Browse By

Short Story #305: Fair

“Mala, pastiin semua yang di daftar udah kebawa yaaa..” Eka berteriak dari dapur kepada Mala, putri terbesarnya.

“Iya, Maaa…” suara Mala terdengar dari kamarnya di lantai atas.

“Daftar apaan, sih?” Fadli, suaminya Eka bertanya.

“Barang-barang penting: obat-obatan, taser listrik, korek api, dan alat-alat darurat lainnya.” Eka menjawab sambil memotong-motong sayuran untuk dimasak menjadi makan malam.

“Kondom?” Fadli bertanya.

“Jangan main-main, kamu Fad!” sergah Eka sambil mengacungkan pisau dapur ke arah Fadli.

“Wo.. wo… tenang, Sayang. Aku kan cuma becanda.”

“Candaanmu kadang ga di tempatnya.”

“Kekhawatiranmu juga kadang ga di tempatnya.” Fadli segera merespon.

BLAK! Pisau dapur disimpan di atas talenan, dan Eka menarik napas.

“Aku lagi mau masak makan malem, nih. Jangan sampe nanti aku bikin rasanya ga enak khusus buat kamu.”

“Yaudah, sini pisaunya. Aku aja yang masak.”

“You don’t get the point!” Eka menuduh.

“NO! It’s YOU who’s not getting the point!” nada suara Fadli mendadak meninggi. Tapi tak lama ia menarik napas, lalu wajahnya terlihat tenang lagi sementara Eka masih sedikit terkejut.

“Oke, coba cerita gimana maksudmu.” Eka coba bertanya dengan nada lebih tenang meski ia masih kesal dengan Fadli yang terlalu sering bercanda terhadap hal-hal serius.

Fadli tersenyum. Santai. Menyeruput teh sore-nya dulu baru kemudian menatap perempuan yang menjadi pasangan hidupnya sejak belasan tahun yang lalu.

“Aku cuma berusaha ngasih kehidupan yang adil dan berimbang buat anak kita, buat hubungan kita.” Fadli memberitahu. “Being fair, being just.”

“Bersikap khawatir dan preventif ga termasuk adil dan berimbang? Berusaha memastikan dia mengetahui mana yang baik dan ga baik buat dia dan masa depannya, ga termasuk?”

“Buat dia, atau buatmu?”

Eka terdiam.

“Aku ga bakalan bahas lagi yang dulu-dulu, soal siapa atau apa yang terbaik. We’ve been through that.” Fadli memberitahu. “I’m just going to tell you that you need to be fair. If you’re going to give her a lot of restrictions, you should be aware that she’s also needing to know how it feels without it.”

“Maksudmu? Buktinya aku survive-survive aja dengan semua aturan dan segala larangan yang dikasih. Bahkan, jadinya aku ketemu kamu, ‘kan?”

“Mala bukan kamu. Mala bukan anak orangtuamu.” Fadli memberitahu. “Being fair is putting things as it needed to be, as it should be. Not putting things with the equals size or loads.”

Eka terdiam.

“Dan, dengan semua daftarmu itu, Mala juga mungkin butuh sesuatu yang ga ada di daftar itu. Yakni, kepercayaan dan pengalaman.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: