Browse By

Short Story #267: Hal Lain

“Kamu masih inget, ga warna kesukaan aku apa?” Wanda bertanya manja pada Sakti yang tengah menonton TV di sebelahnya.

“Kuning.” Sakti menjawab sambil mengunyah berondong jagung.

“Salah… aku suka warna merah, tau.” Wanda merespon.

“Oh.. iya ya? Aku ingetnya kamu suka kuning.”

“Ih..aku suka warna merah kan soalnya warnanya mentereng gitu. Masa gitu aja ga inget?”

“Iya, sorry. Aku lupa.” Sakti memberitahu.

“Sekarang coba lagi, makanan kesukaan aku apa?” Wanda bertanya lagi. Kali ini tanpa nada manja.

Sakti diam sejenak sambil masih melihat TV dan mengunyah berondong jagung.

“Nasi padang?” Sakti menebak.

“Salah!”

“Sate padang?”

“Salah!”

“Lontong sayur padang?”

“SALAH!” Wanda akhirnya berteriak. “Kamu kok jadi nebak-nebak gitu, sih?”

“Ya aku ingetnya ada kata-kata ‘Padang’-nya. Tapi lupa persis apaan makanannya.” Sakti berkelit.

“Hiiihh!” Wanda berdiri dari sofa, lalu menuju dapur kecil di dalam apartemen yang berada persis di belakang sofa mereka.

Sakti sadar jika ia salah, lalu ia matikan TV menyimpan berondong jagungnya dan menuju dapur. Menuju Wanda. Lalu memeluknya dari belakang karena Wanda tak mau melihat wajahnya.

“Udah.. jangan marah, dong.” Sakti memohon.

“Gimana ga marah kalo orang yang katanya care banget sama aku ga inget sama sekali soal apa aja kesukaan aku?” Wanda mengomel.

“Ssshh… Aku ga inget kesukaan kamu bukan berarti aku ga sayang atau ga care lho…” Sakti memberitahu.

“Ah, ngeles aja.” Wanda merespon sambil coba melepas pelukan Sakti, tapi gagal.

“Aku ga ngeles. Aku ga inget beberapa hal yang kebetulan kesukaan-kesukaan kamu karena ya aku ingetnya yang lain.” Sakti memberitahu dengan sedikit berbisik.

“APA?! Wanita lain?!” Wanda merespon setelah mendengar kata ‘yang lain’. Dan akhirnya ia berhasil melepaskan pelukan Sakti.

Sakti diam sejenak. Ia berusaha memeluk Wanda lagi, tapi gagal. Sementara itu muka Wanda menegang. Kesal. Sebal. Amarah terkumpul.

“Bukan wanita lain.. Aku sibuk mikirin dan keingetan hal lain yang bukan kesukaan kamu.” Sakti menjelaskan. “Aku mikirin dan nginget-nginget gimana caranya supaya kamu ga kekurangan, dan semua keinginan kamu bisa aku penuhin.”

“I-itu….” Wanda kehabisan kata-kata.

One thought on “Short Story #267: Hal Lain”

  1. wahyu asyari muntoha says:

    endingnya wanda berbunga-bunga.. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: