Browse By

Short Story #29: Gempa Lokal

“Ga ke kampus, Put?” tanya Rama yang baru masuk ke dalam kedai kopi sambil memegang tasnya.

Putri yang tengah membaca buku di sofa favoritnya, menoleh sekilas pada Rama sebelum kembali ke bukunya.

“Nanti siangan. Lah loe juga ga ke kampus?” ucap Putri datar.

“Nanti siangan juga. Gue lagi males kuliah pagi ini.” jawab Rama sambil kemudian duduk di kursi depan Putri, tanpa sekalipun Putri perhatikan.

Seorang pelayan datang menghampiri Rama, ia memberikan segelas kopi pesanan Rama sebelum menghampiri Putri. Setelah mengucapkan terima kasih, pelayan tersebut pun pergi.

Baru saja Rama hendak meminum kopinya, seseorang di balik meja kasir berteriak, “GEMPA!”

Sontak, setiap pengunjung yang jumlahnya masih sedikit di kedai kopi pagi itu langsung menoleh ke meja kasir dan langsung bergerak mencari jalan keluar. Begitupun Rama yang langsung menyimpan gelas kopinya, sementara Putri menurunkan bukunya dan melihat ke arah Rama.

“Beneran ini gempa?” tanya Putri sambil duduk tegak. Bersiaga untuk segera lari.

“Sepertinya gitu!” jawab Rama sambil langsung berdiri.

Entah reflek atau bukan, Rama langsung meraih tangan Putri, menggenggamnya sambil langsung menarik ke arah pintu keluar terdekat. Serupa dengan mereka, terdapat pengunjung dan pelayan kedai yang sama-sama hendak keluar. Walau bergerak cepat, namun mereka masih tertib dan tak saling berebut.

Sambil mengikuti tarikan Rama, Putri diam. Ia melihat sekilas pada tangannya yang digenggam Rama. Hatinya tiba-tiba terasa berdesir.

Lalu, tiba-tiba saja rombongan orang-orang yang tengah menuju pintu keluar pun terhenti. Rama dan Putri yang berada di tengah-tengah antrian pun ikut berhenti.

“Gempanya udah berenti?” tanya Putri. Tangannya masih digenggam oleh Rama.

Rama diam. Ia menoleh ke arah Putri tapi tak menjawab pertanyaannya.

“Udah berenti belom, sih? Koq ini pada stuck gini yang mau keluar?” tanya Putri lagi.

Rama membalikkan badannya ke arah Putri.

“Gempa lokal nih. Masih ada kaya’nya, getarannya kenceng gini. Loe ga berasa?” tanya Rama.

Dahi Putri mengernyit.

“Getarannya gempanya asalnya dari sini, dari hati gue.” Rama menempatkan tangan Putri yang ia genggam ke dadanya.

Mata Putri terbelalak. Saking terkejutnya, ia tak menyadari jika orang-orang di sekelilingnya, yang semula sama-sama sedang menuju keluar kedai, sedang menatapnya.

“Maksud loe?”

“Iya, gempanya gara-gara getaran hati gue. Loe mau kan jadian sama gue?” tanya Rama.

Putri shock. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi. Dan, sambil memikirkan jawaban pertanyaan Rama, ia sedikit melihat ke sekelilingnya. Memperhatikan orang-orang yang sama-sama ada di kedai. Dan, ia mengenali semuanya.

“Ini taktik gue buat dapetin perhatian loe, dan berhasil, ‘kan?” ujar Rama sambil tersenyum. “Jadi, loe mau ga ngejinakin getaran dari hati yang bikin gempa ini?”

Putri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kemudian tersenyum. Ia langsung memeluk Rama yang disambut dengan gemuruh orang-orang di kedai kopi.

5 thoughts on “Short Story #29: Gempa Lokal”

  1. niQue says:

    Jayuuuuuuusssssssssshhahahahhamaap ga tahan ga ketawaabis engga banget sih nyautnya

  2. ernit says:

    billy gombal beut ihhhh*ngikikdiem2* :p

  3. putri says:

    AAAhhhh….Ceritanya bagus. Tapi maap kalo saya malah ngerasa geli dan pengen ketawa.. :DBetewe mana sih Rama? tolong bilangin dong, Putri nya nungguin gitu.. 😀 Bagus mas Bill ! XD

  4. Billy Koesoemadinata says:

    @nique :))@ernit ya.. gitu deeehh…@putri hmm.. coba ntar saya cari di bawah meja.. *eh*

  5. asmulti says:

    hahaha ada2 aja ini cerita. untung ya, ga jadi gempa beneran *jadi ngayal deh berharap ada yg kaya gitu sama aku, surprise banget hahaha*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: