Browse By

Short Story #271: Mantan

“Go away!” Julia berteriak kasar dari dalam apartemennya.

“Kasih aku beberapa menit aja, Jul…” Anto menjawab dengan nada mengiba dari luar pintu.

“Buat apa? Bukannya semua udah jelas?” Julia berteriak lagi sambil menyandarkan kepalanya ke pintu. Kesal. Sedih. Campur aduk.

“Buatku engga.” Anto menjawab.

Julia menarik napas. Ia malas untuk merespon, tapi ia lebih malas lagi jika harus berhadapan kembali dengan Anto di lain hari. Lagi.

CEKLEK! Bunyi kunci pintu terbuka. Julia membuka pintu apartemennya sebatas jarak rantai.

“Kita bisa bicara di dalem aja ga?” Anto meminta.

“Beberapa menit kamu dimulai sejak aku buka pintu ini.”

Anto menarik napas. “Kenapa sih kita ga bisa temenan lagi? Seperti sebelumnya?”

Julia tak menjawab.

“Kenapa kita ga bisa jalan bareng lagi sebagai teman?”

Julia lagi-lagi tak menjawab.

Anto mulai kehabisan akal. Ia mencoba untuk mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi…

“I miss you.” Anto memberitahu.

“Waktu kamu habis. Jangan pernah balik sini lagi, atau aku lapor Polisi.”

Anto terlihat menarik napas dengan berat sebelum Julia menutup pintu dan menguncinya. Pelan-pelan, Julia membalikkan badannya, lalu duduk bersandar di balik pintu. Sebal. Sedih. Ia masih sayang pada Anto, tapi…

SRET! Secarik kertas bergeser masuk melalui bawah pintu dan langsung ke sebelah Julia. Samar-samar, ia membaca tulisan yang tertera tanpa mengambilnya.

‘Saat 2 sahabat menjadi kekasih, itu ketulusan. Saat 2 mantan kekasih menjadi sahabat, itu kedewasaan.’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: