Browse By

Short Story #247: Broken

TOK! TOK! Pintu apartemen diketuk. Walau Aldo tengah asyik beres-beres, tapi ia tetap segera menuju pintu sebelum terdengar ketukan sebelumnya. Mudah-mudahan itu deliverynya!

“Hai..” Santi menyapa di balik pintu yang terbuka.

“Hei…” Aldo kikuk. Terkejut sekaligus kecewa.

“Kamu beneran udah pulang ternyata.”

“Ya.. begitulah.” Aldo menjawab lagi. Ia masih membuka setengah pintunya sambil menghalangi dengan badannya, menghalangi Santi dan pandangannya ke dalam apartemen.

“Lagi sibuk?”

“Begitulah.”

“Oh.. yaudah. Aku cuman pengen ngecek aja kabar kamu pulang itu.” Santi menjelaskan sambil kemudian mundur dan coba berbalik. Tapi…

“Ga masuk dulu?” Aldo menawarkan. Basa-basi.

“I’m afraid I’ll disturb you.”

“You already did when you knocked the door.” Aldo merespon sambil kemudian membuka pintunya agak lebar lalu memberikan jalan.

Santi maju lagi, tapi ia berhenti di ambang pintu. “Aku sebenernya pengen nanya satu hal doang, sih.”

Aldo tak menjawab. Ia hanya menatap Santi yang balik menatapnya.

Hening. Beberapa menit berlalu, namun bagi Santi rasanya hampir satu jam. Jelas pertanyaan yang hendak ia tanyakan tampaknya begitu berat.

“Pas kamu pergi dulu, sempet mikirin aku ga sih?”

“Sempet, tapi ga selalu.” Aldo cepat menjawab. “Tau sendiri lah di sana kan aku sekolah, dan banyak tugas yang harus dikerjain biar kelarnya on time.”

“Bukan itu.” Santi langsung merespon.

“Trus apa?”

“Aku penasaran aja apa dulu kamu sempet kepikir buat balik badan lagi, meluk aku lagi, ngasih tau bahwa semuanya bakal baik-baik aja, dan kamu pasti pulang.” Santi menjelaskan.

Aldo diam. Ia tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia bingung apakah itu harus ia jawab atau tidak.

“Oke. Aku udah dapet jawabannya.” Santi tiba-tiba menyimpulkan sendiri. “See you.”

“Tunggu!” Aldo meraih pergelangan tangan Santi sebelum sempat berbalik dan menjauh. “Aku nyesel waktu itu ga berbalik lagi meski aku pengen banget…”

Santi melihat ke tangan Aldo yang memegangnya, lalu ke wajahnya.

“I’m sorry I didn’t turn around that day.” Aldo menambahkan. Nada suaranya pelan.

Perlahan Santi merasa dadanya sesak karena hatinya bergejolak. “I’m glad you didn’t do it.”

“Kenapa?”

“Because you’d see my heart broken.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: