Browse By

Short Story #339: Attention

Sari baru saja sampai ke kantornya. Tapi ia sudah terlihat lelah. Bukan karena perjalanan menuju kantornya, tapi hal lainnya…

“Malam panjang?” Ayu, teman sekantornya menebak.

“Ya gitu lah.” Sari menjawab singkat.

“Kalo kamu capek, konsultasi hari ini bisa aku handle semua.”

“Trus aku makan gaji buta, gitu?”

“Yee.. co-owner makan gaji buta itu wajar kali.” Ayu memberitahu.

“Jadi itu yang selama ini kamu lakukan?”

Ayu langsung menjawab dengan tertawa. Sari juga. Lepas sejenak sepertinya beban yang ada di dalam dirinya.

“Tapi aku serius, lho. Kamu serahin aja semua jadwal konsultasi hari ini ke aku kalo emang kamu butuh istirahat.”

“I’m okay.” Sari menjawab. “It’s not the first time.”

“Justru karena bukan pertama kalinya.” Ayu langsung merespon. “I’m worried.”

Lalu Sari diam. Ayu mendekat. Memegang pundak Sari.

“Kenapa kamu milih buat begini?” Ayu bertanya.

“Udah pernah aku kasitau dan kita bahas juga kenapa aku milih dia, ya.” Sari langsung menjawab. “I’m not sorry for that.”

Sari lalu pergi mengambil minum di dispenser di ruangan mereka. Ayu kembali mendekati.

“Maksudku… kenapa kamu milih untuk terus berusaha? Padahal kamu tau sendiri ada begitu banyak pilihan lain yang bisa jadi lebih baik untuk kamu ambil.” Ayu kembali bertanya.

“Kalo aku bilang karena cinta, kamu percaya?”

Ayu diam sejenak sebelum menjawab. Ia tahu cinta dapat membuat orang buta dan lupa diri. Tapi ia juga tahu cinta adalah obat dan motivasi terbaik.

“Entah..”

Sari tersenyum sejenak. “Pengalaman konselingmu harus ditambah jenis kasusnya kayanya, ya supaya lebih ngerti tentang afeksi.”

“Contohnya?”

“Ayu.. those who needed love the most, would seek attention by ways you would least expected.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: