Browse By

Short Story #3: Beloved Husband

“Gimana kalo aku bilang… Kamu jangan pergi?” Dita mengerjapkan
matanya manja sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Gun.

Gun tersenyum kecil. Ia melihat ke arah Dita di samping kanannya,
sambil melingkarkan tangan di bahu Dita. “Kamu tau kan, aku juga
pengennya begitu?”

“Ya…kalo gitu tinggal dilakuin, ‘kan?”

Gun tersenyum lagi. “I wish it’s as simple like that.”

Dita menegakkan badannya. Kerjapan manja matanya menghilang dan
berganti dengan raut cemberut.

“Jangan bikin aku ga tenang pas terbang nanti, dong. Aku kan ga pergi
lama-lama. Bulan depan juga aku balik lagi.” Gun membujuk. Telunjuknya
berusaha mencolek dagu Dita, mengajaknya tersenyum.

“Sebulan itu lama, tau!” seru Dita.

Gun tersenyum. Perasaannya bercampur antara senang, sekaligus bimbang.
Sekian tahun ia mengenal kekasihnya itu, Dita tetap bersikap sama jika
tak mendapatkan yang ia dapatkan. Kekanak-kanakan, tapi Gun
menyukainya.

“Kok senyum doang?!” pertanyaan Dita membuyarkan lamunan Gun.

“Gini deh, kalo sebelum sebulan field job aku udah selesai, aku
langsung balik ke Jakarta. Cuma buat kamu. Tapi, kalo belom kelar, ya
tunggu jadwal sebulan itu.” ucap Gun. Ia menyodorkan kelingking
kanannya. Menawarkan perjanjian.

Meski masih cemberut, tapi raut muka Dita sedikit berubah.

“Oke.” sambut Dita sambil menautkan kelingkingnya dengan kelingking Gun.

Melalui pengeras suara, kemudian terdengar permintaan boarding
penerbangan yang akan dinaiki Gun.

“Got to go, honey. Itu pesawatku.” Gun melepaskan tautan kelingkingnya.

Baru saja Gun hendak berdiri ketika tiba-tiba Dita memeluknya. Erat.

“I wish you never have to go..” bisik Dita.

“I’ll be back. It’s a promise.” jawab Gun.

“I wish…, you’re my beloved husband.”

Kali ini Gun tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan membelai punggung
Dita dengan lembut.

Gun perlahan berdiri. Melepaskan pelukan Dita. Mengangkat tasnya dan
juga menggamit jaketnya.

Sambil berjalan ke tempat check in pesawat, Gun menoleh kembali ke
arah Dita dan melambaikan tangan. Sontak, Dita balas melambai, walau
dengan raut sedih.

Gun kembali berjalan ke tempat check in. Sambil mengantri, ia
mengeluarkan sebuah cincin emas tak bermata, namun memiliki ukiran
khas dari saku celananya. Sebelum kemudian terpasang di jari manis
Gun, sekilas terlihat tulisan “Beloved Husband of Rita”.

4 thoughts on “Short Story #3: Beloved Husband”

  1. koole says:

    jadi, intinya lo udah merit trus slingkuh bil??

  2. Billy Koesoemadinata says:

    @koole bukan! ini cerita fiksi tau…

  3. koole says:

    hhmmmm tapi tampak begitu nyata.. —-Scanned by Sophos Anti-Virus Mac Home Editionhttp://www.sophos.com/

  4. Billy Koesoemadinata says:

    @koole hahaha.. jangan2 ini pernah kejadian sama dirimu? 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: