Browse By

Short Story #258: Nobody

“Ga pernah terlintas sedikitpun di pikiranku dulu, kalo aku bakal seperti ini sekarang.” Joko bergumam sambil merapikan setelan yang sudah ia kenakan sejak beberapa jam yang lalu.

“Emang yang sering terlintas di pikiranmu, apa tho Mas?” Ana bertanya sambil melihat suaminya dari pantulan cermin tempatnya berias.

“Ya bukan ini.” Joko menjawab. Singkat.

“Yang bukan ini tuh, apa coba.” Ana merespon lagi. Sedikit usil. “Mosok ga ada penjelasannya.”

Joko tersenyum. Ia selalu menyukai respon Ana yang seperti itu. Respon yang membuatnya tertarik untuk menikahi wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Yang sering terlintas dalam pikiranku ya aku ga bakal jadi siapa-siapa. I’m not somebody. I’m just a nobody.” Joko memberitahu.

Ana berhenti sejenak dari kegiatan meriasnya, kemudian berbalik menatap lelakinya.

“Nobody?”

“Iya.”

Ana tersenyum. Lalu berdiri dan mendekati Joko yang sedang berdiri menatapnya.

“Mas, aku pernah baca di mana gitu soal nobody ini.” Ana mulai menjelaskan. “Nobody can unite people. Nobody can give bright lights for all of the people. Nobody can ensure that tomorrow will be better.”

Joko terdiam. Coba meresapi kata-katanya.

“Dan, from nobody will be somebody. Somebody that will be important, to make sure what nobody could do will be done.” Ana menambahkan.

Joko diam. Ada semacam getaran di dadanya yang tak bisa ia jelaskan. Yang ia tahu, ia harus menjadi somebody.

“Aku baru ingat ada yang lebih sering terlintas di pikiranku selain soal nobody itu.” Joko memberitahu setelah beberapa saat ia dan Ana hanya saling menatap.

“Opo?”

“Ya kamu, lah.”

Ana tersenyum kecil. “Ah Mas ini bisa aja. Wis tho, udah ditungguin banyak orang ini.”

 

NB: Kesamaan nama dan alur, adalah rekaan semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: