Browse By

Short Story #25: Tawaran

“Mau duduk?” tawar seorang gadis pada Tono yang berdiri di dekatnya.

Tono tak langsung mengiyakan, ia sejenak mengamati gadis tersebut.
Manis, simpul hatinya.

“Emang mau turun di halte berikutnya?” Tono bergerak mendekat sambil
masih berdiri.

“Ga juga sih. Masih ada 3 halte lagi. Tapi kaya’nya kamu perlu duduk.
Muka kamu pucet gitu.. Lagi sakit, ya?” ungkap si gadis.

Tono terhenyak. Ia baru menyadari ada juga penumpang bus transjakarta
yang memperhatikannya. Memang ia akui, biasanya wajahnya berubah
memucat jika semalaman melembur dan kurang tidur.

“Ga sih. Aku cuma baru pulang lembur semaleman aja.” jawab Tono.

“Oh..” si gadis tersenyum simpul. “Tapi mau duduk, ga?”

Tono sedikit terkejut. Ia tak menyangka si gadis tetap menawarinya duduk.

“Kamu aja yang duduk, tapi aku titip bawaan aku. Gimana?”

Si gadis tampak memperhatikan bawaan Tono berupa beberapa tabung
gambar. Iya, Tono bekerja sebagai arsitek di sebuah biro, dan
semalaman ia mati-matian menyelesaikan gambar proyeknya.

“Sini.” si gadis langsung memegang salah satu tabung gambar, dan
bersiap mengambil yang lainnya.

Singkat kata, seluruh tabung gambar sudah berada di pegangan si gadis.
Satu halte terlewati.

“Mau pulang atau ke kantor?” tanya si gadis lagi.

“Pulang. Istirahat bentar. Nanti siang baru balik lagi ke kantor.”
jawab Tono sambil masih berdiri & memegang handle. “Kalo kamu?”

“Aku lagi maen aja. Ga ada tujuan pasti.” jawab si gadis sambil
tersenyum lagi. Diam-diam, Tono memuji senyumannya dalam hati.

“Tadi, katanya mau turun 3 halte lagi? Ga nyambung ke mana lagi gitu?”

Si gadis tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku cuma seneng jalan-jalannya aja. Seru juga liat-liat pemandangan
kota sambil naek bus transjakarta.”

Dan, sekarang giliran Tono yang membuat huruf O pada bibirnya.

“Kuliah?” tanya Tono.

“Engga. Aku kerja. Kantorku di salah satu gedung di Sudirman.”

“Lho? Aku juga di sekitar situ.” jawab Tono segera.

Si gadis hanya menjawab sambil tersenyum.

“Trus, sekarang lagi cuti?”

Si gadis tersenyum lagi. “Aku sebenernya lagi jam kerja sih. Tapi aku
butuh ngelakuin jalan-jalan gini. Biar balance.”

Kening Tono berkerut.

“Kadang, saat kita lagi ngadepin situasi yang sulit, kita perlu
langgar kebiasaan kita dan ngelakuin hal-hal yang kita suka, supaya
pikiran kita jernih lagi buat ngelarin situasi sulit itu.” si gadis
menjelaskan tanpa ditanya.

“Tapi bukannya itu kaya’ melarikan diri gitu?” Tono ikut larut
membahas penjelasan si gadis.

“Melarikan diri apa kalo ujung-ujungnya kita tetep balik lagi? Tapi,
seenggaknya dengan pikiran yang lebih jernih. Daripada tetep dipaksa
diem di tempat tapi pikiran malah tambah ruwet?” jawab si gadis sambil
tersenyum.

“Dan, itu kaya’nya kamu. Semalaman tadi.” si gadis menambahkan segera.
Tono pun terhenyak sambil kemudian tersenyum kecut.

“Mau gimana lagi? Udah tugasku..”

“Salah.” potong si gadis. “Tugasmu sesungguhnya adalah lebih membuka
mata dan telinga.”

Tono kembali mengernyitkan dahinya.

Si gadis pun berdiri sambil menyerahkan tabung-tabung gambar milik
Tono. Halte yang ia tuju sudah dekat.

Sekarang, ia dan Tono berdiri bersampingan sambil berpegangan di handle bus.

“Iya, buka mata dan telinga buat lebih menyadari kalo ada orang yang
peduli sama kamu. Seperti aku.” ujar si gadis.

“Eh?” sekelebat wajah tiba-tiba muncul di benak Tono. Wajah si gadis
yang sebenarnya teman bagian keuangan di kantornya. “Rina?”

“Sampe ketemu besok di kantor ya..” sahut Rina sambil tersenyum. Ia
pun pergi keluar bus dan turun di halte.

One thought on “Short Story #25: Tawaran”

  1. yankur says:

    keren nih ceritanya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: