Browse By

Short Story #248: Berharga

“Kalo udah gini, rasanya kepengen mati aja.” Lukas berceloteh sambil membuang napas. “Udah ga ada harganya lagi kayanya gue jadi orang.”

“Hus!” Rania langsung merespon. “Pamali, tau!”

“Apa sih itu pamali? Gue ga percaya hal begitu itu.” Lukas langsung bereaksi.

“Better you don’t say that. Kalo kejadian ya nanti bisa nyesel seumur hidup.” Rania menjelaskan.

“I won’t. Since if it’s happened, I would be already dead.” Lukas kembali merespon.

“Dibilangin pamali, juga. Masih aja dibahas.”

“Tapi kan…”

Andrew melihat kedua temannya mulai bertengkar sambil samar-samar percakapannya terdengar di sela-sela headphone yang tengah memperdengarkan lagu ke kupingnya.

“Move on lah.” Andrew akhirnya ikut berkomentar.

Lukas melihat ke arah Andrew dengan alis mengangkat. “Lo dengerin?”

“Gimana ga dengerin kalo lo bedua berisik amat. Mau gue setel volume sampe kenceng juga, gue bakal tetep tau.”

“Iya sih, dia kan bisa baca bibir.” Rania menambahkan.

“Trus, gimana bisa move on kalo gue ga ada alesan lagi buat idup?” Lukas kembali mengeluh. Kali ini diikuti dengan menenggak segelas minuman beralkohol yang berada di dekatnya.

“Ya emang lo punya alesan buat ga idup?” Andrew langsung merespon.

“Maksud lo?”

Andrew mendengus. Ia menarik kursinya agar lebih dekat ke Lukas sementara Rania memperhatikan dari seberang meja yang diterpa angin laut malam.

“How to do be dead is easy. You just end your life.” Andrew memberitahu. “But do you really have the reason to do it?”

“Dalam kasus gue, ada. Hidup gue hancur!” Lukas menjawab.

“Kalo lo bilang hidup lo hancur, loe ga bakal punya cukup waktu buat menyadari itu karena lo pasti udah mati saat ini.”

“Maksud lo?”

“Iya, lo kepengen mati karena lo sadar lo masih hidup kan? Masih hidup dalam keseharian yang lo anggap hancur ini?” Andrew kembali bertanya.

Lukas tak menjawab.

“Let me tell you something, once you’re dead, that’s it. The end.” Andrew melanjutkan. “But don’t you wanna have another chance to rebuild your life again? Start over a new and try it to be a better one?”

Lukas kembali tak menjawab. Dalam hatinya ia mulai ragu.

“Nyerah dalam keterpurukan itu gampang. Bisa lo lakuin sekarang juga.” Rania akhirnya menambahkan. “Tapi yang bikin lo jadi manusia yang lebih berharga adalah, apa usaha yang lo lakuin buat lo bangkit dari keterpurukan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: