Browse By

Short Story #326: Deserve

Mochtar tak mempercayai penglihatannya. Lidahnya seakan membeku, kelu. Meski begitu dadanya berdegup kencang. Ia seakan-akan kembali ke peristiwa dua tahun yang lalu. Di tempat yang sama, meski di kota yang berbeda.

Perlahan, ia coba untuk tak mengindahkan perasaannya. Coba ia acuhkan. Tapi…

“Mas Mochtar, kamu sekarang tugas di sini?” suara lembut wanita menyapa dari sudut terjauh matanya.

Mochtar berlagak kaget. Ia menyetel mimik mukanya agar terlihat heran sambil memalingkan muka ke arah suara.

“Eh, Mala.” ucapnya pelan. Sesuatu yang kemudian ia sadari salah. “Iya, aku tugas di sini. Coincidence banget ya bisa ketemu di sini.”

Mochtar mendekati Mala, tapi ia tak duduk dan hanya berdiri di depannya. Sedikit canggung, Mala pun kemudian berdiri.

“Apa kabarmu, Mas?”

“Baik, kamu sendiri?”

“Seperti bisa kamu lihat.” Mala menjawab cepat. Lalu tersenyum. Dan Mochtar pun kembali terkenang nostalgia.

“Mau ke mana lagi dari sini?”

“Maluku.”

“Ga pulang?”

“Nanti, setelah tiga tempat lagi dari Maluku.”

“Ceritanya, kamu perjalanan dari timur ke barat?”

“Ya.. begitulah.” Mala menjawab dengan mimik ramah.

Lalu hening. Mochtar berpura-pura melihat boarding pass-nya yang sudah ia pegang sejak dari loket check-in tadi.

“Pesawatmu ke mana?”

“Makassar.” jawab Mochtar datar.

“Lanjut tugas atau pulang?”

“Aku pulang. Istirahat dulu. Mumpung dikasih off.” Mochtar memberitahu.

“Kapan-kapan kita ngopi lah ya. Catching things.” Mala menawarkan.

“Ya.. boleh.” Mochtar menjawab agak ragu. “Tapi lebih baik ga usah, sih.”

Raut muka Mala berubah. Mochtar pun menyadari dan buru-buru coba memperbaiki.

“Eh, bukan karena aku ga mau ngobrol ya.”

“Kamu udah berkeluarga?” Mala penasaran.

“Maunya, sih.” Mochtar cepat menjawab. “Tapi.. aku cuma ga mau keingetan lagi hal-hal lama.”

“Maksudmu? Don’t we have good memories?”

Mochtar menarik napas sekejap.

“Aku takut keingetan lagi rasa sakit pas kamu memutuskan untuk pergi.” Mochtar memberitahu.

Mala terdiam. Mukanya menyiratkan penyesalan.

“I left because you deserve better, Mas.” Mala memberitahu.

“I don’t. I just need you, then I’ll be better.” Mochtar memberitahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: