Browse By

Short Story #309: Settle

“Hei, ke sini juga?” Kimmy menyapa Leo yang sedang mendaftar di sebuah konferensi keilmuan yang diadakan oleh tempat kerja Kimmy.

“Lho Kim, kamu yang bikin acara ini?” Leo menjawab sambil mengisi data diri.

“Kantorku yang bikin. Aku cuma bantu-bantu aja.” Kimmy memberitahu.

“Wah, aku baru tahu juga kamu kerja di sini.” Leo berkomentar sambil menyelesaikan isian data dirinya sebagai peserta.

“Ya begitulah, Alhamdulillah.” Kimmy menjawab. “Eh, sini aku temenin ke dalam ruangan. Ga ada yang marah, ‘kan kalo kamu jalan bedua sama cewek cakep?”

“Hahaha.. ya enggak lah. Aku ga seberuntung itu ada yang cemburuin.”

“Ya.. kali aja, ‘kan..”

“Oke.. Bolehlah.. boleh usahamu.” Leo memberitahu. “Sekalian catch up few things kali ya..”

“Ah.. bisa aja.” Kimmy mulai berjalan di samping Leo, salah satu teman kuliahnya di sastra dulu yang berbeda angkatan. Salah satu teman kuliahnya juga yang dulu pernah ia kagumi di kampus.

“Udah lama kerja di kantor ini?”

“Ini tahun kelima.”

“Jadi editor?”

“Ga juga, aku lebih ke pemasaran.” Kimmy menjawab sambil terus berjalan di samping Leo. “Kamu sendiri, gimana? Masih nulis?”

“Ya.. Alhamdulillah, masih.” Leo menjawab sambil membetulkan letak tas punggungnya yang ia sangga sebelah.

“Udah berapa judul?”

“Yang diterbitin jadi buku masih sedikit, baru empat judul. Tau sendiri kalo nulis yang agak berat kosakatanya ya peminatnya juga sedikit, belum lagi prosesnya juga sulit.”

“Iya sih emang, tapi kan itu yang bikin kamu menarik.”

“Maksudnya?”

“Eh… um.. maksudku tulisannya menarik.” Kimmy meralat ucapannya sambil dalam hati menyesali kenapa mulutnya terlalu cepat berkata, atau jangan-jangan itu yang ada di dalam hatinya.

“Ya.. begitulah.”

“Diterjemahin juga ke bahasa lain, ‘kan?” Kimmy bertanya karena ia mendadak teringat sesuatu sambil berusaha agar Leo tak memperhatikan ucapannya sebelumnya.

“Iya, betul.”

“Udah jadi penulis kaliber berat, dong. Trus, jadi sering ngisi acara kaya’ gini di mana-mana?”

“Ya… ke sini, dan ke situ.” Leo menjawab agak grogi. “Tapi sebenernya aku lebih suka kalo jadi peserta aja, kaya’ sekarang.”

“Bukan ga mungkin nanti bakal ada yang ngenalin kamu lho sebagai penulis yang judulnya udah diterjemahin ke bahasa lain.”

“Udah risiko kaya’nya sih.”

Sesekali Kimmy menunjukkan Leo beberapa bagian ruangan yang nantinya akan menjadi sub-sub dari konferensi, sampai kemudian di pintu ruang utama, ia berhenti.

“Well, sepertinya sampai di sini dulu. Aku mau balik lagi ke meja registrasi.”

“Iya, makasih ya Kim.” Leo menjawab.

“By the way, aku penasaran aja sih… Aku mau nanya sesuatu, tapi takut kamu tersinggung.”

“Lho, kenapa? Tanya aja. Hit me.”

Kimmy melihat Leo sejenak sebelum bertanya.

“You seem still go round and round. Looking for someone, or something that never exist.  Are you not settling down? Atau emang itu yang kamu lakukan supaya terus dapetin ide buat tulisan-tulisan kamu?”

Leo tak perlu waktu lama untuk menjawab. “I did settle down. I just haven’t found someone to settle with.”

2 thoughts on “Short Story #309: Settle”

  1. Rere @atemalem says:

    UHUK!
    *level dewa sepiknya. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: