Browse By

Short Story #315: Nothing

Sarah menutup teleponnya dengan kesal. Sudah kesekian kalinya ia coba menelepon Joyce tapi tak ada sambutan melainkan berujung dengan kotak pesan.

“Masih belum diangkat juga?” Vero bertanya sambil menyesap teh hangatnya.

“Belom.” Sarah menjawab dengan sedikit kesal.

“Apa mau dicari keluar?”

“Dicari ke mana? Ntar kita ke sana, dia pulang nemuin kita ga ada, dan bakal lebih bingung.”

“Well.. Mungkin bisa…”

“Udahlah. Pilihannya cuma dia lapor ada di mana, atau ya kita tunggu dia di rumah.” Sarah menyudahi sambil kemudian melempar pandangannya ke jendela apartemen.

Vero tak menjawab lagi.

“She’s grown up.” Vero berkomentar terhadap helaan napas Sarah.

“Justru karena dia udah dewasa.” Sarah merespon. “Dia seharusnya tau dan bisa bertanggungjawab.”

“Seperti?”

“Kasitau lagi di mana kalo udah lewat jamnya biasanya dia pulang.” Sarah memberitahu. “Udah dari siang dia ga ada kabar gini. Aku kan bingung.”

“Mungkin sudah seharusnya dia belajar bertanggungjawab dengan cara begini; sesuatu yang tak perlu kau tanggung juga.”

“But I’ve promised that nothing’s gonna happen to her. It means, she’s my responsibility.”

Vero diam sejenak. Membiarkan Sarah dalam kegundahannya.

“Kalo kamu bilang seperti itu, justru ga bakal ada apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Emangnya kamu mau dia jadi orang yang ga tau apa-apa karena ga pernah ngalamin apa-apa?” Vero berkomentar.

“Aku…” Sarah seakan kehabisan kata-kata. “Aku hanya ingin dia punya hidup yang lebih baik daripada aku.”

“Karena dia lebih baik dari kamu?”

“Bukan..” Sarah menjawab. “Karena aku ga lebih baik daripada dia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: