Browse By

Short Story #295: Mas

“Stop ikutin aku, dan berhenti manggil aku, ‘Mas’, ya.” Teguh meminta baik-baik sambil memegang pundak Adinda, yang sudah beberapa hari terakhir selalu menjumpainya ketika ia tiba di kampus, lalu berdekat-dekatan dengannya di sela-sela jam kuliah.

“Itu ‘kan sebutan hormat.” Adinda memberitahu sambil masih mengikuti Teguh yang sedang mengecek jadwal kuliah di depan kantor administrasi.

“Tapi kan kita sepantaran.” Teguh buru-buru melepas pegangan tangan Adinda yang sedang coba merangkul lengannya.

“Tapi aku suka manggil kamu dengan sebutan itu, Mas.”

“Tuh, kan.” Teguh berhenti berjalan. Terganggu. Ia sedikit memicingkan mata kepada Adinda seperti biasanya, seolah-olah hendak marah, tapi Adinda tak terganggu.

Teguh coba berjalan lagi, Adinda kembali mengikuti.

“Kamu ga ada kuliah, ya?”

“Ga ada, Mas. Hari ini jadwalku kosong.”

“Tapi jadwalku penuh.” Teguh coba berlari, menghindari Adinda. Tapi lagi-lagi, Adinda berhasil mengejarnya.

Terengah-engah, Teguh kembali berjalan. Kali ini pelan. Adinda berada di sampingnya. Menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa sih kamu ga bisa berhenti ngikutin aku dan ga bisa berhenti juga manggil aku dengan panggilan, ‘Mas’?” Teguh berhenti. Maksudnya hendak mengambil napas, tapi…

“Karena kamu mas-sa depanku.” Adinda menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: