Browse By

Short Story #332: Dreamer

Vera memutar-mutar cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Bimbang. Sementara Aldi menarik napas dengan tenang di kursi depannya.

“Aku ga sanggup begini lagi.” Vera memberitahu lirih. Suaranya parau. Ia menunduk tanpa melihat Aldi.

Jika di situasi biasanya, Aldi akan langsung merespon dan bertanya kenapa Vera berkata begitu. Tapi, kali ini Aldi diam saja. Menerima. Menunggu.

“Mungkin ini saatnya…” Vera berkata lagi.

Aldi masih tak menjawab. Tapi ia melihat Vera di depannya. Rambutnya yang sering ia elus-elus. Pundaknya yang sering ia tutupi dengan jaket saat berjalan malam. Jemarinya yang….

“Kamu dengerin ga?” Vera bertanya.

“Iya. Aku denger.” Aldi menjawab. “Aku cuma ga tau harus jawab apa.”

Vera mendengus. “Biasanya kamu punya banyak jawaban.”

Aldi kembali diam tak menjawab. Vera pun kembali diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri, sambil sesekali menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh lawan bicaranya.

“Sebelom kamu pergi dari hidupku, bisa ga kamu kasitau aku apa yang bikin kamu ga nyaman sama aku?”

Vera diam. Berpikir. Semula ia hendak langsung menjawab, tapi hatinya menyuruhnya untuk bersabar. Untuk memikirkan apa jawaban terbaik.

“You are a dreamer.” Vera menjawab. “Kamu terlalu sibuk mencari dan melihat ke awang-awang, sementara aku ketinggalan di sini, di pijakan kakimu dan melihat pada kenyataan.”

Aldi mengganti posisi duduknya. Mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera.

“I may a dreamer.. But I dream about you. About us.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: