Browse By

Short Story #40: Sepanjang Dia Bahagia

“Gila, cantik banget ya dia..” Ahmad berbisik pada Heru yang duduk di
sebelahnya. “Bener ternyata, cewek pas wedding day keliatan lebih
cantik!”

Heru tak segera merespon. Ia masih mengikuti prosesi akad yang
berlangsung di depannya.

“Itu calon lakinya nyadar ga sih kalo Nova keliatan secakep itu?”
Ahmad kembali berbisik sambil tak melepaskan pandangan ke arah meja
akad nikah.

Dan, Heru tetap tak merespon.

“Jadi penasaran, calon bini gue nanti bakal keliatan tambah cantik ga
ya pas merit sama gue? Dan, gue bakal nyadarin kondisi itu ga ya?”
Ahmad kembali berkomentar tanpa memedulikan direspon Heru atau tidak.

“Dia ga sekadar cantik hari ini, tapi sempurna.” ucap Heru perlahan.

Ahmad pun iseng menoleh ke arah Heru. Di depannya, akad nikah sedang
berlangsung proses pengecekan nama sebelum kemudian ijab kabul.

“Sempurna gimana?” tanya Ahmad penasaran.

“Iya, sempurna. Dia ga pernah keliatan sesempurna ini sebelumnya. Ga
ada keraguan, ga ada ketakutan, ga ada penyesalan. Perfect.” jawab
Heru.

“Emang dia pernah gitu?”

Heru diam sejenak. Ia menarik napas. Sekelebat ingatan tertera di pikirannya.

“Dulu, waktu dia masih sama gue. Waktu kita belom putus. Gue pernah
ajak dia merit, dan… berujung ga sempurna.” jawab Heru.

“He? Jadi alesan loe putus sama dia karena itu?” tanya Ahmad. Ia
benar-benar menoleh ke arah Heru.

Heru tak menjawab. Ia justru menarik napas saat menyaksikan penghulu
memulai proses ijab kabul pengantin di depan.

“Dia ga pernah jawab. Tapi ya.. Gue ngeliat ada keraguan di bola
matanya..” jawab Heru.

“Harusnya loe ga dateng di akad nikahnya dia, Her..” ucap Ahmad.

“Sepanjang dia bahagia, gue ga masalah.” jawab Heru. “Lagipula, dia
yang ngundang gue secara personal, tanpa undangan..” tambahnya dengan
nada pelan.

Sekejap kemudian terdengar ucapan ‘Sah’ dari arah depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: