Browse By

Short Story #320: Kedua

“We’re done.” Rena memberi kalimat singkat yang menyimpulkan percakapan panjangnya dengan Vincent sedari tadi.

“Tidak menurutku.”

“Aku ga peduli.” Rena menghela napas, memalingkan mukanya dari arah Vincent, lalu diam.

Vincent gantian menghela napas.

“Okay, then.” Vincent akhirnya berkata sambil siap membereskan tasnya yang sedari tadi sudah jatuh di kakinya, lalu berdiri.

“Kamu mau ke mana?”

“I’m leaving. Buat apa lagi aku di sini?” Vincent memberi alasan.

“Udah? Gitu aja? Ga berusaha supaya kita baikan lagi?” nada suara Rena mulai meninggi, duduknya mulai tegak di sofanya.

Vincent ingin sekali untuk langsung menjawab dengan meninggikan suaranya juga. Tapi…

“Iya. Gitu aja.” Vincent memberitahu. “Udah dulu, ya.”

“Tunggu…” Rena menahan tangan Vincent yang sudah hendak beranjak ke pintu. Nada suaranya mendadak melemah.

Vincent diam. Menunggu.

“Kali ini serius?”

“Why not?” Vincent menjawab tanpa menoleh.

“Tapi…”

“Aku lelah harus jadi yang memohon sama kamu untuk ngasih kesempatan lagi, lagi, dan lagi.”

“Tapi aku senang kamu berjuang seperti itu. Untuk aku. Untuk kita.”

“Tapi kali ini aku sudah lelah.” Vincent memberitahu. “Terutama karena, kamu berubah sejak terakhir kalinya kita ribut panjang begini.”

“Aku ga ngerti.”

“Aku juga ga ngerti. Tapi ya itu yang aku rasain. Kamu juga pasti ngerasain kalo aku jadi beda.”

Hening. Kedua manusia yang sudah berhubungan dekat beberapa tahun dan juga kenal sejak remaja tersebut tak saling berucap. Hanya tangan yang saling bertemu.

“Bisa kasih aku kesempatan kedua?” suara Rena bergetar.

Vincent menghela napas lagi. Ia ingin sekali menjawab iya, tapi…

“Setiap kali aku memohon sama kamu untuk baikan lagi, di setiap saat itu juga aku ngasih kamu kesempatan kedua.”

“Tapi kali ini aku yang memohon.”

“Aku tahu. Tapi aku ga bisa.” Vincent memberitahu. Pegangan tangan Rena ia rasakan mulai melemah. Perlahan ia mulai bergerak menuju pintu.

“Vincent…”

Vincent berhenti sejenak di balik pintu yang terbuka, melihat ke arah perempuan yang pernah menjadi tujuan hidupnya. Tujuan kebahagiaannya.

“Aku ga bisa lagi ngasih kamu kesempatan yang sama karena aku takut kamu bakal ngelakuin hal yang sama lagi, dan lagi. Kamu bisa ngasih jaminan kalo ga bakal ngelakuin yang sama lagi? Mastiin kalo kali ini bakal beda? Bakal lebih baik?”

“Aku…”

Vincent menunggu. Berharap. Tapi tak ada kalimat lain yang terucap oleh Rena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: