Browse By

Short Story #287: Kebanyakan

“Terlalu memang…” Ben menendang-nendang pelan kerikil di dekat kakinya.

“Ikhlasin, Ben.” Aura berkomentar. Pipinya masih basah oleh air mata.

“Tapi ini keterlaluan, sih..” Ben melanjutkan sambil berjongkok. Ia terlihat geram.

“Yang penting dia udah di tempat yang lebih baik.”

“Mudah-mudahan.” Ben berharap.

“Mudah-mudahan juga Polisi bisa nemuin siapa yang jadi penyebabnya.” Ferdi yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara. Ia membetulkan posisi kacamata hitamnya sambil tetap berdiri dan menjaga jarak.

“..Dan harus dihukum paling berat.” Ben kembali berkomentar.

“Biar hukum yang nentuin, Ben.” Aura coba menengahi.

“Heran banget.. Padahal setau aku dia ga pernah punya masalah sama orang banyak. Sekalipun ada, cepet-cepetan dikelarin.” Ben berkata. “Tipikal orang yang cocokĀ buat jadi temen… dari semua orang.”

“Cocok buat jadi temen, bukan berarti ga ada yang ga suka, sih.” Ferdi memberitahu.

“Yeah.. sejuta temen ga pernah cukup, seorang musuh udah kebanyakan.” Aura bereaksi.

Ben berdiri. Diikuti Aura, ia meninggalkan gundukan tanah yang masih memerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: