Browse By

Short Story #314: Salah

TOK-TOK! Michelle yang tengah sibuk menyiapkan makanan di dapur kecil apartemennya, segera menghampiri pintu. Dari lubang intip, ia melihat Norah yang tengah berdiri dengan sebuah ransel setengah penuh.

“Boleh aku masuk? Aku ga bisa pulang.” Norah memberitahu ketika Michelle setengah membuka pintunya dan memperlihatkan mukanya.

“Yuk, sekalian temenin aku makan.” Michelle mempersilakan Norah masuk lalu langsung menuju ke dapurnya. “Jangan lupa pintunya dikunci, ya.”

Norah menurut. Ia menutup dan mengunci pintu sambil kemudian meletakkan ranselnya di dekat pintu lalu menyusul Michelle ke dapur.

“Jangan menolak.” Michelle memberitahu sambil meletakkan piring dan kemudian makanan yang baru ia masak. “Aku tahu kamu pasti lapar.”

Norah lagi-lagi menurut. Ia duduk menunggu sambil kemudian mengambil sebuah sendok dari tempat sendok terdekat.

“Your Dad?”

“Nope. Mamahku.” Norah menjawab sambil kemudian menyantap makanan.

“Karena cowok?” Michelle bertanya lagi sambil makan.

“Soal masa depan.”

“Fiuhh…” Michelle menghembuskan napas.

“Ga seberat itu. Hanya pilihan setelah lulus nanti.” Norah memberitahu. Makanannya telah habis. “Apa aku boleh nginep di sini dulu, untuk sementara?”

“Well…”

“Kalo ga boleh juga gapapa. Paling aku sekalian aja keluar kota, ke nenekku.” Norah langsung memotong lagi.

“Don’t.” Michelle langsung menjawab. “Take your time. Tenangkan dirimu, jernihkan pikiranmu.”

“Thanks.” Norah menjawab. “Semoga ga ngaruh ke cara aku ngomong.”

“Are you kidding?” Michelle merespon. “Kamu normal aja udah banyak yang ngira kamu wanita dewasa. Apalagi kalo mendadak pembawaannya kaya’ emosian? Bisa cocok banget malah sama mayoritas pendengar radio kita.”

“Hahaha..” Norah tertawa pelan sambil kemudian mendengus.

“Anyway… Aku punya komentar sedikit. Boleh?” Michelle memberitahu sementara Norah hanya menatap. “I’m not you. Aku juga ga tau apa yang kamu hadapin persisnya. Tapi aku pernah ada di posisi seperti kamu. I mean, cekcok sama ortuku karena pilihan kami beda.”

“Tapi kamu keliatannya baik-baik aja.”

“Exactly. Keliatannya, kan?” Michelle langsung menjawab. “Bisa begini karena ya, kita berdamai. Kita kemudian saling belajar dan ngertiin maksud dan maunya masing-masing. Susah memang, tapi tetap harus dilakukan.”

“Tapi setiap anak boleh dong punya cita-cita maunya gimana dengan hidupnya, apalagi udah remaja dan mau dewasa. Masa’ gitu aja salah?”

“Just because your Mum is wrong about something you like, doesn’t mean she’s wrong about everything.” Michelle memberitahu. “Dan itu harusnya ga jadi alasan kenapa kamu ga pulang.”

2 thoughts on “Short Story #314: Salah”

  1. Rere @atemalem says:

    Ini kok mirip banget sama cerita adekku, dia pernah kabur dari rumah semingguan karena ga sepaham sama nyokap

    tapi balik sih, pas ditanya alasannya, karena laper.
    di rumah temennya ga enak sepertinya mau makan banyak-banyak. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: