Browse By

Short Story #312: Ga Perfect

Jenny tergopoh-gopoh menaiki tangga gedung apartemen Rena.

Hanya 3 lantai, ucapnya dalam hati. Lebih cepat daripada menunggu lift, tambahnya lagi.

Ada alasan kenapa ia begitu terburu-buru meski baru 30 menit yang lalu ia sedang siap-siap berangkat ke kantornya. Ia membaca update di facebook dari Rena.

Just ended the relationship. Begitu tertulisnya.

Tak mau mengulangi seperti kejadian terakhir yang melibatkan ambulans dan UGD, Jenny pun langsung menyuruh taksi pesanannya ke alamat Rena, bukan kantornya.

“RENA! BUKA PINTU!” Jenny menggedor-gedor. “RENAAA!!”

Klik! Bunyi kunci pintu dibuka pelan. Tak terdengar isakan atau kesedihan apapun. Suara panik yang ia duga akan terdengar pun justru terdengar dari dirinya. Tapi…

“Are you OKAY?!” Jenny menyerbu masuk ke dalam apartemen Rena dengan rambut awut-awutan.

“Kenapa gue harus ga oke?” Rena menjawab. Kalem.

“Sini! Liat tangan lo!” Jenny menarik kedua tangan Rena dan mengecek pergelangannya. Hanya ada bekas luka di salah satunya, yang lainnya mulus. Tapi keduanya dingin.

“Jangan parno, itu dingin karena gue tidur ga pake selimut semaleman.”

“Hhh…” Jenny melepas tangan Rena setengah mendorong. “Entah gue harus sebel tapi lega, atau nyesel tapi khawatir…”

“Keep calm. I’m still alive.” Rena menjawab sambil melempar dirinya ke sofa, lalu rebah.

Jenny menutup pintu, lalu duduk di salah satu kursi dekat sofa.

“Beneran, tapi ‘kan?”

“Beneran, kok. Tapi gue ga se-desperate dulu. Gue sepenuhnya sadar kalo dulu itu BODOH banget.”

“Baguslah. Kalo gitu-”

“-Tapi… apa sih yang kurang dari gue?” Rena mendadak menangis sambil menutupi mukanya dengan bantal sofa.

Jenny mendekat. “Cowok masih banyak, Ren.”

“Tapi gue pengen dia. Ga mau yang lain.” Rena menjawab. “Dia tuh baik, cakep, suka olahraga, taat ibadah, sopan santun, fokus, dan punya tujuan yang jelas di hidupnya. Paling penting, dia bisa ngehargain cewek!”

“Pasti ada kok cowok yang lain kaya’ dia, Ren.”

“Gue cuma mau dia, Jen. He’s perfect!”

Jenny tak menjawab. Dia membiarkan Rena larut dalam tangisannya. Tapi, hanya untuk beberapa menit karena Rena mendadak duduk tegak.

“Dia ga perfect! Dia ada satu kekurangan!” Rena berteriak. Kesal.

“Good, Ren. Liat kekurangannya, mungkin itu bisa bantu move on.” Jenny sedikit kaget sambil bersyukur.

Rena menatap Jenny tampak tak percaya, sementara Jenny terlihat bingung.

“Kurangnya cuma satu, Jen.. Dia kurang suka sama gue…” lanjut Rena dengan menangis lagi.

2 thoughts on “Short Story #312: Ga Perfect”

  1. Rere @atemalem says:

    *nangis di sebelah Rena. :((

    1. Billy Koesoemadinata says:

      bakal lebih nangis kalo misal ternyata cowoknya ga suka cewek. *eh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: