Browse By

Short Story #35: Cerita Maria

“Thanks for the coffee.” Maria akhirnya berkata setelah diam cukup lama.

“Sip. Thanks juga udah mau nemenin aku ngobrol, cerita ini-itu.” jawab
Dedi tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.

Lalu hening. Lagi.

“Jalanan selalu sesepi ini ya kalo malem?” tanya Dedi sambil sedikit
menoleh ke arah kiri. Mencoba melihat Maria di dalam keremangan lampu
jalan.

“Kalo abis ujan, lebih sepi lagi. Mana dingin pula.” jawab Maria.

“Oh.. Iya.. Bener juga..” ucap Dedi.

Walau sepi, tapi Dedi tetap mencoba waspada terhadap jalanan. Setelah
sedikit menoleh tadi, ia mengemudikan mobilnya lagi dengan cukup awas.

Lalu, di sebuah persimpangan, Dedi melambatkan mobilnya. Lampu merah.

Maria terlihat menoleh ke luar jendela dari kursinya di depan.

“Mau turun di sini?” tanya Dedi.

Maria segera menoleh ke arah Dedi yang menatapnya. “Eh.. Enggak..
Enggak.. Turunin aku di tempat biasa aja, Ded.”

“Oh, kirain.” sahut Dedi datar.

Dan, lampu lalu lintas berganti hijau. Dedi menjalankan kembali mobilnya.

“Kalo udah malem gini, kamu kalo mau jalan naek apa, sih? Emang masih
ada bus kota, ya?” tanya Dedi.

“Taksi sih seringnya. Kan biar ga lama nunggu. Apalagi kalo lagi
buru-buru, macam panggilan gitu.” jawab Maria.

“Oh..”

Lalu hening lagi. Dedi mengemudikan mobilnya melewati beberapa
belokan, lalu melambatkannya. Sudah hampir tiba.

Maria menghela napas.

“Kita bisa pergi lagi kalo kamu mau.” Dedi menawarkan.

Maria menoleh ke arah Dedi. Walau sudah menduganya, tapi ia tetap
senang Dedi melakukannya.

“Nope. Thanks for the offer.” jawab Maria.

Dedi menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang rumah. Tak besar,
tapi rumah tersebut nampak seperti dihuni oleh beberapa orang. Sebuah
kost-an.

“Tapi besok sepertinya oke, Ded.” ucap Maria sambil melihat Dedi.

“Well, jam biasa?” tanya Dedi sedikit berharap.

“Yeah. Kalo perlu malah lusa juga.”

“Lho?” Dedi terheran namun timbul sedikit rasa senang di hatinya.

“Ya, itung-itung buat ngobatin 300-an hari ke belakang, dan juga
persiapan buat 300-an hari ke depan.” jawab Maria sambil tersenyum
kecil.

“Well, if you say so.” ucap Dedi sambil balas tersenyum. “Thanks.”

“I thank you.” jawab Maria segera sambil mencium pipi kiri Dedi. “See
you tomorrow, then.”

“Yeah.”

Maria kemudian memegang tasnya sambil membuka pintu penumpang depan.
Ia turun, dan kemudian menutup pintu.

Tak lama, Dedi langsung menjalankan mobilnya. Meninggalkan Maria yang
berdiri sejenak sebelum kemudian membuka gerbang rumah kost-nya.

Saat Maria sedang berjalan membuka pintu, ponselnya berdering.

“Ya?” tanya Maria.

“Short time 1.000.000 mau?” jawab suara di balik ponsel.

“Hotel mana?” tanya Maria lagi.

“Taksinya bentar lagi dateng. Dia tau harus bawa kamu ke mana.” jawab
penelepon itu lagi.

Tanpa menyebut setuju, sambungan telepon terputus. Dan, Maria
mendekati gerbang kost-nya lagi menghampiri taksi yang sedang menepi.

3 thoughts on “Short Story #35: Cerita Maria”

  1. Ceritaeka says:

    Jd kalo sama Dedi, mau gratisan ya?

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @eka bukan begituuuu…

  3. yankur says:

    now playing : Java Jive – Gadis Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: