Browse By

Short Story #329: Membeli Waktu

Jenny melihat arlojinya. Ia menopang dagunya sambil menggoyang-goyang salah satu kakinya yang terjuntai dari atas satu kakinya lagi. Menunggu. Lagi. Tapi ia tak merasa berat atau lelah.

Lalu lalang manusia di depan posisi duduknya tak berkurang meski makin malam. Wajar saja, hari itu adalah hari terakhir sebelum akhir pekan yang panjang. Seperti dia, mereka pasti juga hendak bepergian keluar kota dengan pesawat sebelum akhir pekan panjang itu. Bedanya, mereka hendak liburan, sementara dia tidak untuk liburan.

Angin dingin menyapa wajahnya. Lembap. Basah. Lalu, hujan.

Jenny menarik troli kopernya dari pinggiran mencari jalan menuju salah satu kedai kopi. Di sana ia memutuskan untuk melanjutkan menunggu, sambil ditemani secangkir kopi hangat.

Baru saja ia merasa beruntung mendapatkan kursi untuk duduk ketika ponselnya berdering.

“Hai, kamu di sebelah mana?” suara Bambang terdengar.

“Coffeeshop terminal, ya.” Jenny memberitahu.

“Yang ada kursi di luar?”

“Aku di dalam.”

“Umm… kamu abisin aja dulu minumanmu. Aku tunggu di luar, ya.” Bambang memberitahu.

Klik. Sambungan telepon terputus sebelum Jenny merespon. Ia memutuskan untuk mengikuti kalimat terakhir Bambang, menghabiskan minumannya dalam ketenangan sambil sesekali mengecek akun media sosialnya.

Sekitar 30 menit kemudian, Jenny kemudian keluar coffee shop. Hujan masih turun namun tidak sederas sebelumnya. Dan, di salah satu pintu masuk terminal ia mendapati Bambang.

“Bang, kamu kok basah-basahan gini?” tanya Jenny saat menghampiri.

“Iya, tadi keujanan di jalan.”

“Lho, emang kamu naik apa?”

“Ojek.”

“Mobilmu?”

“Aku tinggal di kantor. Tadinya naik taksi, tapi kemudian stuck. Aku turun di jalan, trus panggil ojek.” Bambang memberitahu sambil sesekali mengelap wajahnya yang basah dengan beberapa lembar tissue.

“Ojeknya ga ada jas ujan?” Jenny bertanya lagi sambil sibuk membuka tas kecil di tangannya. Mencari handuk kecil yang kemudian ia berikan kepada Bambang.

“Jas ujannya dipake tukang ojeknya. Ga ada buat penumpangnya.” Bambang memberitahu sambil mengelap mukanya dan rambutnya dengan handuk kecil dari Jenny. “Makasih ya handuknya.”

“No problem.” Jenny memberitahu.

“Aku lupa banget kalo besok long wiken. Kalo gitu kan mendingan aku berangkat duluan tadi, atau cuti sekalian.”

“Demi ketemu aku?”

“Iya.”

Jenny diam. Ia merasa canggung. Bambang hanya ia anggap sebagai teman baik meskipun pernah menyatakan perasaan sayang kepadanya. Tapi…

“You don’t need to do that. We always have another time to meet.” Jenny memberitahu.

“But every time is different with another.” Bambang memberitahu.

“Maksudmu?”

“Satu-satunya hal yang takkan pernah terulang di dunia adalah waktu. Sekali dia berlalu, maka sudah berganti meskipun kita pikir kita tetap sama.” Bambang menjelaskan. “Bahkan kalo bisa, satu-satunya hal yang akan kubeli dengan semua hartaku adalah waktu. Supaya aku bisa lebih lama bersama denganmu.”

2 thoughts on “Short Story #329: Membeli Waktu”

  1. cK says:

    dalem yaaaaa

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @chika: apanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: