keputusan ada di tangan mereka.”

Erik menarik napas. Ia menoleh sesaat ke ruangan depan restoran. Sepi.
Hanya ia yang ada di situ dan Anna di balik meja penerima tamu.

“Kalo saya pingsan karena kelaparan, gimana?” tanya Erik dengan nada serius.

“Untuk kondisi darurat seperti itu, prosedurnya adalah dengan
memanggil ambulan.” jawab Anna.

Erik mendengus. Sambil menatap ke lantai, ia tersenyum kecil.

“Bener-bener nih, ga bisa masuk dan geser meja yang reserved meski
saya pelanggan setia?” tanya Erik lagi.

“Benar..”

“Emang siapa sih yang pada duluan ngereserved itu? Saya bisa tau ga?
Biar nanti saya coba hubungin supaya saya dulu yang masuk gitu..” Erik
memotong dengan nada setengah memaksa.

“Maaf, tapi saya ga punya hak untuk itu.” jawab Anna dengan nada
berusaha semanis mungkin, walau dalam hati ia mulai mengumpat akan
Erik.

“Siapa nama kamu tadi?” tanya Erik.

“Anna..”

“Oke.. Anna.. Jadi saya bisa reserve kapan?” Erik mulai berulah dengan
memaksa lagi untuk mendapatkan meja.

“Segera setelah ada meja kosong, atau ada yang membatalkan
reservasinya.” jawab Anna.

Erik menarik napas.

“Lama nih pasti..” Erik menggumam.

Dalam hatinya, Anna mengamini gumaman Erik.

“Tapi kalo hati kamu, belom reserved kan?” tanya Erik tiba-tiba.
Setangkai bunga mawar tiba-tiba sudah ada di tangannya sambil
disodorkan pada Anna.

4 thoughts on “Short Story #46: Reserved”

  1. Yahya Kurniawan says:

    Pak Erik gak lihat cincin yang melingkar di jari manis kanan saya ini ya? (¬_¬”)

  2. Billy Koesoemadinata says:

    lho, oom yahya sekarang jadi Anna?

  3. ernit says:

    gombalnya Billy dikeluarin nih di sini :))

  4. yankur says:

    eeaaaa….nyekil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: