Browse By

Short Story #245: Rasa Sakit

“Suster, tolong siapin beberapa perban dan juga obat merah ya buat pasien bapak….” Lena membuka tirai UGD lalu kehabisan kata-katanya saat ia menyadari seorang pria yang tengah berbaring di ranjang dengan beberapa perban dengan warna merah.

“Hai Len.” pria itu menyapa.

Lena sempat diam sejenak.

“Suster, tolong siapin juga catatan medis baru buat pasien.” Lena menambahkan yang langsung dituruti oleh suster jaga dan kemudian pergi.

“Jangan bilang kalo kamu abis touring, Chris.” Lena mulai memeriksa beberapa perban di bagian kaki dan tangan.

“Aku ga touring. Aku abis mudik.” Chris menjawab sambil membiarkan Lena memeriksa luka-lukanya.

“Trus kok bisa luka-luka begini? Emang ada kecelakaan di mana?”

“Ya.. aku pulang mudik naik motor, sih.”

Lena menghembuskan nafasnya sambil sedikit melepas paksa sebuah perban.

“Aduduh!” Chris mengaduh.

“Eh.. sori.” Lena meminta maaf yang langsung diikuti dengan memeriksa luka tersebut.

“Kamu bisa lebih hati-hati ‘kan Chris kalo bawa motor. Ini kejadiannya kamu disenggol, jatuh ngantuk, atau gimana sih? Bahaya tau ga sih luka-luka begini. Bisa sakit banget kalo sampe salah perawatan. Untung langsung dibawa ke UGD.” Lena menceramahi Chris.

“Wew.. drastis juga ya perubahan dari juru rawat ke dokter.”

“Aku masih koas. Belum dokter penuh.” Lena memberitahu sambil kemudian menyuruh suster jaga untuk mulai memberikan obat luar ke luka-luka Chris.

“Oh… tapi ocehanmu panjang lebar tadi itu ngangenin juga ya ternyata.” Chris berkomentar.

Lena diam sejenak. Ia berusaha untuk profesional.

“Tahan dikit ya, bakal sakit dikit, nih.” Lena memberitahu Chris setelah ia melihat suster jaga menyiapkan obat luar dengan dosis agak banyak di luka yang cukup besar.

“Aku tahan rasa sakit, kok Len.” Chris merespon segera, yang selanjutnya dalam hati ia sesali karena ternyata tindakan suster jaga terhadap lukanya menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat – tapi ia hanya meringis.

Diam-diam, Lena tergelitik. Ia mendadak teringat betapa dulu Chris sulit sekali diobati tiap kali kedapatan mengalami beberapa luka luar setelah pulang touring. Dulu, saat mereka masih bersama.

“Kalo kamu tahan rasa sakit, harusnya kamu juga bisa tahan berhubungan sama aku.” Lena bergumam kecil.

Chris mendengar gumaman kecil Lena namun ia diam saja. Setidaknya, sampai suster jaga pergi sejenak untuk mengambil sesuatu meninggalkan ia dan Lena.

“I can stand any single pain. Really.” Chris memberitahu.

Lena tersentak. Ia kaget kenapa Chris bicara seperti itu. Apakah ia tadi mendengar gumamanku?

“Then why did you leave?”

“Because I couldn’t stand the one that cause it.”

2 thoughts on “Short Story #245: Rasa Sakit”

  1. Ceritaeka says:

    Ini tuh bisa dibilang flash fiction nggak sih, Bil?

  2. Billy says:

    @Eka: bisa. flash fiction itu versi superpendek dari cerpen.

    sayangnya, di luar negeri ga kenal istilah itu. jadi tetep disebutnya short story. (AFAIK & IMHO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: