Browse By

Short Story #266: Kita Perlu Bicara

“Kita perlu bicara.” Dea memberitahu Joni saat mereka sudah setengah perjalanan pulang.

“Dari tadi memangnya kita ga bicara?” Joni menjawab sambil terus mengemudi kendaraan.

“Bicara yang serius, Jon.”

Joni diam. Ia menghela napas sambil terus mengemudi dengan berhati-hati. Dalam hatinya ia tahu, untuk lebih baik menunggu saja jika Dea sudah mengatakan apapun yang serius.

“Kok diem aja?” Dea bertanya.

“Lah ya aku nunggu kamu mau bicara yang seriusnya apa?”

“Hhh… at least respon kek, jadinya aku tau kapan aku harus ngomong.”

“Kamu mau ngomong kapanpun juga aku ga pernah ngelarang, ‘kan.” Joni memberitahu. “Udah, balik lagi ke inti. Apa hal serius yang mau kamu bicarain sampe ga bisa nunggu di rumah?”

Dea mengubah posisi duduknya sehingga agak bersandar ke pintu mobil dan menghadap Joni.

“Aku pengen jalan-jalan-“

“Oke, sebut tanggalnya. Nanti aku ambil cuti.” Joni langsung merespon.

“Biarkan aku ngelarin kalimat aku dulu, Jon.” Dea bereaksi. “Aku pengen jalan-jalan sendiri. Ga sama kamu.”

Joni diam. Menunggu.

“Ga ada respon?”
“Aku bingung mau respon apa.” Joni menjawab setelah beberapa menit. Pandangannya masih ke jalanan.

“Ya ngebolehin atau engga? Sama alesannya.”

“Hmm..” Joni bergumam. Sambil masih menyetir ia berpikir dan sesekali melihat ke arah Dea yang masih juga menatapnya. Menunggu.

“Please let me know immediately.”

“Kenapa buru-buru? Emangnya kamu udah pesen tiket pesawat dan akomodasi?” Joni bertanya sambil menoleh ke arah Dea karena sedang berada di lampu merah.

“Udah.” jawab Dea segera.

“Oh.”

Lalu hening. Dea membuang mukanya ke luar jendela mobil. Joni masih coba memandangi Dea dari belakang kepalanya.

“Ya kalo gitu sih, hati-hati di jalan, ya. Kamu udah tau aku expect apa aja kalo kamu jalan jauh ga sama aku, baik itu sama temen kantor, temen segeng, dan lain-lain.”

“Tapi boleh, ga?”

“Buat apa kamu tau lagi boleh apa engga kalo segala macemnya udah kamu siapin tanpa ijin aku dulu?” nada suara Joni meninggi. Tak lama ia menarik napas dalam-dalam coba menenangkan dirinya.

“Kenapa kamu ngomong gitu?” Dea bertanya.

“Karena aku tadinya udah mikirin gimana supaya keinginan kamu tercapai, tapi ya… aku jadi tau kalo percuma aja secara kamu kayanya ga mau aku pikirin.”

“Aku cuma coba mempermudah, Jon. Biar semua udah cepet siap. Cepet berangkat. Cepet pulang, ‘kan?”

“Ya. Aku tau. Semoga perjalanan kamu menyenangkan.” Joni menutup komentarnya sambil membelokkan kendaraannya ke dalam komplek rumah mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: